Dark/Light Mode

Tari Saman Pukau UNESCO International Dance Day Wellington

Minggu, 2 Mei 2021 16:23 WIB
Penampilan penari Caraka Seni Wellington saat menampilkan Tari Saman dari Aceh, mengundang decak kagum lebih dari 500 penonton yang memenuhi Te Marae, Te Papa Museum, Wellington, Selandia Baru di festival tari tahunan yang diadakan UNESCO, Minggu petang (2/5). [Foto: KBRI Wellington]
Penampilan penari Caraka Seni Wellington saat menampilkan Tari Saman dari Aceh, mengundang decak kagum lebih dari 500 penonton yang memenuhi Te Marae, Te Papa Museum, Wellington, Selandia Baru di festival tari tahunan yang diadakan UNESCO, Minggu petang (2/5). [Foto: KBRI Wellington]

RM.id  Rakyat Merdeka - Penampilan 15 penari Caraka Seni Wellington berhasil memukau festival tari tahunan yang diadakan UNESCO, Minggu petang (2/5). Tari Saman dari Aceh yang dibawakan sore ini mengundang decak kagum lebih dari 500 penonton yang memenuhi Te Marae, Te Papa Museum, Wellington.

Gemuruh tepuk tangan dan sorakan gembira menemani pertunjukan tersebut. Berbagai tari dalam berbagai style dari berbagai negara ditampilkan di festival ini. Penonton benar-benar disuguhi pertunjukan menarik.

Baca Juga : Ramadan Bahagia, Jufi Berbagi Paket Pangan Lebaran Plus Takjil

"Kita sebagai orang Indonesia sore ini benar-benar dibuat bangga oleh Caraka Seni. Mereka tampil begitu rapi dan dinamis," ujar Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, yang hadir bersama isteri dan warga Indonesia yang hadir memberikan dukungan.

"KBRI merasa sangat terbantu dengan kehadiran sanggar-sanggar tari dan grup gamelan seperti Caraka Seni, Padang Moncar dan kelompok lainnya dalam mendorong diplomasi budaya di Selandia Baru," lanjut Tantowi.

Baca Juga : Mentan Sebut Kabupaten Morowali Berpotensi Kembangkan Sikomandan

Festival ini sendiri sudah berusia 21 tahun dan selalu diikuti oleh banyak grup tari, baik yg mewakili sanggar maupun negara. "Ini adalah festival yang bergengsi dan Caraka Seni terhormat diundang untuk tampil," ujar pimpinan Caraka Seni, Satya Priuomarsono dan Alia Krismon.

UNESCO International Dance Day tahun ini menjadi istimewa karena tahun lalu tidak bisa terselenggara karena Covid-19. Karenanya animo dan perhatian masyarakat kali ini begitu besar. Ruang pertunjukan padat dipenuhi penonton dan sebagiannya terpaksa berdiri. [DAY]