Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Pada 6 September 2025, saya menjadi moderator acara ilmiah Pertemuan Ilmiah Khusus Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) XVIII di Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara ini istimewa karena terkait langsung dengan Asia Pacific Society of Respirology (APSR), sehingga memiliki nuansa internasional.
Topik pertama disampaikan oleh Dr. Jathu Aphridasari yang membahas tentang Penyakit Pasca Tuberkulosis. Kita tahu, Indonesia adalah penyumbang kasus tuberkulosis terbanyak kedua di dunia, dan perjuangan menanggulanginya masih panjang.
Sejak terbit Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2021, pemerintah menargetkan eliminasi tuberkulosis pada 2030. Target ini jelas berat, meski pengendalian tuberkulosis juga sudah masuk dalam program prioritas Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Fakta adanya Penyakit Pasca Tuberkulosis menunjukkan bahwa tantangan kita bukan hanya menangani pasien saat sakit, tetapi juga kondisi kesehatan setelah tuberkulosis selesai diobati. Laman post-tuberculosis.com mencatat, terdapat banyak bukti ilmiah mengenai dampak jangka panjang tuberkulosis. Pasien bisa mengalami penyempitan saluran napas, kelainan restriktif dan fibrotik, bronkiektasis, bahkan aspergiloma. Dampak ekonomis dan psikologis juga bisa muncul, selain gangguan pada organ tubuh lain di luar paru.
Baca juga : Eco-Anxiety Jangkiti Anak Muda Dunia
Publikasi WHO berjudul Integrated Approach to Tuberculosis and Lung Health, Policy Brief yang terbit Maret 2025 menegaskan makin banyak pemahaman tentang kondisi pasca tuberkulosis ini. Laman resmi WHO TB Knowledge Sharing Platform bahkan menyediakan bab khusus berjudul Post-TB Health yang menekankan pentingnya memahami konsekuensi TB setelah pengobatan selesai.
Meski begitu, perlu ditegaskan bahwa sebagian besar pasien TB tetap bisa sembuh dengan baik. Hanya pada kondisi tertentu, masalah berlanjut menjadi Penyakit Pasca Tuberkulosis.
Topik kedua dibawakan oleh Dr. Astari Pranindya Sari mengenai rokok tersier. Selama ini kita mengenal bahaya rokok bagi perokok aktif dan juga perokok pasif, yakni mereka yang terpapar asap di sekitar perokok. Namun ternyata, bahaya rokok tidak berhenti sampai di situ.
Ada pula dampak rokok tersier, yaitu residu atau sisa asap rokok yang menempel pada benda-benda di sekitar perokok. Istilah lain yang dipakai adalah third-hand smoke. Meski disebut “smoke”, yang dimaksud bukan asap di udara, melainkan residu yang melekat pada permukaan benda.
Baca juga : Tahniah 50 Tahun Majelis Ulama Indonesia
Laman Mayo Clinic menuliskan bahwa residu asap rokok dapat menempel pada benda-benda lunak seperti pakaian, kursi, karpet, hingga pada benda keras seperti dinding, lantai, atau kendaraan. Residu ini bisa bertahan berbulan-bulan. Sentuhan atau hirupan residu asap tersebut membuat tubuh terpapar bahan kimia berbahaya. Bayi dan anak-anak yang sering merangkak atau bermain di lantai rumah dengan residu asap rokok bisa terkena dampak buruk.
WHO Western Pacific Region (WPRO), dimana Indonesia menjadi anggota, menyebutkan empat hal penting mengenai third-hand smoke. Residu ini mengandung berbagai bahan kimia yang dapat berubah menjadi lebih toksik seiring waktu. Anak-anak adalah kelompok paling rentan karena sistem imun mereka belum sempurna.
Dampak rokok tersier jelas berbahaya bagi kesehatan, termasuk paru. Selain itu, residu ini lebih banyak ditemukan di daerah dengan jumlah perokok tinggi dan di wilayah yang aturan merokoknya tidak ditegakkan dengan baik.
Pertemuan Ilmiah Khusus PDPI XVIII di Yogyakarta ini dihadiri lebih dari 1.500 peserta. Luasnya cakupan topik yang dibahas menunjukkan betapa penting peran PDPI dalam mewujudkan kesehatan paru dan pernapasan di Indonesia.
Baca juga : Airlangga: Transisi Energi Dorong Ekonomi 8 Persen
Oleh: Prof Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University
- Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025 dan Rekor MURI April 2024
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya