Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perkuat Penyuluh Pertanian, Amran-Tito Terbitkan Surat Edaran Bersama
- Kemenekraf Dorong Daya Saing Produk Lokal Lewat Workshop Sinergi Desain
- ILeague Kecam Kekerasan Terhadap Persib U-18 di Rest Area Batang
- Persib Kecam Penyerangan Rombongan EPA U18
- Man United Vs Atletico Madrid, Waspada Tren Positif Tuan Rumah
Dari PP TUNAS hingga Kedaulatan AI
Langkah Strategis Komdigi Disorot Akademisi UI di Forum 100 Negara Dunia
Senin, 12 Oktober 2026 22:00 WIB
Sebelumnya
Devie juga menghubungkan pengalaman Komdigi dengan kerja lapangan yang dijalankannya melalui Klinik Digital, yang selama lima tahun terakhir, terus mengembangkan dan mengadaptasi buku serta modul literasi digital ke dalam sedikitnya sepuluh bahasa daerah Indonesia. Pengalaman tersebut menunjukkan, bahwa pendidikan digital tidak cukup hanya menyediakan informasi.
Pesan juga harus dapat dipahami sesuai konteks bahasa dan budaya masyarakat. Sebagai contoh, kesalahan penerjemahan satu kata dalam pesan keamanan dapat mengubah peringatan menjadi instruksi yang berbahaya.
“Bayangkan kalimat ‘Jangan bagikan kode OTP Anda.’ Jika kata ‘jangan’ hilang dalam proses penerjemahan, pesan perlindungan berubah menjadi perintah yang justru membahayakan masyarakat,” jelasnya.
“Bahasa daerah bukan sekadar warisan budaya yang perlu disimpan. Bahasa juga merupakan pintu masuk agar masyarakat dapat memahami pengetahuan, mengakses layanan, dan ikut menentukan masa depan teknologi,” katanya lagi.
Baca juga : Akademisi UI Apresiasi Respons Ditlantas Polda Metro Jaya
Selain perlindungan masyarakat, Devie menilai, langkah diplomasi teknologi Indonesia juga penting untuk diperkuat, sebagaimana gagasan Komdigi yang didorong Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, mengenai pemanfaatan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok teknologi global, termasuk kekayaan mineral kritis, untuk membuka peluang akses komputasi, pengembangan talenta, transfer teknologi, dan kemitraan industri.
“Pertanyaan kita bukan tentang Indonesia tidak boleh berhenti pada AI apa yang bisa kita beli, melainkan juga harus bertanya mengenai pengetahuan apa yang bisa kita bangun, kemampuan apa yang bisa kita kuasai, dan nilai strategis apa yang bisa kita tawarkan kepada dunia?" jelas Devie.
Karena itu, lanjutnya, keterlibatan Indonesia dalam jejaring kerja sama AI internasional, termasuk peluang yang dibahas dalam konteks World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), perlu diarahkan pada manfaat yang terukur bagi penelitian, industri, pendidikan, dan masyarakat.
Devie juga menekankan pentingnya kerangka Peta Jalan AI Nasional dan Etika AI untuk mempertemukan agenda investasi, inovasi, keamanan, pendidikan, dan perlindungan publik dalam arah pembangunan yang konsisten.
Baca juga : Di Forum Digital Dunia, Akademisi UI Soroti Arah Baru Polri Lindungi Rakyat
“Kita sudah memiliki banyak lembaga dan inisiatif yang bergerak. Tantangannya sekarang, adalah memastikan semuanya dapat saling menguatkan dalam arah yang jelas. Kedaulatan digital bukan berarti menutup diri dari dunia, melainkan memiliki kemampuan untuk bekerja sama tanpa kehilangan kebebasan menentukan pilihan,” jelasnya.
Bagi Devie, masa depan AI harus dinilai melalui keseimbangan antara kemampuan teknologi dan kesejahteraan manusia, yang dirangkum dalam prinsip 4C (Context × Community × Capability × Care = Meaningful AI). Konteks memastikan teknologi memahami kebutuhan nyata. Komunitas menghadirkan partisipasi. Kapabilitas memungkinkan masyarakat menggunakan teknologi. Sementara kepedulian memastikan inovasi tidak meninggalkan kelompok yang paling membutuhkan perlindungan.
Perspektif mengenai pentingnya transformasi digital yang inklusif juga mendapat perhatian dari peserta forum GDF II dari Indonesia. Randy Mulyanto, Founder & CEO RadVoice Indonesia, menilai, bahwa kemajuan kebijakan digital perlu berjalan beriringan dengan komunikasi publik yang mampu membangun pemahaman dan kepercayaan masyarakat.
Menurutnya, langkah Komdigi dalam memperkuat perlindungan anak, literasi digital, dan tata kelola teknologi memberikan landasan penting bagi komunikasi yang tidak hanya memperkenalkan inovasi, tetapi juga menjelaskan manfaat serta tanggung jawab di baliknya.
Baca juga : Komisi I Dukung Pembatasan Akses Medsos Bagi Anak-anak
Sementara Indira Rizky Azzahra dari eCloudvalley Digital Technology, menyoroti pentingnya memperkuat kesiapan ekosistem teknologi Indonesia agar perkembangan AI tidak berhenti pada adopsi aplikasi, melainkan turut menghasilkan peningkatan kemampuan nasional. Menurutnya, pengembangan talenta, infrastruktur komputasi, keamanan data, dan kolaborasi antara pemerintah dengan industri menjadi faktor penting dalam memastikan manfaat AI dapat dirasakan lebih luas.
Bagi Devie, kehadiran berbagai perwakilan Indonesia di forum yang mempertemukan peserta dari lebih dari 100 negara tersebut juga menunjukkan peluang untuk memperluas kerja sama internasional dan memperkenalkan pendekatan transformasi digital Indonesia yang berpusat pada manusia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya