Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kontraksi Di Atas Pesawat Evakuasi AS

Pengungsi Afghanistan Langsung Melahirkan Begitu Mendarat Di Jerman

Minggu, 22 Agustus 2021 11:54 WIB
Personel militer AS bersiaga mengawal proses kelahiran wanita pengungsi Afghanistan di Pangkalan Udara Ramstein, Jerman, Sabtu (21/8). (Twitter/US Air Mobility Command)
Personel militer AS bersiaga mengawal proses kelahiran wanita pengungsi Afghanistan di Pangkalan Udara Ramstein, Jerman, Sabtu (21/8). (Twitter/US Air Mobility Command)

RM.id  Rakyat Merdeka - Seorang wanita Afghanistan melahirkan bayi perempuan, tak lama setelah pesawat militer C-17 milik AS yang mengangkut rombongan evakuasi dari Kabul, mendarat di Pangkalan Udara Ramstein, Jerman, Sabtu (21/8).

Lewat cuitan Twitter-nya, US Air Mobility Command mengungkap, wanita tersebut mulai merasakan kontraksi ketika pesawat berada di atas ketinggian 28 ribu kaki (8.534 meter). Ketika itu, tekanan udara dalam pesawat menjadi lebih rendah.

"Komandan memutuskan turun dari ketinggian, untuk meningkatkan tekanan udara di dalam pesawat. Supaya bisa membantu menstabilkan dan menyelamatkan nyawa wanita itu," demikian bunyi pernyataan tersebut.

Begitu pesawat mendarat di Pangkalan Ramstein, personel Air Force's 86th Medical Group sigap membantu proses persalinan di ruang kargo C-17.

Berita Terkait : Pemerintah Evakuasi 26 WNI, 5 WN Filipina Dan 2 WN Afghanistan Dengan Pesawat TNI AU

Ibu dan anak yang berada dalam kondisi baik, kemudian dibawa ke fasilitas medis terdekat.

Titik Transit Utama

Pangkalan Udara Ramstein kini menjadi titik transit utama bagi para pengungsi Afghanistan, yang berbondong-bondong meninggalkan negaranya, pasca Taliban menguasai Kabul pada Minggu (15/8).

Dalam keterangan persnya di Pentagon pada Sabtu (21/8), Jenderal Hank Taylor mengatakan, C-17 mengalihkan pengungsi dari pangkalan udara di Qatar ke Jerman, untuk mengurangi jumlah massa di Pangkalan Qatar.

Berita Terkait : Tragis, Atlet Sepakbola Junior Afghanistan Tewas Jatuh Dari Pesawat C-17 AS

Penerbangan yang datang dari Kabul, kini langsung dihentikan.

Untuk diketahui, pada Jumat (20/8), penerbangan evakuasi militer AS dari Kabul sempat dihentikan sementara selama 8 jam, karena staging area di pangkalan militer AS di wilayah Qatar sudah penuh.

Brigardir Jenderal Josh Olson mengatakan, pangkalan Ramstein memiliki kapasitas untuk 5.000 orang. Namun, saat ini sedang dibangun fasilitas tambahan yang dapat menampung 7.500 orang. 

Pengungsi hanya diizinkan tinggal antara 48 dan 72 jam di pangkalan. "Perjanjian AS dengan Jerman menyatakan, mereka tidak boleh tinggal lebih dari 10 hari," ujar Olson kepada CNN,Sabtu (21/8).

Berita Terkait : Tak Ingin Afghanistan Jadi Medan Konflik, Taliban Tegaskan Permusuhan Telah Berakhir

Rekor Evakuasi C-17

Sejak akhir Juli, pemerintah AS telah mengevakuasi 22 ribu orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 17 ribu orang telah dievakuasi, mulai 14 Agustus.

Angkatan Udara AS mengatakan, salah satu penerbangan C-17 dari Afghanistan telah memecahkan rekor jumlah orang yang pernah dibawa ke dalam pesawat.

"Penerbangan pada 15 Agustus yang semula disebut membawa 640 orang, sebenarnya mengangkut 823 penumpang. Penghitungan itu tidak menyertakan 183 anak-anak di dalam pesawat. Padahal, mereka termasuk,"  cuit AS Air Mobility Command. [HES]