Dark/Light Mode

Energi Nuklir Disinggung

PM Singapura Soal Pengurangan Pasokan Gas RI: Semua Pihak Harus Penuhi Komitmen

Minggu, 25 Oktober 2026 20:07 WIB
PM Singapura Lawrence Wong dalam Konvensi People’s Action Party/PAP 2026 di Singapura, Minggu (25/10/2026). (Foto: YouTube Lawrence Wong)
PM Singapura Lawrence Wong dalam Konvensi People’s Action Party/PAP 2026 di Singapura, Minggu (25/10/2026). (Foto: YouTube Lawrence Wong)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong menanggapi pengurangan pasokan gas alam dari Indonesia yang berlaku mulai Sabtu (24/10/2026). Wong menegaskan, pasokan gas tersebut diatur dalam kontrak komersial yang mengikat para pihak.

Sebelumnya, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengumumkan pada Jumat (23/10/2026) malam bahwa Indonesia mulai mengurangi ekspor gas ke Singapura pada Sabtu (24/10/2026). Pengurangan tersebut meliputi pasokan dari Natuna sebesar 15 BBUTD dan dari Sumatra sebesar 16 BBUTD.

"Kami berharap semua pihak memenuhi komitmen mereka. Importir gas Singapura akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya berdasarkan kontrak-kontrak tersebut," kata Wong dalam Konvensi People’s Action Party/PAP 2026 di Singapura, Minggu (25/10/2026), seperti terpantau dalam kanal YouTube pribadinya.

Wong menuturkan, Singapura telah mengantisipasi risiko gangguan pasokan energi dengan berinvestasi pada terminal gas alam cair (LNG). Infrastruktur tersebut memungkinkan Singapura mengimpor gas alam dari berbagai negara, tanpa bergantung pada jaringan pipa.

Baca juga : Gandung Apresiasi Langkah Menperin Kawal Pasokan Gas untuk Industri

"Dengan demikian, kami memiliki lebih banyak pilihan untuk mengatasi gangguan pasokan gas," ujarnya.

Menurut Wong, Singapura juga perlu melihat sumber energi di luar gas alam. Negara tersebut membutuhkan sumber energi yang lebih bersih untuk memastikan pasokan listrik tetap andal sepanjang waktu. "Itulah sebabnya kami serius mengkaji potensi energi nuklir," tuturnya.

Wong mengakui adanya kekhawatiran mengenai keamanan tenaga nuklir di negara kecil dengan kepadatan penduduk tinggi seperti Singapura. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah menanggapi kekhawatiran tersebut dengan serius dan menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama.

"Kami menanggapi kekhawatiran tersebut dengan sangat serius. Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Namun, kita tidak boleh mengesampingkan suatu pilihan hanya karena sulit atau kontroversial," ujarnya.

Baca juga : SKK Migas Umumkan Pengurangan Ekspor Gas ke Singapura

"Kita harus mengkaji risiko dan kompromi yang harus dihadapi secara cermat, melibatkan masyarakat Singapura, dan pada akhirnya mengambil keputusan yang tepat demi menjamin masa depan energi kita," tandas Wong.

Tak Sampai 2 Persen

Sementara itu, Menteri Energi, Perdagangan, dan Industri (METI) Singapura Tan See Leng mengatakan, pengurangan pasokan gas dari Indonesia tidak akan berdampak signifikan terhadap harga listrik dalam jangka pendek. Pasalnya, volume pasokan yang terdampak tidak mencapai 2 persen dari total kebutuhan gas Singapura.

Menurutnya, Singapura perlu mencermati fluktuasi harga energi global, mengingat harga gas per unit umumnya mengacu pada pergerakan sejumlah indeks harga global utama.

"Saya ingin mengimbau seluruh warga Singapura untuk tetap tenang dan melanjutkan aktivitas seperti biasa. Kita telah menghadapi pengurangan pasokan seperti ini sebelumnya dengan lancar, tanpa insiden. Pemerintah akan terus memastikan keandalan dan ketahanan pasokan energi Singapura," paparnya, seperti dikutip The Straits Times, Minggu (25/10/2026).

Baca juga : Singapura Bantah Recoki Bursa Saham Indonesia

Dalam beberapa bulan terakhir, Singapura juga mengalami pengurangan pasokan gas berkisar antara 20 BBUTD hingga 100 BBUTD akibat pemeliharaan terencana maupun mendesak. Otoritas Pasar Energi Singapura (Energy Market Authority/EMA) menyatakan, kekurangan pasokan tersebut dapat digantikan dengan pasokan gas dari sumber lain, tanpa kendala.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.