Dark/Light Mode

Kajian Teosofi (6)

Derajat dan Keunggulan Manusia

Minggu, 8 Maret 2026 06:05 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Transformasi dan transmutasi manusia menuju alam berikutnya sangat ditentukan oleh masing-masing individu. Jika manusia mampu menggunakan potensi indera batinnya untuk menembus wilayah barzakh, maka ia dapat melakukan transformasi tersebut. Ada orang yang menunggu kematian untuk memasuki alam barzakh, tetapi ada pula yang mampu “bolak-balik” memasuki wilayah itu dan berkomunikasi dengan para penghuninya atau dengan alam-alam gaib pada level yang lebih tinggi.

Sebagaimana alam syahadah (alam yang dapat disaksikan) mengalami proses evolusi untuk mencapai derajat yang lebih tinggi—misalnya mineral berupa tanah, batu, logam, perak, hingga logam mulia seperti emas—demikian pula halnya dengan alam tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.

Baca juga : Tingkatan-tingkatan Alam

Untuk menjadi logam mulia tentu harus melalui proses panjang. Demikian pula batu permata yang terbentuk melalui perjalanan alamiah yang tidak singkat. Analogi transmutasi evolusioner benda-benda di alam syahadah ini pernah diungkap oleh seorang sufi sekaligus ahli kimia, Jabir ibn Hayyan.

Penyair besar sekaligus sufi muslim Jalaluddin Rumi juga menjelaskan bahwa hubungan Al-Haqq (Allah SWT) dengan alam-alam tersebut adalah hubungan cinta. Menurut Rumi—sebagaimana dikutip oleh Prof. Mulyadi—pergerakan, perputaran, dan thawaf alam raya merupakan reaksi terhadap gelombang cinta Tuhan.

Baca juga : Konsep Al-A’yan al-Tsabitah

Alam semesta berputar laksana pecinta yang mabuk kepayang untuk bertemu dengan kekasihnya. Gambaran inilah yang diyakini menginspirasi Rumi dalam menciptakan tarian sufi yang dikenal sebagai Whirling Dervishes.

Pada level manusia, logika yang sama juga berlaku. Untuk mencapai martabat utama (maqaman mahmuda), manusia harus menempa diri melalui berbagai riyadhah dan mujahadah hingga mencapai keadaan jiwa yang bersih (illuminated) dan mampu menembus batas-batas hijab.

Baca juga : Al-A’yan al-Tsabitah

Jika hijab telah tersingkap, maka terjadilah mukasyafah. Pada saat itu, wilayah alam gaib semakin berkurang karena alam barzakh telah dapat diakses. Di sinilah makna mendalam dari hadis Nabi: Mutu qabla antamutu—“Matilah sebelum kalian mati yang sebenarnya.”

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 8 Maret 2026 dengan judul "Kajian Teosofi (6) Derajat dan Keunggulan Manusia"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.