Dark/Light Mode

Mengelola Fitnah Dengan Baik (2)

Rabu, 18 September 2024 06:10 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Nabi Muhammad SAW juga tidak luput dari fitnah keji. Ketika ‘Aisyah menyertai Nabi di dalam sebuah peperangan, ‘Aisyah menaiki pelana unta yang tertutup yang dirancang khusus agar tidak kena debu dan sinar matahari.

Menjelang perang usai, ‘Aisyah ke belakang membuang hajat, lalu kembali ke dalam pelana. Namun, ‘Aisyah sadar kalau perhiasannya ketinggalan di tempat buang hajat, sehingga ia turun dari untanya tanpa sepengetahuan pengawalnya untuk mengambil kembali perhiasannya yang tertinggal. Alangkah kagetnya, setelah kembali, rombongan pasukan sudah pergi dan ‘Aisyah tinggal sendirian di lokasi perang.

Baca juga : Mengelola Fitnah Dengan Baik (1)

Untung ada seorang prajurit bernama Safwan bin Muattal al-Sulami, yang ditugasi menyisir lokasi kalau ada sesuatu yang tertinggal. Muattal mengajak ‘Aisyah menaiki untanya dan dia sendiri yang mengawalnya menuju kota Madinah.

Di tengah jalan, ia ditemukan oleh seorang tokoh munafik bernama Abdullah bin Ubai bin Abi Salul. Tokoh inilah yang membuat fitnah besar kemana-mana bahwa ‘Aisyah sedang berbuat tidak pantas dengan seorang prajurit.

Baca juga : Mengapresiasi Kebebasan Beragama

Nabi sangat terpukul dengan isu ini dan membiarkan ‘Aisyah kembali ke rumah orang tuanya. Namun, Abu Bakar sang ayah ‘Aisyah juga mengingatkan jika benar tuduhan orang maka anda tidak boleh lagi kembali ke rumah ini.

Untung penyangkalan ‘Aisyah dikukuhkan dengan turunnya sembilan ayat, yaitu Q.S. Al-Nur/24:11-20. Diantaranya ialah: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya.Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata. Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.” (Q.S. Al-Nur/24:11-13).

Baca juga : Mencari Pemimpin Yang Mengapresiasi Perbedaan

Ayat-ayat itu membersihkan nama baik ‘Aisyah. Namun, sudah terlanjur sangat menghebohkan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.