Dark/Light Mode

Sinergi Antariksa Biak: Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia dalam Bingkai Neoliberalisme dan Strategi Equidistance

Senin, 3 Agustus 2026 20:38 WIB
Adri Arlan Sinaga
Adri Arlan Sinaga
mahasiswa PhD School of Internasional Relations (SIR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada momentum krusial bagi perkembangan teknologi Indonesia dengan adanya penjajakan kerja sama antariksa bersama Rusia. Rencana pembangunan bandar antariksa dan peluncuran satelit luar angkasa di Biak, Papua, bukan sekadar proyek pembangunan infrastruktur teknologi, melainkan langkah diplomasi transformatif yang visioner (Cross & Pekkanen, 2023). Dalam kacamata Hubungan Internasional, kolaborasi ini berpijak kuat pada teori Neoliberalisme atau Institusionalisme Liberal.

Keohane (1984), melalui After Hegemony: Cooperation and Discord in the World Political Economy, menegaskan bahwa institusi dan kerja sama internasional diciptakan untuk mengelola ketergantungan antarnegara (interdependence) guna mencapai keuntungan bersama (absolute gains). Melalui kemitraan ini, Indonesia mendapatkan akses transfer teknologi dan penguatan kapabilitas keantariksaan, sementara Rusia memperluas jangkauan geostrategis komersialnya (Pankova, Gusarova, & Stefanovich, 2021). Interaksi terstruktur semacam ini pada akhirnya akan membantu mengurangi ketidakpastian dan membangun rasa saling percaya di antara kedua negara.

Untuk membaca arah kemitraan ini secara utuh, kerangka analitis Neoliberalisme perlu dipertajam dengan pandangan Joseph S. Nye Jr. tentang complex interdependence (Keohane & Nye, 1977) dan soft power (Nye, 2004). Nye menyadarkan kita bahwa hubungan antarbangsa modern tidak lagi didominasi oleh isu keamanan militer konvensional, melainkan berkelindan erat dengan diplomasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Rusia tidak hanya melihat fasilitas di Biak untuk kepentingan efisiensi peluncuran, tetapi juga menjadikannya instrumen daya tarik diplomasi sains guna memperkuat pengaruhnya di mata negara-negara Global South.

Kendati demikian, Nye juga memberikan peringatan tajam mengenai risiko ketergantungan asimetris atau asymmetrical interdependence (Keohane & Nye, 1977). Indonesia harus memastikan posisinya tidak sekadar menjadi penyewa lahan, melainkan mitra setara. Posisi tawar nasional berisiko melemah apabila tingkat ketergantungan Indonesia pada infrastruktur dan kepakaran antariksa Rusia jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan Rusia terhadap lokasi kita.

Baca juga : Persita Resmi Rekrut Luquinhas, Eks PSBS Biak

Menghadapi potensi asimetri tersebut, strategi politik luar negeri Indonesia dapat dijelaskan melalui teori equidistance (menjaga jarak yang berimbang). Dalam dinamika geopolitik kontemporer, equidistance merujuk pada manuver sebuah negara berkembang untuk menjaga jarak diplomatik yang sama dengan kekuatan-kekuatan besar yang sedang bersaing. Analisis dari berbagai lembaga kajian strategis, termasuk ISEAS-Yusof Ishak Institute, kerap menyoroti bagaimana Indonesia secara konsisten menerapkan strategi hedging untuk menghindari ketergantungan absolut pada satu kutub kekuatan (Laksmana, 2018).

Dengan menggandeng Roscosmos (Rusia), Indonesia mempraktikkan equidistance untuk menyeimbangkan dominasi teknologi antariksa Barat (seperti NASA atau kemitraan komersial SpaceX) maupun Tiongkok atau CNSA (Alfathimy et al., 2022; Yeh, 2023). Manuver ini merupakan manifestasi nyata dari doktrin politik luar negeri bebas-aktif, di mana Indonesia bermanuver secara otonom demi mengejar kepentingan nasional tanpa harus terseret ke dalam aliansi pertahanan salah satu blok.

Dari segi kalkulasi teknis dan kelayakan ekonomi, kemitraan ekuilibrium ini didukung oleh data kuantitatif yang solid. Riset keantariksaan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mewarisi cetak biru dari LAPAN mencatat bahwa posisi geografis Biak yang berada di lintang 1 derajat Selatan khatulistiwa memberikan keuntungan hukum fisika yang masif (Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, n.d.). Berdasarkan kalkulasi teknis antariksa, peluncuran roket dari garis ekuator mampu memanfaatkan kecepatan maksimal rotasi bumi (sekitar 1.670 kilometer per jam) sebagai daya dorong alami.

