Dark/Light Mode

Desa Wisata Kita Juga Bisa Jadi UNESCO Heritage

Minggu, 23 Februari 2025 13:42 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Februari ini, saya mengunjungi Desa Shirakawago, di Jepang. Ada tiga hal tentang Desa Shirakawago.

Pertama, desa ini mendapat predikat UNESCO Heritage, utamanya karena selama ratusan tahun mempertahankan bangunan rumah yang berbentuk segitiga sama kaki dengan atap dari jalinan jerami tebal. Atap model seperti ini disebut gassho-zukuri. Dengan atap yang memiliki kemiringan sekitar 60 derajat itu, tumpukan salju pun lebih cepat runtuh. Jerami dipilih karena mampu menghangatkan rumah.

Semua rumah menghadap ke timur dan barat, yang sengaja dibuat begitu agar salju yang menumpuk segera bisa mencair ketika terkena matahari. Selain itu, karena atap menghadap arah matahari, semua ventilasi yang terletak di loteng mengarah ke selatan dan utara. Aliran udara dan angin pun bebas keluar masuk, sehingga menciptakan sistem ventilasi yang terbaik.

Baca juga : Perkembangan Kecerdasan Buatan

Memang, secara umum unik dan penuh sekali dikunjungi wisatawan asing. Hanya saja, terpikir oleh saya, di negara kita sebenarnya juga banyak sekali desa yang unik dan penuh potensi, yang kalau dikemas apik tentu bisa juga dipertimbangkan masuk UNESCO Heritage juga. Mungkin bagus kalau Menteri Pariwisata kita memberi prioritas pada kegiatan di desa seperti ini, sehingga dapat juga jadi capaian pemerintah Prabowo-Gibran sesudah 100 hari ini.

Kedua, di musim dingin seperti Februari sekarang ini, Desa Shirakawago memang dipenuhi salju. Bahkan sampai setinggi atau lebih tinggi dari rumah penduduk. Di sisi lain, di musim panas, atap jerami tentu rawan kebakaran, sehingga secara berkala ada semprotan air ke atap rumah penduduk. 

Ketiga, saya cukup banyak bertemu wisatawan Indonesia yang datang ke Shirakawago ini. Setidaknya, dalam sehari berkunjung saja, saya ketemu sekitar lima puluhan orang turis Indonesia di desa ini. Ada yang sekuarga, ada yang rombongan besar termasuk anak-anak. Sebagian besar bermain dengan tumpukan salju, membuat bola salju, tiduran di salju sambil berfoto ria di tengah hujan salju.

Baca juga : Anggaran Kemenkes Dipangkas, Ini 7 Hal Yang Harus Dilakukan

Yang menarik, waktu saya selesai makan roti bakar dan bubur kacang merah di salah satu restoran, yang pada dasarnya adalah rumah asli, sesudah saya membayar, pemiliknya (merangkap kasir) bilang "terima kasih". Mungkin karena cukup sering ada turis kita datang ya. Padahal tempat ini cukup jauh. Dari Tokyo harus naik Shinkansen beberapa jam ke Kota Kanazawa, lalu naik bus hampir 2 jam ke Desa Shirakawago.

Semoga makin banyak objek wisata negara kita yang juga penuh dikunjungi wisatawan mancanegara dan lokal, dan dapat UNESCO Heritage pula.

Prof Tjandra Yoga Aditama
Alumni Jepang tahun 1987, sedang Cuti ke Sapporo, Tokyo, Kanazawa, dan Shirakawago.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.