Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Adri Arlan Sinaga
mahasiswa PhD School of Internasional Relations (SIR)
mahasiswa PhD School of Internasional Relations (SIR)
RM.id Rakyat Merdeka - Donald Trump kembali mendapatkan posisinya dalam pemerintahan Amerika Serikat (AS). Kemenangannya di Pemilihan Presiden (Pilpres) AS yang berlangsung pada 6 November 2024. Trump yang akan dilantik sebagai Presiden AS ke-47 pada 2025 nanti, menjadikan dirinya sebagai Presiden AS kedua setelah Grover Cleveland (1885-1889 & 1893-1897) yang menang dalam dua periode Pilpres berbeda (2017-2021 & 2025-2029).
Kemenangan telak Trump yang berpasangan dengan James David Vance atas rival Kamala Harris memang sudah bisa ditebak. Momentum angin perubahan terlihat setelah Trump mengalami percobaan pembunuhan pertama saat berkampanye di Pennsylvania. Padahal, saat kampanye berlangsung, popularitas Trump sempat turun akibat disibukkan dengan tuntutan hukum yang menderanya. Kesehatan kandidat presiden incumbent dari Demokrat, Joe Biden, yang semakin menurun ditunjukkan secara eksplisit dalam debat presiden membuat kursi kandidasi diserahkan kepada Wakil Presiden Kamala Harris. Strategi yang dilakukan Partai Demokrat ini tidak berhasil. Ada dua aspek yang bisa dianalisis terkait kemenangan Trump pada pilpres saat ini yaitu kampanye ekonomi dan isu keamanan.
Trump merupakan seorang pebisnis. Semua orang mengetahui hal ini. Namun di sisi lain, pendekatan Trump pada periode kedua dari kepresidenannya mungkin berbeda. Kepercayaan Trump pada sistem pasar bebas melandasi hal ini. Fenomena decoupling merupakan suatu hal yang menjadi salah satu agenda utamanya. Keinginan untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global adalah upaya untuk mengurangi inflasi dan stagnasi ekonomi yang terjadi di AS saat ini.
Baca juga : Penanganan & Antisipasi Bencana
Kebijakan berbau Make America Great Again (MAGA) digelorakan kembali. Suka tidak suka, hal ini cukup meyakinkan rakyat. Di sisi lain, endorsement dari beberapa pengusaha terkemuka seperti Elon Musk menjadi titik balik keadaan. Bisa dikatakan bahwa keberadaan Musk melalui bantuan algoritma sosial media X yang dimilikinya juga menjadi salah satu jawaban dari hal-hal sensitif seperti isu imigran yang menjadi kelemahan utama Trump.
Di sisi keamanan, posisi AS sedang di persimpangan. Konflik yang terjadi di Timur Tengah dan Ukraina adalah salah satu kunci dari strategi kampanye politik luar negeri Trump. Resolusi yang ditawarkan Trump sebetulnya sederhana. Dialog. Hal yang (ironisnya) sangat dihindari oleh Biden. Dalam setiap pidato kampanyenya, Trump senantiasa mengatakan bahwa era kepemimpinannya akan menjadi salah satu kunci perdamaian di dunia. Patut ditunggu, apakah Trump mampu menciptakan jalan keluar melalui dialog konstruktif dengan para pemimpin dunia seperti Benyamin Netanyahu dengan pemimpin Hamas atau Volodimir Zelensky dengan Vladimir Putin.
Pendekatan bantuan militer dan ekonomi dengan dalih membantu penyelesaian konflik adalah solusi destruktif yang dilakukan oleh Biden. Oleh karena itu, Trump bisa melakukan pendekatan berbeda dengan menyegerakan pemberhentian bantuan ekonomi dan militer kepada pihak yang berkonflik. Apalagi sudah banyak riset dan penelitian yang mengungkapkan bahwa bantuan-bantuan pada negara yang berkonflik sering kali tidak banyak membantu proses perdamaian.
Baca juga : Demokrat Kerahkan Satgas
Pada intinya, Trump akan melakukan dua hal yang menjadi langkah awal administrasinya nanti. Pertama, Summit diplomacy. Sebagai pemimpin negara adikuasa, Trump akan mampu menghadirkan elite-elite dunia dalam genggamannya. Konflik memang tidak bisa dihindari, namun diplomasi Trump dan struktur pemerintahan AS mampu memberikan tekanan dalam politik internasional dengan memaksa para elite untuk berdialog.
Meskipun terlambat tapi keberadaan Washington dalam tensi geopolitik Timur Tengah dan Ukraina saat ini menunjukkan adanya irasionalitas dalam politik luar negeri AS. Ketiadaan respons AS meskipun sebatas teguran bagi rezim Netanyahu di Israel sangat disayangkan. Begitu pun juga dalam konflik Ukraina yang memilih untuk memberikan bantuan yang tidak terukur bagi Kiev. Harus ada pendekatan dengan indikator yang jelas dalam menghadirkan resolusi konflik.
Trump yang dikenal memiliki kalkulasi bisnis yang baik memiliki keunggulan dengan mengedepankan pendekatan individu dengan pola “business as usual” atau pragmatisme. Periode pertama kepemimpinannya yang cenderung isolasionis bisa membantu AS untuk lebih fokus kepada pemulihan ekonomi domestik dalam decoupling pada beberapa sektor industri. Keunggulan industri domestik AS pada sektor ekonomi hijau, energi baru terbarukan, manufaktur cip atau teknologi AI nantinya akan berdampak pada berkurangnya pendanaan bagi negara yang berkonflik.
Baca juga : Kejagung Mulai Periksa Tom Lembong Sebagai Tersangka Di Kasus Impor Gula
Kedua, manajemen krisis (crisis management) dalam bentuk pendekatan personal adalah keunggulan Trump. Meskipun pendekatannya bisa dikatakan konservatif, namun Trump memiliki kecenderungan untuk melakukan bentuk komunikasi politik secara frontal. Periode pertamanya penuh dengan retorika kepada pemimpin yang berseberangan dengan Barat seperti Xi Jinping hingga Vladimir Putin, Trump tidak segan-segan memuji kedua tokoh ini. Dalam bahasa Mandarin pendekatan ini dinamakan guanxi. Guanxi merupakan istilah dalam budaya Tiongkok yang menunjukkan kemampuan seorang individu untuk menjaga hubungan yang harmonis dalam bisnis.
Meskipun karakternya tidak bisa ditebak, tapi setidaknya kemampuan komunikasi antarpersonal yang dimiliki Trump ini dibutuhkan untuk menegaskan posisi AS. Berbagai konflik yang terjadi di dunia ini memang tidak sepenuhnya mampu diselesaikan oleh Trump dan AS, dibutuhkan upaya kolektif global. Namun setidaknya pergantian rezim di Washington memberikan peluang untuk resolusi konflik baik yang bersifat temporer maupun tetap.
Adri Arlan
Mahasiswa PhD School of Internasional Relations (SIR) di University International of Business and Economics (UIBE), Beijing. Penerima beasiswa ASEAN-China Young Leaders Scholarship (ACYLS) tahun 2024 yang berprofesi sebagai akademisi dengan fokus penelitian ekonomi global dan geopolitik. Kontak email: [email protected]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya