Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Soft Diplomacy Dan Ketegasan Indonesia Menolak Pendudukan Di Gaza
Rabu, 25 Februari 2026 09:35 WIB
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam beberapa hari terakhir, beredar narasi di media sosial, khususnya TikTok, yang menggambarkan seolah-olah Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, “berhadapan langsung” dan menyampaikan teguran keras secara personal di depan perwakilan Israel dalam forum Dewan Keamanan PBB.
Narasi semacam itu terasa menarik secara emosional kolektif, namun kurang tepat dalam menggambarkan praktik diplomasi Indonesia yang sebenarnya. Indonesia memilih jalur soft diplomacy. Yakni tegas dalam substansi dan konsisten menggunakan mekanisme multilateral berbasis hukum internasional.
Dalam forum Dewan Keamanan PBB di New York, Indonesia menyampaikan kritik yang kuat terhadap pelanggaran hukum internasional terkait pendudukan wilayah Palestina, situasi kemanusiaan di Gaza, serta kebijakan yang dinilai merusak peluang perdamaian jangka panjang.
Sikap tersebut menunjukkan konsistensi politik luar negeri Indonesia yang berdiri di atas prinsip kemerdekaan bangsa serta komitmen terhadap penyelesaian konflik secara damai.
Baca juga : Jordi Amat Tegaskan Persija Wajib Menang di Kandang Malut
Salah satu isu utama yang disorot adalah praktik aneksasi di wilayah pendudukan. Aneksasi merupakan tindakan suatu negara mengambil alih wilayah yang berada di bawah otoritas pihak lain lalu memperlakukannya sebagai bagian dari kedaulatannya sendiri.
Dalam hukum internasional modern, perubahan status wilayah melalui langkah sepihak bertentangan dengan prinsip dasar Piagam PBB. Istilah “aneksasi de facto” merujuk pada praktik administratif atau kebijakan yang secara bertahap mengubah karakter wilayah tanpa deklarasi formal, seperti pembangunan permukiman atau penerapan sistem hukum domestik di wilayah yang diduduki.
Indonesia menilai kebijakan semacam itu menghambat hak menentukan nasib sendiri rakyat Palestina, yang merupakan prinsip fundamental dalam hukum internasional. Pendudukan berkepanjangan serta perubahan status wilayah tanpa kesepakatan damai, memperpanjang konflik di kawasan tersebut.
Oleh karena itu, Indonesia mengedepankan argumentasi berbasis resolusi Dewan Keamanan PBB, termasuk resolusi yang menegaskan ketidaksahan permukiman di wilayah pendudukan.
Baca juga : Optimalkan Biaya, Pertamina Hulu Indonesia Raih Penghargaan Best ESG Program
Aspek kemanusiaan juga menjadi perhatian penting. Indonesia menekankan kewajiban semua pihak untuk mematuhi Konvensi Jenewa ke-4, yang membahas soal perlindungan warga sipil dan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa posisi Indonesia berpijak pada norma hukum global yang diakui luas dan memiliki legitimasi kuat di mata komunitas internasional.
Pendekatan soft diplomacy tersebut merupakan karakter utama diplomasi Indonesia. Ketegasan prinsip berjalan beriringan dengan upaya menjaga jalur komunikasi tetap terbuka.
Dalam konteks ini, keberadaan Indonesia sebagai anggota Board of Peace (BoP) menjadi langkah strategis. Melalui BoP, Indonesia mengambil peran aktif dalam mendorong perdamaian permanen dan rehabilitasi Gaza, sekaligus memperlihatkan bahwa diplomasi Indonesia bergerak melampaui retorika menuju kontribusi nyata.
Baca juga : Komisi VII DPR Minta Pengadaan Kendaraan Kopdes Pakai Produk RI
Di bawah kepemimpinan nasional saat ini, konsistensi tersebut terasa semakin kuat dan terlihat dalam berbagai forum internasional. Indonesia menunjukkan bahwa diplomasi efektif tidak selalu hadir dalam bentuk konfrontasi terbuka, melainkan melalui ketegasan argumentasi, legitimasi hukum internasional, serta kemampuan membangun jembatan menuju penyelesaian konflik yang adil dan berkelanjutan.
Pendekatan inilah yang memperkuat posisi Indonesia sebagai aktor global yang disegani. Indonesia harus tenang dan konsisten dalam memperjuangkan perdamaian di muka bumi ini, termasuk Gaza.
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M. Si.
Guru Besar Hubungan Internasional, Busan University of Foreign Studies (BUFS), Korea Selatan
Visiting Professor, Tomsk State University (TSU), Federasi Rusia
Ketua DPP Partai Golkar Bidang Hubungan Internasional
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya