Dark/Light Mode

Penanganan & Antisipasi Bencana

Rabu, 6 November 2024 00:16 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia sedang berduka. Sebanyak 10 orang meninggal dunia akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki, di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain itu, ada 31 orang yang mengalami luka berat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah melakukan respons cepat atas bencana ini. Berbagai bantuan sudah dikirim untuk para warga terdampak. Tenda pengungsian dan dapur umum juga sudah disediakan. Kita berharap, dengan langkah cepat ini, tidak ada lagi korban jiwa yang jatuh dalam bencana tersebut.

Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki ini mengingatkan kita bahwa Indonesia rawan bencana. Kita harus selalu siaga satu untuk menghadapi kemungkinan datangnya bencana. Sebab, negeri kita ini berada dalam ring of fire. Kita dikelilingi gunung berapi aktif, yang setiap saat berpotensi mengalami erupsi.

Baca juga : Sigap Sikapi Badai PHK

Selain Lewotobi Laki-Laki, masih banyak gunung berapi yang saat ini berstatus aktif. Jumlah totalnya ada 127. Di pekan ini, beberapa gunung juga mengalami erupsi, walaupun tidak besar. Seperti Gunung Semeru di Jawa Tengah, Gunung Marapi di Sumatera Utara.

Sebagian wilayah kita juga sangat rawan dengan gempa bumi. Bahkan ada potensi Megathrust, walaupun belum bisa diprediksi dengan tepat kapan waktunya. Untuk gempa ringan, hampir setiap pekan, terdapat laporan.

Untuk itu, kita sebagai bangsa, khususnya para pemangku negara, harus menata penanganan bencana dengan baik. Caranya bukan hanya early warning system bencana, tapi juga selalu siap dengan emergency action. Ini bukan hanya perlu dilakukan di Pemerintah Pusat, tapi juga Pemerintah Daerah.

Baca juga : Korban Serbuan Barang Impor

Daerah-daerah yang secara geografi dan analisa geologis memiliki potensi tinggi potensi bencana, harus merancang aksi antisipasi dan rencana kontijensi yang disosialisasi secara luas kepada warganya. Bila diperlukan, selalu ada simulasi untuk evakuasi dan penanganan kebencanaan.

Desain rumah tinggal dan infrastruktur tahan bencana harus mulai diterapkan. Petunjuk arah emergency exit harus ada di seluruh kabupaten dan kota. Dengan langkah-langkah ini, semoga jumlah korban dalam bencana dapat ditekan sekecil mungkin.

Selain bencana akibat kondisi geografis, kita juga dihadapkan potensi musibah akibat ulah tangan manusia yang destruktif terhadap alam. Seperti ancaman banjir, tanah longsor, dan perubahan iklim. Kerugian besar harus kita tanggung akibat bencana-bencana ini. Bahkan, untuk perubahan iklim, bisa mengancam kelangsungan hidup manusia. Belum lagi dampaknya seperti gagal panen.

Baca juga : Warna-warni Survei Pilkada

Saat ini, kita sudah memasuki musim penghujan. Ancaman banjir jelas di depan mata. Dengan kondisi iklim global yang tidak menentu, curah hujan bisa sangat tinggi. Contohnya seperti yang terjadi di Valencia, Spanyol. Tingginya curah hujan membuat kota tersebut luluh lantah. Sebanyak 200 orang lebih meninggal.

Kita berdoa, semoga banjir seperti di Valencia tidak terjadi di Indonesia. Namun, selain doa, juga harus ada usaha untuk mengantisipasi dan menanganinya. Pemerintah, swasta, dan masyarakat harus bahu-membahu untuk penjaga alam dan memperbaiki lingkungan, agar potensi bencana itu dapat diminimalisir.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.