Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Ketika Abu Bakar al-Shiddiq dibaiat menjadi khalifah pengganti Nabi Muhammad SAW, ia menyampaikan pidato pembaiatan mengatakan: “Aku telah menjadi pemimpin kalian tetapi bukanlah aku yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik maka bantulah aku, tetapi jika aku melakukan kesalahan maka luruskan dan nasehatilah aku”. Peristiwa lain Ketika Umar bin Khattab menjadi pemimpin lalu ada seorang yang berkata kepadanya: Bertakwalah kamu wahai amirul mukminin kepada Allah, seketika itu ada sahabat mengatakan kepada orang tersebut: Beraninya kamu mengatakan hal itu kepada amirul mukminin.
Umar bin Khattab mengatakan kepadanya: Biarkan saja ia mengatakan apa yang ia mau. Lalu Umar pun mengatakan kepada semuanya: “Tidak ada kebaikan yang kamu miliki jika ada sesuatu tetapi engkau tidak mengatakannya, dan tidak ada kebaikan yang kami miliki jika kami tidak mau mendengar apa yang kalian katakana”.
Baca juga : Mengukur Tanggung Jawab Pemimpin
Menasehati pejabat dengan maksud luhur sesuatu yang dianjurkan Rasulullah SAW. Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah ridha tiga hal untukmu, dan murka tiga hal untukmu. Allah redha untukmu untuk menyembahnya dan tidak mensekutukan-Nya, berpegang teguh kepada tali-Nya dan tidak bercerai-berai, dan engkau memberikan nasehat kepada siapa yang telah Allah amanahkan suatu tugas untuk urusanmu, dan Allah murka padamu dari perkataan ini dan itu, membuang harta, dan banyak bertanya/meminta.” (HR Baihaqi, Syuabu al-Iman, Jilid 6. halaman, 59).
Dalam hadis lain diriwayatkan oleh Al-Nu’man bin Basyir memberitakan, Nabi bersabda: “Tiga hal dimana hati seorang Muslim tidak dengki, ikhlas beramal karena Allah, menasehati para penguasa, dan senantiasa bersama orang-orang muslim. Sesungguhnya ajakan atau dakwah mereka meliputi di belakang mereka”. Riwayat lain memberitakan Nabi bersabda melalui Riwayat Tami Addari, yang mengatakan: “Sesungguhnya agama itu adalah nasehat, sesungguhnya agama itu adalah nasehat, sesungguhnya agama itu adalah nasehat”.
Baca juga : Menghargai Kelompok Minoritas
Lalu ada yang bertanya: “Untuk siapa wahai baginda Nabi. Nabi mengatakan: “Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk rasul-Nya, untuk para ulama/pemimpin orang-orang mukmin, dan untuk semuanya”. Ia berkata: Perkataan hak yang diucapkan kepada seorang penguasa yang curang. Dalam hadis lain dijelaskan, telah datang seorang lelaki kepada Nabi lalu bertanya kepadanya: Manakah jihad yang paling baik? Nabi berkata: Perkataan hak yang ditujukan kepada seorang penguasa yang curang/zalim. (HR Ahmad, al-Musnad, Jilid 4, halaman. 314).
Berdasar pada hadis-hadis tersebut di atas, Allah redha terhadap hamba-Nya dengan tiga hal, 1) Allah ridha dengan hanya menyembah kepada-Nya dan tidak mensekutukan-Nya, 2) berpegang teguh kepada aturan-aturan-Nya dan tidak meremehkan atau mengabaikannya, 3) senantiasa memberikan nasehat kepada para pemimpin yang diberikan amanah untuk menangani urusan manusia. Sebaliknya Allah murka terhadap tiga hal, 1) perkataan yang tidak jelas kebenarannya sehingga menimbulkan prasangka yang tidak-tidak seperti menggunjing, hasud, iri hati, dan dengki, 2) membuang harta dengan hura-hura dan mubazir karena tidak mendatangkan manfaat, 3) serta banyak bertanya atau meminta dengan tidak mau berusaha dan bekerja.
Baca juga : Mengelola Fitnah Dengan Baik (2)
Menurut Ibn Hazm, jihad yang paling baik adalah nasehat yang disampaikan kepada pemimpin yang zalim. Ia mengatakan, seorang pemimpin memang wajib ditaati selama ia memimpin dengan berpijak kepada nilai-nilai kepatutan yakni al-Qur’an dan hadis. Akan tetapi jika ia melenceng dari nilai-nilai kepatutan dan itu tidak mungkin dapat dicegah kecuali diberhentikan maka ia pun harus diberhentikan dan diganti dengan pemimpin yang lain. Semua itu dilakukan karena pada prinsipnya seorang pemimpin dalam Islam bukanlah manusia yang terpelihara dari kesalahan (ma’sum) tetapi ia adalah manusia biasa sehingga ia pun tidak luput dari kesalahan dan tanggung jawab. Dengan demikian, seorang pemimpin dari berbagai level tidak boleh anti keritik.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Sabtu, 21 September 2024 dengan judul "Pejabat Tidak Boleh Anti Kritik"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.