Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Indonesia Dihormati Dunia Setelah Kemerdekaan Karena Pendiri KAA Bandung
Selasa, 18 Agustus 2026 07:15 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Sebelumnya
Kekuatan moral Bandung kemudian menemukan bentuk yang lebih konkret melalui Dasasila Bandung. Prinsip penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah, persamaan derajat, hak menentukan nasib sendiri, penolakan terhadap agresi, serta penyelesaian sengketa secara damai menunjukkan bahwa Indonesia tidak datang ke panggung dunia hanya untuk meminta pengakuan. Indonesia datang membawa nilai.
Karena itu, kehormatan Indonesia pada masa tersebut bukan semata-mata karena Bung Karno berdiri di hadapan para pemimpin Asia-Afrika, melainkan karena Indonesia mampu mengubah pengalaman kolonialnya menjadi gagasan universal tentang keadilan dan perdamaian. Indonesia memahami bahwa bangsa yang pernah dijajah tidak boleh mengulang praktik penjajahan dalam bentuk apa pun. Kemerdekaan harus menjadi dasar untuk menghormati kemerdekaan bangsa lain.
Baca juga : BNI Catat Fundamental Bisnis Kokoh di Bawah Danantara
Kemudian kini, delapan dekade setelah Proklamasi, pertanyaan yang lebih penting justru diarahkan kepada generasi sekarang. Apakah semangat Bandung masih hidup dalam cara Indonesia menjalankan kemerdekaannya? Apakah kedaulatan telah menjadi kenyataan dalam pengelolaan sumber daya alam, ekonomi, teknologi, pangan, energi, wilayah laut, dan ruang strategis nasional? Apakah keadilan telah dirasakan secara merata oleh masyarakat, atau masih terdapat kesenjangan yang membuat sebagian rakyat menikmati kemajuan sementara sebagian lainnya tertinggal?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena kemerdekaan tidak boleh berubah menjadi romantisme sejarah yang hanya dirayakan setiap bulan Agustus. Bendera merah putih yang berkibar harus mengingatkan, bahwa tugas kemerdekaan belum selesai ketika masih terdapat ketimpangan, ketergantungan, lemahnya daya saing, dan kerentanan terhadap tekanan eksternal.
Dalam dunia yang kembali mengalami rivalitas kekuatan besar, perang dagang, konflik geopolitik, perlombaan teknologi, perebutan sumber daya, serta perubahan rantai pasok global, semangat Bandung justru semakin relevan. Indonesia tidak boleh kembali terjebak dalam posisi sebagai objek yang hanya mengikuti arus keputusan kekuatan besar. Kedaulatan pada abad ke-21 tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan mempertahankan wilayah secara fisik.
Kehormatan Indonesia lahir ketika kemerdekaan diterjemahkan menjadi keberanian untuk berpikir dan bertindak sebagai bangsa yang berdaulat. Karena itu, peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 seharusnya tidak berhenti pada upacara di Istana Merdeka, pengibaran bendera, dan berbagai seremoni kebangsaan.
Momentum tersebut harus menjadi refleksi nasional mengenai apakah kita masih memiliki keberanian moral seperti para pendiri KAA Bandung. Sebab, bangsa yang hanya mewarisi kemerdekaan tanpa mewarisi keberanian para pendirinya akan kehilangan makna kemerdekaan itu sendiri. Tantangan generasi sekarang adalah memastikan bahwa kehormatan itu tidak menjadi fosil sejarah, melainkan terus hidup dalam mewujudkan Indonesia Raya yang benar-benar berdaulat, kokoh kemandirian ekonominya, dan makmur dalam keadilan sosial.
Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Pemerhati Geopolitik, dan Geostrategi, serta Manajemen Pemerintahan. Dan Alumni US FACOM (sekarang INDO-PASIFIK) Tahun 2002.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya