Dark/Light Mode

Pelaku Tabrak Lari Santri Paiton Di Shaanxi Beri Santunan Rp 1,8 Miliar

Sabtu, 23 Januari 2021 19:42 WIB
Kompleks pemakaman Islam Kota Xianyang, Provinsi Shaanxi, China, tempat makam santri Paiton, Muhammad Rendra Sampurna. [Foto: Atdikbud KBRI Beijing]
Kompleks pemakaman Islam Kota Xianyang, Provinsi Shaanxi, China, tempat makam santri Paiton, Muhammad Rendra Sampurna. [Foto: Atdikbud KBRI Beijing]

RM.id  Rakyat Merdeka - Pelaku tabrak lari di Kota Xianyang, Provinsi Shaanxi, China, hingga menewaskan seorang santri asal Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, telah memberikan santunan kepada keluarga korban senilai 132.928 dolar AS atau sekitar Rp 1,86 miliar.

"Santunan ditransfer langsung ke rekening orang tua korban di Paiton, tanpa ada potongan apapun," kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Kedutaan Besar RI di Beijing, Yaya Sutarya, Sabtu (23/1).

Selain santunan dari pelaku, keluarga korban masih akan mendapatkan asuransi jiwa yang nilainya sekitar Rp 200 juta dan biaya pengembalian SPP dari pihak Shaanxi Polytechnic Institute, Xianyang, tempat korban, Muhammad Rendra Sampurna Wijayadi (21), menempuh pendidikan S1 Teknik Elektronik.

"Kalau asuransi sudah cair, Bapak akan kami kontak lagi untuk pengirimannya," kata Yaya saat menelepon Hatim, ayah korban, yang tinggal di Paiton.

Berita Terkait : Sriwijaya Air Beri Santunan Rp 1,25 Miliar Untuk Keluarga Korban SJ 182

Sebelumnya, Atdikbud dan staf Protokol dan Kekonsuleran KBRI Beijing telah menemui keluarga pelaku, pihak kepolisian, pihak kampus, dan mahasiswa Indonesia lainnya di kota itu.

Atas nama keluarga korban, Yaya sudah menerima permintaan maaf dari orang tua pelaku. "Kami telah bertemu para pihak tersebut di kepolisian Xianyang. Permintaan maaf sudah kami terima. Namun kami tetap menyerahkan sepenuhnya proses hukum yang sudah berjalan," ujarnya mendampingi Koordinator Fungsi Protokol dan Kekonsuleran KBRI Beijing, Victor Harjono.

Selain bertemu dengan para pihak, Yaya juga mendatangi pengurus masjid di Xianyang yang telah memberikan lahan untuk pemakamakan Rendra pada 7 Januari lalu.

Sementara itu, Hatim dalam percakapan telepon dengan Atdikbud itu menyatakan, akan menggunakan sebagian uang santunan tersebut untuk membangun musala di lingkungan sekitar PP Mambaul Ulum, Paiton, tempat Rendra menimba ilmu agama sebelum melanjutkan pendidikan sarjananya di wilayah barat China itu.

Baca Juga : Melalui Program Inkubator Wirausaha, LPDB Bina 10 Startup

"Saya sudah berembuk sama istri. Rencana mau dibuatkan musala di pondoknya Rendra," tutur Hatim, yang dalam telepon itu didampingi ibunda korban, Ismaimunah.

Seperti diberitakan ANTARA, Rendra meninggal dunia di Rumah Sakit Kota Xianyang pada 5 Januri 2021 setelah ditabrak kendaraan roda empat yang melaju tak terkendali pada 30 Desember 2020 dini hari.

Sementara rekan korban yang sama-sama dari Paiton dan sekampus di Xianyang, Faiq Iqbal Ainun, mengalami luka ringan dalam kecelakaan yang terjadi di sekitar lingkungan kampus mereka itu.

Pelaku sempat melarikan diri, meski akhirnya menyerahkan diri kepada pihak kepolisian pada 1 Januari.

Baca Juga : Agar Tak Kesulitan Hadapi Pandemi Di Masa Depan, Saatnya Bangun Sistem Kesehatan Yang Oke

Kasus kematian warga negara asing di Kota Xianyang merupakan yang pertama kali dalam 40 tahun terakhir. Karena rumitnya proses pengiriman jenazah dari Xianyang ke Paiton di tengah pandemi, akhirnya pihak keluarga mengikhlaskan korban dimakamkan secara Islami di Xianyang.

Pengurus masjid di Xianyang bersedia memberikan lahan pemakamannya, karena juga mengenali korban yang rajin beribadah di masjid tersebut. [RSM]