Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Lawatan Presiden Prabowo Subianto Ke Lima Negara Memantapkan Astha Cita Ketahanan Indonesia
Senin, 11 November 2024 07:41 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
RM.id Rakyat Merdeka - Lawatan luar negeri pertama Presiden Prabowo Subianto ke lima negara utama—China, Amerika Serikat, Peru, Brasil, dan Inggris –merupakan langkah strategis yang mencerminkan komitmen Indonesia dalam memperkuat posisinya di kancah geopolitik global. Presiden Prabowo Subianto sudah bertolak ke China menggunakan pesawat kepresidenan dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Jumat (8/11/2024).
Tak hanya ke China, Presiden Prabowo rencananya akan berada di Amerika selama dua hari, yakni 11-12 November 2024. Setelah itu Presiden Prabowo langsung terbang ke Peru, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC yang digelar pada 13-16 November 2024 di Lima. Kemudian Presiden Prabowo akan ke Brasil untuk menghadiri KTT G20 yang digelar pada 14- 16 November 2024. Dan terakhir, Presiden Prabowo dijadwalkan akan bertemu Perdana Menteri Kerajaan Inggris Keir Starmer di London, Inggris, sebelum akhirnya kembali ke Tanah Air.
Kunjungan tersebut menjadi simbol dari kebijakan luar negeri bebas aktif yang ditegaskan oleh Presiden Prabowo, dengan tujuan menjaga kedaulatan Indonesia sekaligus menjadikan negara ini sebagai aktor yang aktif dalam percaturan politik internasional. Di tengah ketidakpastian global dan rivalitas kekuatan besar, Presiden Prabowo menunjukkan tekad Indonesia untuk memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas regional dan memperkuat pertahanan nasional.
Manakala mengunjungi China dan Amerika Serikat, dua kekuatan besar dengan pengaruh dominan di kawasan Asia Pasifik, Presiden Prabowo menekankan pentingnya kerjasama untuk menjaga stabilitas regional dan memperkuat keamanan maritim, khususnya di kawasan Indo-Pasifik. Keamanan maritim Indonesia, yang berada di jalur pelayaran internasional strategis, menjadi perhatian utama dalam diplomasi ini.
Baca juga : Perubahan Geostrategi Memantapkan Reformasi Sistem Pertahanan Keamanan Negara
Bagi Indonesia, kemitraan dengan kedua negara tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk mempererat hubungan bilateral, tetapi juga untuk memperkuat kapasitas pertahanan Indonesia melalui transfer teknologi yang relevan. Hal ini sejalan dengan upaya Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada kekuatan luar, dan berusaha membangun kemandirian dalam sektor pertahanan, yang menjadi salah satu cita-cita strategis dalam kebijakan Astha Cita.
Setelah mengunjungi China dan Amerika Serikat, Presiden Prabowo melanjutkan perjalanan ke Peru dan Brasil, dua negara yang menjadi tuan rumah bagi forum-forum penting yang dihadiri Indonesia. Di Peru, dalam rangka menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi APEC, Prabowo membahas peran Indonesia dalam ekonomi Asia-Pasifik, dengan fokus pada perdagangan, investasi, serta inovasi teknologi yang dapat meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.
Indonesia, sebagai negara dengan populasi besar dan potensi ekonomi yang terus berkembang, perlu memainkan peran yang lebih aktif dalam memperjuangkan kepentingan negara berkembang di tengah dominasi ekonomi global. Di Brasil, dalam forum G20, Presiden Prabowo menyoroti pentingnya stabilitas ekonomi global, serta peran Indonesia dalam kolaborasi internasional untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan isu energi yang semakin mendesak.
Kemudian kunjungan ke Inggris, hal ini menandai pula sebagai langkah strategis selanjutnya dalam memperkuat hubungan dengan negara maju di luar kawasan Asia. Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, diharapkan Presiden Prabowo mengedepankan pengembangan kerja sama di sektor teknologi militer dan keamanan maritim. Inggris, yang memiliki kapabilitas teknologi pertahanan canggih, menawarkan peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat kapasitas pertahanan nasionalnya.
Baca juga : Penyelarasan Kehidupan Yang Harmonis Berdasarkan Ideologi Pancasila
Kunjungan ini sangat relevan dengan upaya Presiden Prabowo untuk mewujudkan kemandirian pertahanan Indonesia, sesuai dengan cita-cita Astha Cita, yang menekankan pentingnya Indonesia memiliki sistem pertahanan yang tangguh dan mandiri. Kerja sama ini juga mencerminkan kebijakan luar negeri yang seimbang, di mana Indonesia tetap menjaga hubungan baik dengan kekuatan besar tanpa terjebak dalam konfrontasi yang merugikan.
Oleh karena itu lawatan luar negeri pertama Presiden Prabowo ini mencerminkan upaya Indonesia untuk memperkuat posisi strategisnya di tengah persaingan geopolitik global yang semakin intens. Presiden Prabowo mengedepankan prinsip kebijakan luar negeri bebas aktif, yang memungkinkan Indonesia untuk menjalin hubungan yang saling menguntungkan dengan berbagai negara besar –tanpa harus berpihak pada salah satu blok kekuatan.
Dengan menjalin kemitraan strategis di bidang pertahanan, ekonomi, dan teknologi, Indonesia berusaha membangun ketahanan nasional yang kokoh. Kunjungan ke lima negara ini bukan hanya sebagai langkah diplomatik, tetapi juga sebagai bagian dari upaya Indonesia untuk menjadi kekuatan penyeimbang di kawasan Indo-Pasifik, dan berperan aktif dalam menciptakan stabilitas global yang mendukung kepentingan nasional.
Dalam konteks kebijakan Astha Cita, Presiden Prabowo telah berusaha untuk memastikan bahwa Indonesia tidak hanya mampu menjaga kedaulatan dan keamanannya, tetapi juga dapat beradaptasi dengan perubahan geopolitik yang terjadi di seluruh dunia. Maka lawatan ini juga menunjukkan keseriusan Presiden Prabowo dalam membangun hubungan internasional yang berbasis pada kolaborasi, saling menghormati, dan berbagi keuntungan strategis.
Baca juga : Strategi Memperkuat Etika Moral Guna Pencegahan Dan Pemberantasan Korupsi
Di mana pada setiap pertemuan, tentulah sangat diharapkan bahwa Presiden Prabowo tidak hanya menekankan pentingnya hubungan bilateral yang produktif, tetapi juga memastikan bahwa Indonesia dapat berperan dalam menciptakan lingkungan internasional yang lebih aman dan stabil. Dengan memperkuat posisi Indonesia di arena global, dapat mengurangi ketergantungan negara terhadap negara besar lainnya, kemudian menciptakan suatu iklim yang mendukung kemandirian dalam berbagai sektor, terutama pertahanan dan ekonomi.
Komitmen Indonesia untuk menjadi negara yang lebih mandiri, namun tetap menjaga kerjasama internasional yang konstruktif, sangat jelas dalam setiap langkah yang diambil oleh Presiden Prabowo. Hal ini menggarisbawahi visi besar Indonesia sebagai negara yang mampu menjaga kedaulatan, berdiri tegak di panggung dunia, serta berperan dalam menciptakan perdamaian global.
Prof. Dr. Drs, Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah mantan Direktur Jenderal Sosial Politik Kementerian Dalam Negeri RI, dan Gubernur Lemhannas RI (2001-2005). Kini Ketua TIM Dewan Pakar BPIP RI.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya