Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tulus Abadi
Pengamat Perlindungan Konsumen dan Kebijakan Publik
Pengamat Perlindungan Konsumen dan Kebijakan Publik
RM.id Rakyat Merdeka - Sudah lebih dari sebulan bencana ekologis melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Luka menganga dan mendalam masih dirasakan oleh sebagian besar warga sebagai korban, yang lebih dari 1.300 jiwa melayang ditelan bencana. Selain itu, kerugian akibat hancurnya infrastruktur, baik milik warga (permukiman) maupun infrastruktur publik, nilainya tak kurang dari Rp 65 triliun. Salah satu infrastruktur publik yang mengalami kerusakan serius dan eskalatif adalah infrastruktur kelistrikan yang dimiliki oleh PT PLN.
Kerusakan dan kerugian atas rusaknya infrastruktur kelistrikan tersebut jauh lebih dahsyat dibanding saat tsunami. PT PLN mengestimasi kerugian infrastruktur kelistrikan di Aceh akibat terjangan bencana banjir dan tanah longsor 2025 lalu bisa mencapai tiga kali lipat dibanding kerugian saat tsunami pada 2004. Sebab, jika saat tsunami yang mengalami kerusakan hanya di level jaringan distribusi saja dengan jumlah berkisar 80-an titik, maka pada bencana banjir dan tanah longsor 2025, jaringan yang mengalami kerusakan atau kehancuran bukan hanya jaringan distribusi, tetapi juga jaringan transmisi (150 kV). Jumlah kerusakan, baik jaringan distribusi maupun transmisi, mencapai lebih dari 200 titik lokasi. Bahkan kantor cabang dan ranting PT PLN pun ikut hancur diterjang banjir dan tanah longsor.
Namun hingga saat ini manajemen PT PLN belum mampu menghitung secara pasti nominal total kerugian akibat bencana di Aceh dan sekitarnya. Yang jelas, menurut keterangan informal dari Humas PLN, untuk keperluan aktivitas CSR di area bencana saja, PT PLN telah menggelontorkan dana lebih dari Rp 22 miliar. Hebatnya, dalam masa kurang dari satu bulan, tim PLN sudah mampu melakukan pemulihan lebih dari 90 persen jaringan listrik yang terputus. Saat ini, menurut Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo, hanya tersisa 75 desa di Aceh yang belum terakses listrik karena letaknya yang sangat terisolasi, terluar, dan terdalam, serta masih mengalami keterputusan total dengan infrastruktur lainnya.
Baca juga : KSP Kirim Water Purifier Dan Pompa Apung Untuk Korban Banjir Di Aceh Timur
Oleh sebab itu, apresiasi yang tinggi sangat layak diberikan kepada manajemen PT PLN, mulai dari jajaran direksi hingga tim lapangan, atas spirit perjuangan dalam melakukan rekonstruksi di Aceh.
Pertama, spirit perjuangan untuk memulihkan jaringan listrik di area bencana. Upaya memulihkan kondisi kelistrikan di Aceh bukan semata sebagai tanggung jawab korporasi atau sekadar business as usual, melainkan wujud spirit perjuangan yang tiada tara, bahkan dengan mempertaruhkan nyawa. Melihat narasi video aktivitas rekonstruksi jaringan transmisi oleh tim PLN sungguh sangat menggetarkan.
Kedua, pengerahan sumber daya manusia. Untuk memulihkan kelistrikan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, manajemen PT PLN mengerahkan petugas lapangan dari seluruh Indonesia, dengan jumlah tak kurang dari 1.500 personel lapangan yang sangat andal.
Baca juga : Rusli Habibie: Kinerja Menteri ESDM Pulihkan Kepercayaan Sektor Hulu Migas
Ketiga, besarnya alokasi anggaran penanggulangan bencana. Rekonstruksi kerusakan infrastruktur tentu membutuhkan biaya yang sangat besar, dan 100 persen biaya tersebut dikeluarkan dari anggaran kebencanaan PT PLN. Belum satu rupiah pun biaya rekonstruksi berasal dari dana APBN.
Keempat, keterlibatan masyarakat. Dalam proses rekonstruksi kerusakan infrastruktur, masyarakat turut bahu-membahu dan terlibat aktif. Hal ini menunjukkan tingginya spirit sense of belonging masyarakat, sekaligus menegaskan bahwa infrastruktur kelistrikan merupakan infrastruktur vital dan sangat strategis bagi kehidupan warga.
Kelima, peran tim PLN di lapangan tidak hanya memulihkan infrastruktur kelistrikan semata, tetapi juga terjun langsung dalam memulihkan infrastruktur publik yang lumpuh, seperti normalisasi fungsi masjid, rumah sakit, sekolah, dan lainnya. Dengan pulihnya pasokan listrik dan bersihnya kembali masjid, fungsi sosial dan keagamaan kembali menggeliat, azan kembali berkumandang dan menggema. Apalagi Aceh memiliki identitas khas sebagai Serambi Mekah. Pulihnya fungsi masjid bagi masyarakat bukan hanya untuk ritual ibadah, tetapi juga sebagai sarana interaksi sosial yang lebih intensif.
Baca juga : GoPay Lindungi Pengguna Dengan Jaminan Saldo Kembali
Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa secara empirik di lapangan, kerusakan infrastruktur PT PLN memang tergolong sangat parah dalam kategori infrastruktur publik. Oleh karena itu, kemampuan tim PT PLN memulihkan kondisi tersebut dalam waktu relatif cepat merupakan bukti kerja keras dengan spirit perjuangan yang tinggi. Pulihnya infrastruktur kelistrikan di Aceh bukan hanya menghadirkan penerangan, tetapi juga memberikan dampak positif yang sangat signifikan dalam mengungkit mobilitas warga serta mendorong percepatan geliat ekonomi riil di tengah masyarakat yang porak-poranda dihantam bencana.
Tanpa percepatan pemulihan jaringan kelistrikan, boleh jadi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat masih berada dalam kungkungan “era kegelapan”. Pulihnya jaringan kelistrikan di Aceh bak narasi judul buku gubahan R.A. Kartini: Habis Gelap Terbitlah Terang. Terima kasih, PLN!
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya