Dark/Light Mode
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Bukan untuk menentang kemodernan, tetapi untuk mengingatkan dunia kemanusiaan bahwa epistemologi keilmuan yang berkembang dalam dunia modern—termasuk yang dikonsumsi dalam dunia pendidikan kita—sangat memprihatinkan, bahkan berpotensi mengancam kemanusiaan dalam jangka panjang.
Epistemologi yang berkembang saat ini cenderung materialistis, pragmatis, dan rasionalistik. Kolom ini terlalu singkat untuk menguraikan kelemahannya sekaligus menawarkan perspektif epistemologi baru yang sejalan dengan Al-Qur’an.
Al-Qur’an sesungguhnya memperkenalkan dua konsep epistemologi yang kemudian dipadukan dalam prinsip “Iqra’ bismi Rabbik”. Pertama, epistemologi yang dijalankan Nabi Musa, yang lebih mengandalkan kecerdasan akal (reason). Kedua, epistemologi yang diperkenalkan Khidhir, yang lebih menekankan kecerdasan spiritual (intellect).
Dengan kata lain, Nabi Musa menekankan pengetahuan yang diperoleh melalui olah nalar (‘ilm), sedangkan Khidhir menekankan pengetahuan yang diperoleh melalui olah batin (ma‘rifah).
Sekitar dua belas ayat dalam Surah Al-Kahfi (18) mendialogkan keunggulan kedua epistemologi ini. Epistemologi Musa dapat dianalogikan sebagai western oriented, sedangkan Khidhir sebagai eastern oriented.
Baca juga : Alam Mitsal Dambaan Pencari Tuhan
Pada akhirnya, Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa jalan terbaik adalah menggabungkan keduanya, yang dalam istilah Surah al-Kahfi disebut “majma‘ al-bahrain” (Q.S. Al-Kahfi/18:60), yang oleh Tafsir al-Razi dimaknai sebagai sintesis dua cara pandang (epistemologi).
Figur Musa cenderung mengedepankan jalur logika. Hampir segala sesuatu ditanyakan secara rasional, bahkan hingga pada persoalan wujud Tuhan yang ingin diindra.
Ketika Nabi Musa diminta oleh Tuhan untuk belajar kepada seorang hamba-Nya yang arif (Q.S. Al-Kahfi/18:65), sang guru mensyaratkan agar ia menahan dorongan logikanya dengan kesabaran (Q.S. Al-Kahfi/18:67), jika ingin memperoleh ilmu yang lebih tinggi.
Nabi Musa berusaha bersabar, tetapi tradisi berpikir kritisnya sulit dikendalikan. Ia mendapat peringatan pertama ketika menyaksikan perahu-perahu nelayan yang tidak berdosa justru dilubangi satu per satu.
Akhirnya Nabi Musa meminta maaf kepada gurunya. Namun pada peristiwa kedua, ia masih belum mampu menahan sikap kritisnya. Ia kembali mempertanyakan mengapa seorang anak kecil yang tidak bersalah harus dibunuh. Gurunya pun memberikan peringatan kedua, dan Nabi Musa kembali memohon maaf atas pelanggarannya.
Pada peristiwa selanjutnya, Nabi Musa mulai bersikap pasrah. Ia membantu memperbaiki reruntuhan bangunan tua selama berhari-hari tanpa mengenal lelah. Ia berharap, setelah pekerjaan itu selesai, ia akan memperoleh pelajaran yang lebih mendalam. Namun betapa terkejutnya ia ketika bangunan itu selesai dipugar, sang guru justru mengajaknya melanjutkan perjalanan dan meninggalkan bangunan tersebut.
Nabi Musa kembali bertanya: untuk apa menghabiskan waktu dan tenaga membangun sesuatu yang kemudian ditinggalkan begitu saja? Pertanyaan ini menjadi pelanggaran ketiga sekaligus terakhir.
Sang guru menyatakan bahwa Nabi Musa belum pantas menjadi muridnya. Kali ini, Nabi Musa tidak lagi meminta maaf. Ia pasrah menerima kenyataan bahwa dirinya gagal menjadi murid.
Sebelum berpisah, sang guru (Khidhir) menjelaskan semua peristiwa yang sebelumnya menimbulkan kegelisahan. Perahu-perahu nelayan sengaja dilubangi karena keesokan harinya raja zalim akan merampas semua perahu yang masih layak pakai. Dengan kerusakan kecil itu, perahu-perahu tersebut justru terselamatkan dan masih dapat diperbaiki.
Anak kecil itu dibunuh karena kelak, jika dewasa, ia akan menjadi sumber kerusakan dan bahkan dapat menyesatkan kedua orang tuanya. Adapun bangunan yang dipugar, di bawahnya tersimpan harta karun milik anak yatim yang masih kecil. Ketika dewasa nanti, mereka akan memanfaatkannya dengan baik.
Baca juga : Alam Jabarut dan Ilmu Martabat Tujuh
Nabi Musa hanya bisa tercengang. Ia menyadari bahwa di atas langit masih ada langit—bahwa ada dimensi pengetahuan yang melampaui jangkauan logika semata.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Selasa, 31 Maret 2026 dengan judul "Kajian Teosofi (11) Meninjau Epistemologi Keilmuan"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.