Dark/Light Mode

Perang Lawan Covid-19

Di Sini 3M, Di Jepang 3C

Jumat, 6 November 2020 06:57 WIB
dr. Adam Prabata, Kandidat Ph.D di Fakultas Kedokteran Universitas Kobe, Jepang (Foto: Tangkapan layar)
dr. Adam Prabata, Kandidat Ph.D di Fakultas Kedokteran Universitas Kobe, Jepang (Foto: Tangkapan layar)

 Sebelumnya 
Adam menduga, PSBB dan protokol kesehatan sudah ada efeknya di Indonesia. Tapi, kapasitas pemeriksaan yang diperkirakan belum cukup, membuat efek itu kurang terlihat. “Makanya, kesannya masih naik-naik terus,” jelasnya.

Baca juga : Ayo Kita Jadi Masyarakat Tangguh Bencana

Soal vaksin, kata Adam, Jepang agak telat dibandingkan China. Penyebabnya, karena desain vaksinnya. China, lewat produsen Sinopharm dan Sinovac, mengandalkan vaksin berbasis virus yang dimatikan atau inactivated viruses, sehingga proses penyediaannya lebih cepat.

Baca juga : Cegah Klaster Keluarga, Ikuti Protokol Kesehatan dengan Maksimal

Sementara Jepang, vaksinnya condong berbasis protein recombinant. Desain vaksin semacam ini juga dianut Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Indonesia, yang mengembangkan vaksin Merah Putih. Proses penyediaannya membutuhkan waktu lebih lama. [SAR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.