Dark/Light Mode

Pendidikan Dokter Spesialis Paru

Selasa, 3 November 2026 19:42 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Pada 2 November 2026, saya memberi kuliah pada Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Paru FKUI di ruang kuliah mereka, sekarang ada 109 orang peserta PPDS Paru di FKUI.

Saya sampaikan bahwa pada tahun 1984 sampai 1987, saya juga duduk di bangku kulian pendidikan dokter spesialis paru, waktu itu istilahnya belumlah PPDS dan kami disebut sebagai “Asisten”.

Tentu ruang kuliah di tahun 80-an itu berbeda dengan yang di tahun 2026 sekarang ini, dan presentasi masih menggunakan plastik bening yang ada tulisan atau gambarnya, yang ketika itu disebut “transparan” dan tentu belum pakai slide (apalagi AI) seperti sekarang ini.

FKUI sampai sekarang sudah melahirkan 628 dokter spesialis paru yang bekerja di berbagai daerah, termasuk yang “lansia” seperti angkatan saya.

Baca juga : KSP Dorong Pendidikan Berbasis Teknologi & AI

Di seluruh Indonesia kini ada 20 Pusat Studi yang mendidik dokter spesialis Paru, yang nama resminya adalah Program Studi Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi. Data terbaru menyebutkan bahwa kini ada 879 Peserta PPDS Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi di 19 Universitas di negara kita, dengan jumlah dosen “home-based” sebanyak 273 orang.

Setelah nanti mereka lulus maka akan menjadi Dokter Spesialis Paru, atau kadang-kadang juga disebutkan sebagai Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan, dan melengkapi 1986 Dokter Spesialis Paru yang kini sudah ada yang semuanya menjadi anggota Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

Pada kuliah kemarin, sebelum membahas tentang aspek ilmiah maka saya sampaikan bahwa kemungkinan pengembangan karier sesudah mereka lulus nanti amatlah luas.

Mereka tentu akan bekerja di berbagai Rumah Sakit dan Klinik baik pemerintah pusat dan daerah, TNI/POLRI, BUMN, swasta dll. Juga akan ada yang berkarya di Universitas, baik Universitas Negeri ataupun swasta.

Baca juga : Higgs Technology-Disdik Jatim Kembangkan Kecerdasan Buatan bagi Guru

Saya juga perkenalkan bahwa juga ada kemungkinan pengembangan karier lain di luar negeri, termasuk bergabung dengan badan dunia seperti WHO.

Kita tahu bahwa ada setidaknya ada tiga kelompok masalah kesehatan paru yang jadi perhatian dunia dan juga ligkup kerja WHO.

Pertama tentang infeksi/penyakit menular, mulai dari COVID-19 dan potensi pandemi akan datang yang mungkin bersifat “air-borne” juga, dan penyakit infeksi lain seperti tuberkulosis, ISPA dll.

Kedua adalah Asma Bronkiale, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan penyakit paru kronik lainnya, dan ketiga adalah masalah kesehatan paru yang meliputi rokok serta polusi udara.

Baca juga : Dalam 2 Tahun, Prabowo Bangun 5 SMA Tarnus

Semoga pada peserta program pendidikan Dokter Spesialis Paru ini dapat menimba ilmu di Universitas tempat mereka kini belajar, dan kelak menjadi Dokter Spesialis yang handal menjaga kesehatan paru dan pernapasan anak bangsa kita.

Prof Tjandra Yoga Aditama.

Dokter Spesialis Paru sejak 1988, Profesor Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi sejak 2008. Ketua Umum PDPI 1999 – 2002, kini Ketua Majelis Kehormatan PDPI

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.