Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Gaung Soekarno Dan Prabowo Di PBB: Seruan Kemanusiaan Dan Perdamaian
Senin, 29 September 2025 08:30 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Sebelumnya
Kalimat “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan” bukan hanya barisan kata, melainkan sabda konstitusional yang mengikat arah perjalanan diplomasi Indonesia. Ia adalah kompas moral yang menuntun republik ini untuk hadir di panggung dunia –bukan sebagai penonton pasif, melainkan sebagai pejuang bagi keadilan dan martabat umat manusia.
Dalam semangat itu, pidato Presiden Ir. Soekarno dan Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum PBB pada tahun 1960 dan 2025 menjadi gema lantang dari amanat konstitusi. Bung Karno berbicara bukan hanya sebagai pemimpin republik yang baru lahir, tetapi sebagai juru bicara Asia dan Afrika, suara dari bangsa-bangsa yang masih dirantai kolonialisme. Ia menegaskan bahwa dunia tidak dapat dibiarkan hidup dalam timpang dominasi, melainkan harus dibangun kembali di atas fondasi keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian.
Baca juga : Pemerintahan Dalam Pembangunan Asta Cita Pusat Dan Daerah Untuk Indonesia Raya
Ada pun Presiden Prabowo Subianto tidak lagi berbicara dengan suara bangsa yang baru merdeka dan menuntut pengakuan, melainkan dengan wibawa sebuah negara yang telah mapan, mengokohkan dirinya sebagai middle power yang mampu menjadi jembatan antarbangsa. Presiden Prabowo menegaskan dengan jernih bahwa umat manusia, betapapun berbeda ras, agama, dan kebangsaan, tetaplah satu keluarga dengan hak yang sama: hak untuk hidup, hak untuk bebas, dan hak untuk mengejar kebahagiaan. Di podium dunia itu, Jenderal (Purn) Prabowo Subianto menggemakan kembali ruh Pembukaan UUD 1945, menghidupkan semangat yang dahulu diproklamasikan Ir. Soekarno. Dari sini jadinya kemanusiaan universal, bukan sekadar jargon, melainkan fondasi dari perdamaian dunia yang diidamkan sejak para pendiri bangsa menggoreskan tinta pada naskah konstitusi.
Pesan dari pemimpin Indoneisa itu menemukan relevansinya dalam wajah dunia hari ini. Konflik Palestina, persaingan blok, dan dinamika multipolaritas mengingatkan kita bahwa perdamaian bukanlah hadiah, melainkan perjuangan yang terus-menerus diperbarui. Presiden Prabowo, dalam forum itu, menegaskan bahwa perdamaian hanya dapat dicapai jika setiap bangsa dihormati haknya, tanpa penjajahan, tanpa diskriminasi, tanpa dinding yang memisahkan manusia dari martabatnya.
Baca juga : Manajemen Pemerintahan Pusat Dan Daerah Dalam Mewujudkan Asta Cita
Dengan demikian, dari podium PBB tahun 1960 hingga tahun 2025, dari suara Soekarno hingga suara Prabowo, ada satu benang merah yang tak pernah terputus: amanat UUD 1945 sebagai cahaya penuntun. Indonesia konsisten menjadikan kemerdekaan, kemanusiaan, dan perdamaian dunia bukan hanya retorika, melainkan dasar yang menjiwai setiap langkah diplomasi. Ia bukan sekadar kebijakan luar negeri, melainkan bagian dari jati diri bangsa yang sadar akan panggilannya dalam sejarah umat manusia.
Prof. Dr. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah DIRJEN SOSPOL DEPDAGRI RI 1999-2001 DAN GUBERNUR LEMHANNAS RI 2001-2005.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya