Dark/Light Mode

Geopolitik Indonesia:Pancasila, Partai Penyeimbang, Dan HUT RI Ke-80 (Bagian II-Habis)

Selasa, 19 Agustus 2025 07:50 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, perjalanan bangsa Indonesia dibimbing oleh satu kompas ideologis: Pancasila. Lima sila yang lahir dari kebijaksanaan ­para pendiri bangsa telah menjadi perekat persatuan di tengah keberagaman, sekali­gus ­pengarah kebijakan negara menuju tujuan besar: terwujudnya Indonesia Raya yang adil, makmur, dan berdaulat. Panca­sila bukan sekadar teks normatif dalam Pembukaan UUD 1945, melainkan sumber nilai yang harus hidup di ­pikiran, hati, dan tindakan setiap warga negara.

Maka pada tahun 2025 ini, ­peringatan HUT RI ke-80, menjadi momentum refleksi nasio­nal. Delapan puluh tahun merdeka bukan hanya angka usia, tetapi cermin perjalanan panjang yang penuh dinamika politik, tantangan ekonomi, dan gejolak sosial. Peringatan ini mengajak seluruh elemen bangsa untuk meneguhkan kembali Pancasila sebagai landasan, memastikan bahwa setiap kebijakan publik, langkah pembangunan, dan interaksi sosial berpijak pada nilai keadilan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial.

Baca juga : Putri Indonesia 2025 Meriahkan Peringatan HUT Ke-80 RI Di Istana Merdeka

Dalam konteks inilah, stabilitas politik menjadi syarat ­mutlak bagi keberhasilan internali­sasi Pancasila. Stabilitas politik tidak hanya lahir dari dominasi satu kekuatan besar, melainkan dari keseimbangan yang sehat antara kekuatan peme­rintah dan keberadaan partai penyeimbang. Partai penyeimbang memainkan ­peran strategis untuk memastikan ­dinamika ­demokrasi tetap ­hidup, kebijakan pemerintah tetap akuntabel, dan aspirasi rakyat tetap terwakili secara luas.

Dengan tidak sepenuhnya melebur dalam koalisi ­mayoritas, partai penyeimbang dapat ­menjaga ruang kritik yang konstruktif, mengoreksi arah kebijakan jika melenceng, dan mendorong terciptanya konsensus nasio­nal yang lebih inklusif. Dalam ­situasi politik Indonesia saat ini, peran penyeimbang menjadi penting untuk menghindari potensi “kartel politik,” di mana semua kekuatan besar berfusi. Justru keberadaan partai ­penyeimbang membantu menjaga iklim politik yang sehat, di mana perbedaan pandangan menjadi sumber perbaikan kebijakan, bukan sumber per­pecahan. Inilah salah satu kunci stabilitas politik yang berkelanjutan: adanya keseimbangan kekuatan yang tidak ­memicu polarisasi ­ekstrem, ­namun tetap mendorong ­dinamika yang produktif.

Baca juga : Ancol Siap Ramaikan Perayaan HUT RI Ke-80 dengan Beach Fest & Culture Wave

Stabilitas politik yang dijaga oleh keseimbangan kekuatan ini memberi ruang yang luas untuk menginternalisasikan Pancasila. Dalam iklim politik yang stabil, program-program penguatan ideologi negara dapat berjalan lebih konsisten, bebas dari ­turbulensi politik ­jangka pendek. Pemerintah dapat memusatkan perhatian pada ­penguatan pendidikan karakter, integrasi nilai Pancasila dalam regulasi, serta penerapan ke­bijakan publik yang berorientasi pada keadilan sosial.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.