Dark/Light Mode

Etika Politik Nabi Muhammad SAW (54)

Antara Politik Islam Dan Islam Politik (2)

Minggu, 17 Januari 2021 05:00 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Butir-butir perjanjian itu diteri­ma agar kaum kafir Quraisy Mekah tidak ditahan di Madinah agar tidak ikut mem­bebani ekonomi Madinah yang sudah dibanjiri pengungsi. Sedangkan orang Islam yang dibi­arkan ditahan di Mekkah, pasti akan berusaha menjalankan politik tertentu untuk memecah belah kekuatan kaum kafir Quraisy di sana.

Alhasil, semua prediksi Rasulullah benar. Sahabat kemudian mengagumi kecerdasan Rasulullah. Akhirnya, Rasulullah SAW semakin menakjubkan di mata para sahabatnya.

Berita Terkait : Antara Politik Islam Dan Islam Politik (3)

Contoh kasus semacam inilah yang disebut Politik Islam. Terkadang harus mundur selangkah untuk meraih kemenangan. Dalam posisi umat Islam masih minoritas, tidak ada cara terbaik kecuali kooperatif dengan keiinginan mayoritas, demi menyelamatkan umat. Terkadang juga harus bersabar dan menanti saat yang tepat, untuk memulai sebuah strategi baru untuk mencapai kesuksesan menyeluruh.

Politik Islam bukan untuk mentolerir jatuhnya korban hanya untuk mencapai kemenangan politik secara simbolis. Kemenangan substansial jauh lebih berharga ketimbang kemenangan sim­bolik. Untuk apa kemenangan simbolik jika substansi Islam tidak bisa diimple­mentasikan, apalagi kalu merugikan Islam.

Berita Terkait : Ketum PP PBSI Agung Firman Semangati Atlet Indonesia Di Thailand Open 2021

Dalam kasus yang berbeda, ketika Ali dan Mu’awiya berseteru, masing-mas­ing tidak ada yang mau mengalah. Ali sudah dilantik menjadi khalifah keem­pat, tetapi tidak diakui oleh Mu’awiyah. Karena tidak ada yang mau mengalah, maka terjadilah peperangan yang disebut Perang Shiffin. Mu’awiyah didukung oleh ‘Aisyah, isteri Nabi dan Ali tentu saja didukung oleh isterinya, Fathimah, putri Nabi.

Perang tidak dapat dielakkan antara keduanya. Di tengah perang saudara ini, Amr ibn ‘Ash yang dikenal sebagai politikus cerdik di pihak Mu’awiyah, menyerukan gencatan senjata dan per­damaian. Ia menggunakan simbol 500 Al-Quran yang diusung diujung tombak sambil mengajak semua pasukan untuk kembali kepada penyelesaian secara Al-Quran. Ali dan Mu’awiyah menyetujuinya. **