Dark/Light Mode

Asma, PPOK Dan Puasa

Sabtu, 7 Maret 2026 12:35 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Pada 7 Maret 2026 saya menjadi pembicara pada acara FK YARSI bertajuk Puasa dan Kesehatan – Integrasi Kesehatan Paru, Penyakit Dalam, dan Ruhul Islam. Dalam kesempatan tersebut saya menyampaikan antara lain tentang asma dan PPOK dalam kaitannya dengan puasa Ramadan.

Pertama, saya menyajikan publikasi jurnal internasional ERJ Open Research tahun 2025 berjudul “Ramadan Fasting for Patients with Chronic Respiratory Diseases: A Systematic Review and Consensus Recommendations for Healthcare Professionals.” Penelitian ini bermula dari kajian terhadap 141 artikel ilmiah mengenai topik tersebut. Setelah melalui proses penyaringan ilmiah (metodologi, duplikasi, kesahihan, dan lain-lain), diperoleh 11 artikel yang memenuhi kriteria inklusi penelitian.

Dari artikel yang dianalisis, topik yang dibahas berkaitan dengan asma bronkiale dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Tidak ditemukan studi yang relevan untuk penyakit paru interstisial (Interstitial Lung Diseases/ILD) maupun bronkiektasis.

Baca juga : Arah Perlu Dijaga

Hasil reviu terhadap 11 artikel tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat dampak bermakna dari menjalani ibadah puasa Ramadan terhadap angka rawat inap maupun fungsi paru pada pasien asma dan PPOK yang stabil. Namun, diakui bahwa terbatasnya jumlah kasus membuat hasil penelitian ini belum dapat digeneralisasi secara luas.

Secara garis besar terdapat tiga rekomendasi umum bagi pasien asma dan PPOK. Pertama, perlunya konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum memasuki bulan puasa. Kedua, pentingnya penilaian risiko secara individual. Ketiga, kemungkinan perlunya penyesuaian regimen pengobatan.

Selain itu, saya juga menyampaikan edaran Kementerian Kesehatan Mesir yang membuat panduan bagi pasien dengan gangguan respirasi untuk menjalani ibadah puasa, yaitu “Guidelines for Patients with Respiratory Illness during Ramadan.” Tentu akan baik jika Kementerian Kesehatan Indonesia juga membuat panduan serupa.

Baca juga : Agama Tanpa Cinta

Panduan dari Kementerian Kesehatan Mesir tersebut setidaknya mencakup empat hal. Pertama, pada umumnya pasien dengan gangguan pernapasan dapat menjalani ibadah puasa dengan baik, tentu dengan tetap menjaga pola hidup sehat dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan. Kedua, pasien asma dan PPOK dianjurkan untuk tidak berbuka puasa dengan makan terlalu banyak karena dapat menekan diafragma dan meningkatkan kemungkinan gangguan pernapasan. Ketiga, pentingnya mencukupi asupan cairan antara waktu berbuka hingga sahur untuk menjaga hidrasi. Keempat, pasien asma dan PPOK perlu mengikuti anjuran dokter dalam penggunaan inhaler dan obat lain yang diperlukan.

Selain jurnal ERS dan panduan Kementerian Kesehatan Mesir tersebut, saya juga menyampaikan rekomendasi WHO Eastern Mediterranean Regional Office (WHO-EMRO) mengenai puasa dan infeksi paru serta pernapasan, termasuk kaitannya dengan kebiasaan merokok yang secara tegas disebut sebagai “Tobacco-Free Ramadan.”

Tema yang diangkat WHO dalam Ramadan tahun ini cukup menarik, yaitu “A Time for Health, A Time for Giving.” Khusus mengenai puasa dan rokok, WHO juga mengeluarkan anjuran: “Quit Tobacco this Ramadan, breathe better, live longer, stay healthy.” Artinya, berhentilah merokok pada Ramadan tahun ini agar dapat bernapas lebih baik, hidup lebih panjang, dan tetap sehat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.