Secara kuantitatif, hal ini menghemat konsumsi bahan bakar roket hingga 30 persen jika dibandingkan dengan peluncuran dari fasilitas lintang tinggi seperti Kosmodrom Baikonur (46 derajat Lintang Utara) atau Vostochny milik Rusia. Efisiensi bahan bakar ini berbanding lurus dengan kemampuan roket untuk membawa muatan satelit (payload) yang jauh lebih berat, sehingga menekan biaya operasional secara drastis. BRIN juga mencatat bahwa lahan seluas kurang lebih 100 hektare di kawasan Biak Utara telah disiapkan sejak lama untuk merealisasikan visi fasilitas bernilai strategis ini (Setiaan et al., 2023).

Baca juga : BPDP Perkuat Kemitraan Sawit Indonesia-Rusia Lewat INNOPROM 2026

Namun demikian, pemikiran kritis harus tetap menjadi garda depan dalam mengawal kemitraan ini. Integrasi pemikiran Keohane tentang keuntungan bersama dan manuver equidistance menunjukkan bahwa kerja sama antariksa Biak menjanjikan prospek yang menguntungkan. Namun, kalkulasi keuntungan teknis dan geopolitik tersebut tidak boleh mengesampingkan realitas di akar rumput.

Dari sisi domestik, aspek keberlanjutan ekologis dan perlindungan terhadap hak-hak ulayat masyarakat adat di Biak harus ditempatkan sebagai prasyarat mutlak yang tidak bisa ditawar. Pembangunan infrastruktur berteknologi tinggi tidak akan memiliki makna kedaulatan jika menciptakan marginalisasi sosial. Kemitraan dengan Rusia ini harus dipastikan membawa alih teknologi yang terukur, menjaga otonomi strategis Indonesia di kancah global, dan yang terpenting, memberikan kemanfaatan konkrit bagi peningkatan kesejahteraan dan pendidikan sains masyarakat Papua.

Daftar Referensi

Alfathimy, D. H. A., et al. (2022). The Indo-Pacific and Space Diplomacy: Opportunities and Challenges. Astropolitics, 20(1), 43-63. DOI: 10.1080/14777622.2022.2081076
Cross, M. K. D., & Pekkanen, S. M. (2023). Introduction. Space Diplomacy: The Final Frontier of Theory and Practice. The Hague Journal of Diplomacy, 18(2-3), 193-217. DOI: 10.1163/1871191x-bja10152
Keohane, R. O. (1984). After hegemony: Cooperation and discord in the world political economy. Princeton University Press.
Keohane, R. O., & Nye, J. S. (1977). Power and interdependence: World politics in transition. Little, Brown and Company.
Laksmana, E. A. (2018). Pragmatic equidistance: How Indonesia manages its great power relations. ISEAS–Yusof Ishak Institute.
Nye, J. S. (2004). Soft power: The means to success in world politics. PublicAffairs.
Pankova, L. V., Gusarova, O. V., & Stefanovich, D. V. (2021). International Cooperation in Space Activities amid Great Power Competition. Russia in Global Affairs, 19(4), 97-117. DOI: 10.31278/1810-6374-2021-19-4-97-117
Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. (n.d.). Gagasan pembangunan bandar antariksa di Indonesia. https://setkab.go.id/gagasan-pembangunan-bandar-antariksa-di-indonesia/
Setiawan, E., et al. (2023). Development of Supporting Technology for Sustainable Spaceport Development. International Journal of Sustainable Development and Planning, 18(6). DOI: 10.18280/ijsdp.180630
Yeh K.-H. (2023). Middle Powers in the Space Development: A Comparative Analysis of South Korea and Indonesia. Balkan Social Science Review, 21, 143-167. DOI: 10.46763/BSSR2321143y

Baca juga : DPD Dukung Pengembangan Bandar Antariksa Nasional Di Pulau Biak

Profil Penulis
Adri Arlan Sinaga adalah Mahasiswa Doktoral (S3) Hubungan Internasional di University of International Business and Economics (UIBE), Beijing. Fokus kajiannya mencakup kebijakan luar negeri, keamanan global, serta dinamika geopolitik ASEAN dan BRICS. Kontak email: [email protected]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.