Dark/Light Mode

Pasca Tuberkulosis Dan Rokok Tersier

Senin, 8 September 2025 07:58 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Pada 6 September 2025, saya menjadi moderator acara ilmiah Pertemuan Ilmiah Khusus Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) XVIII di Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara ini istimewa karena terkait langsung dengan Asia Pacific Society of Respirology (APSR), sehingga memiliki nuansa internasional.

Topik pertama disampaikan oleh Dr. Jathu Aphridasari yang membahas tentang Penyakit Pasca Tuberkulosis. Kita tahu, Indonesia adalah ­penyumbang kasus tuber­kulosis terbanyak kedua di ­dunia, dan perjuangan menanggulanginya masih panjang.

Sejak terbit Peraturan Presi­den No. 67 Tahun 2021, peme­rintah menargetkan eliminasi tuberkulosis pada 2030. Target ini jelas berat, meski pengen­dalian tuberkulosis juga sudah masuk dalam program prioritas Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Fakta adanya Penyakit ­Pasca Tuberkulosis menunjukkan bahwa tantangan ­kita bukan hanya menangani pasien saat sakit, tetapi juga kondisi kesehatan setelah tuberkulosis selesai diobati. Laman post-tu­berculosis.com mencatat, terdapat ­banyak bukti ilmiah mengenai dampak jangka panjang tuber­kulosis. Pasien bisa menga­lami penyempitan ­saluran napas, kelainan restriktif dan fibro­tik, bronkiektasis, bahkan aspergiloma. Dampak ­ekonomis dan psikologis juga bisa ­muncul, selain gangguan pada organ tubuh lain di luar paru.

Baca juga : Eco-Anxiety Jangkiti Anak Muda Dunia

Publikasi WHO berjudul Integrated Approach to Tuberculosis and Lung Health, Policy Brief yang terbit Maret 2025 menegaskan makin banyak pemahaman tentang kondisi pasca tuberkulosis ini. Laman resmi WHO TB Knowledge Sharing Platform bahkan menyediakan bab ­khusus berjudul Post-TB Health yang menekankan pentingnya memahami konsekuensi TB setelah pengobatan selesai.

Meski begitu, perlu ditegaskan bahwa sebagian besar pasien TB tetap bisa sembuh dengan baik. Hanya pada kondisi tertentu, masalah berlanjut menjadi Penyakit Pasca Tuberkulosis.

Topik kedua dibawakan oleh Dr. Astari Pranindya Sari menge­nai rokok tersier. Selama ini kita mengenal bahaya rokok bagi perokok aktif dan juga perokok pasif, yakni mereka yang terpapar asap di sekitar perokok. Namun ternyata, bahaya rokok tidak berhenti sampai di situ.

Ada pula dampak rokok ­ter­sier, yaitu residu atau sisa asap rokok yang menem­pel ­pada benda-benda di ­sekitar perokok. Istilah lain yang dipakai adalah ­third-hand smoke. Meski disebut “smoke”, yang dimaksud bu­kan asap di udara, melainkan residu yang melekat pada permukaan benda.

Baca juga : Tahniah 50 Tahun Majelis Ulama Indonesia

Laman Mayo Clinic menuliskan bahwa residu asap rokok dapat menempel pada benda-benda lunak seperti pakaian, kursi, karpet, ­hingga pada benda keras seperti ­dinding, lantai, atau kendaraan. Residu ini bisa bertahan berbulan-bulan. Sentuhan atau hirupan residu asap tersebut membuat tubuh terpapar bahan kimia berbahaya. Bayi dan anak-anak yang sering merangkak atau bermain di lantai rumah dengan residu asap rokok bisa terkena dampak buruk.

WHO Western Pacific Region (WPRO), dimana Indonesia menjadi anggota, menyebutkan empat hal penting mengenai third-hand smoke. Residu ini mengandung berbagai bahan kimia yang dapat berubah menjadi lebih toksik seiring waktu. Anak-anak adalah kelompok paling rentan karena sistem imun mereka belum sempurna.

Dampak rokok tersier jelas berbahaya bagi kesehatan, termasuk paru. Selain itu, residu ini lebih banyak ditemukan di daerah dengan jumlah perokok tinggi dan di wilayah yang aturan merokoknya tidak ditegakkan dengan baik.

Pertemuan Ilmiah Khusus PDPI XVIII di Yogyakarta ini dihadiri lebih dari 1.500 peserta. Luasnya cakupan topik yang dibahas menunjukkan betapa penting peran PDPI dalam mewujudkan kesehatan paru dan pernapasan di Indonesia.

Baca juga : Airlangga: Transisi Energi Dorong Ekonomi 8 Persen

Oleh: Prof Tjandra Yoga Aditama
- Direktur ­Pascasarjana Universitas YARSI / ­Adjunct Professor Griffith University
- Ketua Majelis ­Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025 dan Rekor MURI April 2024

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.