Dark/Light Mode

KTT G20 Digelar Virtual

Saudi Kecewa Gagal Pamerin Modernisasi

Senin, 23 Nopember 2020 06:23 WIB
Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al Saud menyampaikan pernyataan pembukaan KTT G20-nya saat konferensi video untuk membahas krisis virus corona (Covid-19), Riyadh, Arab Saudi, 26 Maret 2020. (DPA).
Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al Saud menyampaikan pernyataan pembukaan KTT G20-nya saat konferensi video untuk membahas krisis virus corona (Covid-19), Riyadh, Arab Saudi, 26 Maret 2020. (DPA).

RM.id  Rakyat Merdeka - Menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di akhir pekan lalu, sejatinya akan dimanfaatkan Arab Saudi untuk memamerkan citra barunya sebagai negara terbuka. Namun apa daya, takdir Tuhan berkata lain. Rencana yang sudah dipersiapkan gagal total.

Pandemi Covid-19 membuat semua event berlangsung secara virtual, termasuk perhelatan yang dihadiri para pemimpin kelompok negara 20 ekonomi terbesar dunia atau G20.

Akibatnya, reformasi yang dilakukan Saudi tak bisa disaksikan langsung pemimpin negara maupun jurnalis. Media center yang mewah tampak melompong. Hanya diisi 25 persen dari kapasitasnya.

Para jurnalis mengenakan masker, menjaga jarak dan menjalani pemeriksaan suhu tubuh di depan pintu masuk Hotel Crown Plaza, Riyadh, lokasi KTT.

Lokasi acara yang rencananya diisi dengan berbagai kelebihan Saudi dari sektor pariwisata dan investasi, terlihat melompong. Demi menarik perhatian investor asing dan wisatawan mancanegara, Saudi melakukan perombakan kebijakan sejak tahun lalu.

Berita Terkait : Teridentifikasi Kontak Dengan Pasien Covid, Bos WHO Langsung Isolasi Mandiri

Di bawah tangan Putra Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman (MBS), Saudi disulap menjadi lebih terbuka dan tidak kaku. Warga perempuan di Saudi sudah diizinkan mengemudi mobil tanpa pengawasan wali. Bioskop pun sudah dibuka.

Bahkan, kebijakan berkumpulnya pria dan wanita di tempat umum juga sudah dilonggarkan. Harapannya, Saudi bisa mendapat decakan kagum dari para pemimpin dunia, perwakilan asing dan jurnalis asing yang datang.

Sayang, harapan itu jauh dari kenyataan. “Ini kehendak Tuhan. Seharusnya di kesempatan ini (G20) lebih banyak orang melihat kami sudah lebih terbuka,” ujar Menteri Luar Negeri Saudi Adel alJubeir dikutip Reuters, kemarin.

“Keputusan kami melakukan modernisasi sudah tepat. Hanya saja, kami belum bisa menunjukkan ke banyak pihak,” sambungnya. Saudi adalah negara Arab pertama yang menjadi tuan rumah G20.

Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud mengungkapkan rasa bahagianya menjadi tuan rumah pertemuan virtual yang digelar selama akhir pekan ini.

Baca Juga : JK Kalem

Dalam cuitan, Sabtu (21/11), Raja Salman menegaskan, negara G20 menunjukkan kekuatan dan kemampuan untuk bergabung dalam upaya mengurangi dampak pandemi Virus Corona di seluruh dunia.

“Tanggung jawab kami, dan akan tetap, adalah bergerak menuju masa depan yang lebih baik, sehat dan sejahtera untuk semua,” ujarnya.

Terpisah, dalam surat yang diterima media AFP, negaranegara G20 diminta membantu menutup kekurangan 4,5 miliar dolar AS atau Rp 63,8 triliun program pengadaan vaksin global yang dipimpin Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).

Surat itu diteken Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

“Komitmen para pemimpin G20 dalam KTT di Riyadh sebagai investasi penting dalam mendukung langsung Access to COVID-19 Tools/ACT-Accelerator sebesar 4,5 miliar dolar AS,” isi surat yang ditujukan kepada Raja Salman selaku Presiden G20.

Baca Juga : Jalan Berbayar Dan Ganjil Genap Makin Nggak Jelas

Surat itu menyebut, dana ini dapat menyelamatkan nyawa, meletakkan dasar untuk pengadaan dan pengiriman peralatan Covid-19 massal di seluruh dunia serta menyediakan strategi jalan keluar dari krisis ekonomi dan kemanusiaan global.

Dengan pembiayaan ini serta komitmen bersama menggunakan stimulus untuk peralatan Covid-19 yang dibutuhkan secara global, G20 diharapkan akan membangun fondasi untuk mengakhiri pandemi.

ACT-Accelerator merupakan inisiatif yang dipimpin WHO untuk mendukung pemerataan vaksin, diagnostik dan perawatan akibat Covid-19 secara global. [DAY]