Dark/Light Mode

Qatar: Solusi 2 Negara untuk Palestina

Kamis, 3 September 2020 19:48 WIB
Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani menerima kunjungan Penasihat Gedung Putih, Jared Kushner. [Foto: QNA / Handout via Reuters]
Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani menerima kunjungan Penasihat Gedung Putih, Jared Kushner. [Foto: QNA / Handout via Reuters]

RM.id  Rakyat Merdeka - Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani mengatakan, negaranya mendukung solusi dua negara, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina. Ini adalah solusi mengakhiri konflik dengan Israel.

Hal ini, seperti dikutip kantor berita Al Jazeera, disampaikan Sheikh Tamim kepada penasihat Gedung Putih, Jared Kushner saat bertemu dengan penasihat senior dan menantu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump itu di Doha pada hari Rabu (2/9/2020) waktu setempat.

Dia juga menegaskan, Qatar tetap berkomitmen pada Prakarsa Perdamaian Arab 2002, di mana negara-negara Arab menawarkan hubungan normalisasi Israel. Hal itu akan diwujudkan bila adanya kesepakatan berdirinya negara Palestina, dan penarikan penuh Israel dari wilayah yang mereka rebut dalam Perang Timur Tengah 1967.

Berita Terkait : 2 Tewas, Helikopter AS Serang Pos Pemeriksaan Tentara Suriah

Setelah kesepakatan UEA-Israel, Kushner mendorong negara-negara Arab lainnya agar bisa berdamai dengan Israel. "Dalam pertemuan tersebut, keduanya meninjau hubungan strategis yang erat antara Qatar dan Amerika Serikat, selain membahas sejumlah isu yang menjadi perhatian bersama, terutama proses perdamaian di kawasan Timur Tengah," kutip kantor berita resmi Qatar, Qatar News Agency.

Kushner mengunjungi UEA pekan ini dengan delegasi Israel, untuk pembicaraan normalisasi sebelum juga melakukan perjalanan ke Bahrain dan Arab Saudi. UEA adalah negara Arab ketiga yang mencapai kesepakatan dengan Israel setelah Mesir dan Yordania. Kushner berharap, negara Arab lain akan menormalkan hubungan dalam beberapa bulan.

Israel telah membuka kantor kedutaan besarnya dengan Mesir dan Yordania, di bawah kesepakatan damai beberapa dekade yang lalu. Namun semua negara Arab lainnya masih enggan melakukan hal yang sama, akrena tetap menuntut Israel menyerahkan lebih banyak wilayah kepada Palestina. Keputusan UEA yang membuka hubungan diplomatik dengan Israel, memicu kritik dari para pemangku kepentingan di seluruh wilayah Arab.

Baca Juga : Lewat Mastercard Academy 2.0, Kemenkop Perkuat Layanan Digital 40 Ribu UMKM

Bahkan, warga Palestina sendiri mengutuk kesepakatan itu, karena menilainya sebagai tusukan dari pemain utama Arab, di saat banyaknya wilayah Palestina yang masih dikuasai Israel.

Penentangan keras juga dilakukan Turki, yang mengancam akan membekukan hubungan diplomatiknya dengan UEA, setelah UEA membuka hubungan diplomatiknya dengan Israel.

Selain itu, Iran, turut mengeluarkan kritik pedasnya. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei Selasa (1/9/2020) bahkan mengeluarkan pernyataan, "UEA telah mengkhianati dunia Islam, negara-negara Arab, negara-negara tetangga, dan Palestina". [DAY]