Dark/Light Mode
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Hari-hari ini, berita tentang keracunan makanan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih terus bergulir. Sejumlah laboratorium juga telah menyampaikan hasil pemeriksaannya.
Data terakhir dari Jawa Barat, seperti disebutkan di media, menunjukkan bahwa Laboratorium Kesehatan Daerah menemukan bakteri pada sampel makanan, mayoritas berupa Salmonella dan Bacillus cereus. Dalam pemeriksaan kimia, 92 persen hasilnya negatif, namun 8 persen positif mengandung nitrit.
Data WHO menyebutkan, kontaminasi bakteri Salmonella kerap dikaitkan dengan makanan tinggi protein seperti daging, unggas, dan telur. Sementara itu, New South Wales Food Authority Australia menyebut, Bacillus cereus dapat menyebabkan keracunan makanan, terutama bila nasi disimpan tidak tepat.
Baca juga : 6 Anjuran Di Hari Paru Sedunia 2025
Perlu diketahui, keracunan makanan bisa terjadi di luar program MBG, bahkan di berbagai negara di dunia. WHO mencatat, ada lima faktor utama yang bisa dideteksi laboratorium untuk menilai keracunan makanan. Akan baik jika kelima hal ini juga diperiksa di laboratorium kita terkait kasus MBG. Penjelasan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai wawasan umum mengenai potensi keracunan makanan di dunia. Kelima penyebab itu adalah:
Pertama, bakteri. WHO menyebut tiga bakteri yang paling sering menyebabkan keracunan makanan, yaitu Salmonella, Campylobacter, dan Escherichia coli. Selain itu, dapat ditemukan pula Listeria dan mungkin juga Vibrio cholerae.
Kedua, virus. Setidaknya ada Norovirus dan virus Hepatitis A. Ketiga, Parasit. Misalnya cacing trematoda, cacing pita (Echinococcus dan Taenia), atau yang lebih jarang seperti Ascaris, Cryptosporidium, Entamoeba histolytica, dan Giardia, yang masuk ke rantai makanan melalui air atau tanah tercemar.
Baca juga : Diplomasi Kesehatan Global
Keempat, Prion. Walau jarang, prion, bahan infeksi yang terdiri dari protein. Prion pernah dikaitkan dengan penyakit sapi gila (Bovine Spongiform Encephalopathy/BSE atau mad cow disease). Kelima, Kontaminasi bahan kimia.
WHO membaginya dalam tiga kelompok besar yaitu logam berat seperti timbal, kadmium, dan merkuri; polutan organik persisten seperti dioksin dan polychlorinated biphenyls (PCBs); serta berbagai toksin lain seperti mycotoxins, marine biotoxins, cyanogenic glycosides, aflatoksin, dan okratoksin.
Berbagai potensi penyebab keracunan makanan yang disebut WHO itu tentu patut menjadi pertimbangan. Namun, bukan berarti kasus yang terkait MBG sekarang otomatis disebabkan oleh faktor-faktor tersebut. Penjelasan WHO ini lebih sebagai wawasan umum dan bagian dari kewaspadaan kita bersama dalam menghadapi masalah keracunan makanan.
Baca juga : Lagi-Lagi Kecacingan Pada Anak Bangsa
Oleh: Prof Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat, Rekor MURI 2024, Paramakarya Paramahusada PERSI 2024, dan Penghargaan Achmad Bakrie XXI bidang Kesehatan
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.