Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Kesepakatan AS-Iran Belum Final, Trump: Kalau Saya Tak Suka, Pemboman Berlanjut
- Mentan Amran Targetkan Swasembada Bawang Putih Dalam 3 Tahun
- Batal Ke Rusia, Prabowo Fokus Tuntaskan Agenda Dalam Negeri
- PLN Indonesia Power Dukung Kids English Fun 2026, Cetak Generasi Unggul
- Austria Tekuk Yordania, Tempel Argentina di Klasemen Grup J
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam kunjungan penulis ke Amerika Latin beberapa waktu lalu, tokoh-tokoh komunitas Muslim menyampaikan harapan agar guru-guru agama dan mubalig Indonesia dapat lebih berpengaruh di kawasan tersebut.
Dr. Omar Abboud, seorang tokoh Muslim berpengaruh di Amerika Latin dan kini menjadi satu-satunya Muslim yang duduk sebagai anggota legislatif sekaligus Presidente de la Comision de Cultura Legislatura de la Ciudad Autónoma de Buenos Aires, Argentina, menyampaikan pengalamannya kepada penulis tentang suka duka mengembangkan agama Islam di Argentina dan di Amerika Latin pada umumnya. Ia juga memimpin lembaga Instituto de Diálogo Interreligioso (IDI) Argentina.
Baca juga : Harapan Dunia terhadap Indonesia: Chile (2)
Seperti halnya di Eropa, AS, dan Kanada, negara-negara di Amerika Latin sangat ketat mengawasi pergerakan dakwah Islam, terutama pada era berkembangnya pengaruh ISIS di tingkat global. Hal serupa juga dikemukakan oleh Dr. Sulayman Essop Jada, Imam Besar Masjid Assalam, Santiago, Chile.
Pada umumnya, pemeluk Islam di Amerika Latin adalah para pendatang dari Palestina, Lebanon, Turki, dan sejumlah negara Afrika. Namun menurut mereka, banyak pula penduduk pribumi yang dengan penuh kesadaran memilih memeluk agama Islam.
Baca juga : Harapan Dunia terhadap Indonesia: Chile (1)
Ada juga yang menjadi mualaf karena ingin menikah dengan perempuan Muslim. Perkembangan Islam di Amerika Latin tidak seluas di Eropa dan Amerika Serikat. Bahkan, menurut pengakuan Omar Abboud, banyak imigran Muslim di Amerika Latin yang menyembunyikan identitas agamanya—dalam istilah Syiah dikenal sebagai taqiyah—demi memperoleh kesempatan kerja yang lebih baik.
Sebagian bahkan memilih pindah agama atau menjadi tidak beragama. Masalah umum yang dialami umat Islam di Amerika Latin ialah kurangnya guru agama, mubalig, lembaga pendidikan Islam, serta minimnya jumlah masjid. Bisa dibayangkan, kota sebesar Santiago hanya memiliki dua masjid untuk salat Jumat, itu pun berada agak di luar kota. Kesulitan lain adalah aturan kerja yang tidak memungkinkan mereka meninggalkan pekerjaan lebih dari satu jam, sementara perjalanan ke masjid untuk salat Jumat bisa memakan waktu lebih dari dua jam. Selain itu, akses terhadap sekolah yang mengajarkan agama Islam pun sangat terbatas. Mayoritas umat Islam di sana adalah awam, tidak memiliki kemampuan profesional untuk mendidik anak, memahami, dan mempraktikkan ajaran Islam.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya