Dark/Light Mode

The 6th Siloam Oncology Summit 2026: Obesitas Picu Kanker Gastrointestinal

Jumat, 29 Mei 2026 17:30 WIB
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik dari MRCCC Siloam Semanggi, dr. Santi Christiani Gultom, SpPD-KHOM, memaparkan tentang risiko kanker gastrointestinal dan kaitannya dengan obesitas pada Breakfast Symposium dalam rangkaian The 6th Siloam Oncology Summit 2026. (Foto: Dok. MRCCC Siloam Semanggi)
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik dari MRCCC Siloam Semanggi, dr. Santi Christiani Gultom, SpPD-KHOM, memaparkan tentang risiko kanker gastrointestinal dan kaitannya dengan obesitas pada Breakfast Symposium dalam rangkaian The 6th Siloam Oncology Summit 2026. (Foto: Dok. MRCCC Siloam Semanggi)

RM.id  Rakyat Merdeka - MRCCC Siloam Semanggi kembali menyelenggarakan The 6th Siloam Oncology Summit 2026 di Jakarta pada 22-24 Mei 2026.

Kegiatan ini menegaskan komitmen MRCCC Siloam Semanggi sebagai rumah sakit rujukan kanker di Indonesia dan Asia Tenggara dalam menghadirkan layanan onkologi berstandar global, sekaligus memperkuat kolaborasi internasional.

Salah satunya melalui kehadiran pembicara dari berbagai negara dan kemitraan strategis dengan institusi dunia, termasuk The University of Texas MD Anderson Cancer Center (UT MD Anderson).

Chief Executive Officer Siloam International Hospitals.Caroline Riady, mengatakan,  bahwa Siloam Oncology Summit merupakan bagian dari komitmen Siloam International Hospitals dalam memperkuat kualitas layanan kanker di Indonesia.

“Siloam International Hospitals percaya bahwa kualitas layanan kanker tidak hanya ditentukan teknologi dan fasilitas, tetapi juga oleh kesiapan dan kompetensi tenaga kesehatannya," ujar Caroline dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).

Caroline menambahkan, Siloam International Hospitals berkomitmen memperkuat kapabilitas klinis melalui pembelajaran berkelanjutan, kolaborasi lintas disiplin, dan koneksi dengan komunitas medis global.

Baca juga : MRCCC Siloam Semanggi Tegaskan sebagai RS Rujukan Kanker RI dan Asia Tenggara

"Melalui Siloam Oncology Summit 2026, kami ingin berkontribusi dalam mendorong standar penanganan kanker yang lebih maju agar pasien di Indonesia dan Asia Tenggara dapat memperoleh layanan kanker berstandar internasional,” ujar Caroline.

Sementara itu, Executive Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Edy Gunawan, MARS menambahkan, bahwa perkembangan ilmu onkologi, termasuk precision oncology, menuntut kesiapan tenaga kesehatan dalam memahami pendekatan terapi yang semakin personal, berbasis biomarker, dan didukung teknologi diagnostik yang terus berkembang.

“MRCCC Siloam Semanggi percaya bahwa pengembangan layanan kanker berkualitas membutuhkan pembelajaran berkelanjutan, adopsi teknologi, dan sinergi berbagai disiplin ilmu agar penanganan kanker di Indonesia dapat terus berkembang," ujar Edy.

Edy menambahkan, perkembangan terapi kanker modern tidak hanya berfokus pada peningkatan survival pasien, tetapi juga kualitas hidup melalui pendekatan terapi yang lebih personal dan minim efek samping.

Selain menjadi wadah pertukaran ilmiah, The 6th Siloam Oncology Summit 2026 mempertegas komitmen MRCCC Siloam Semanggi dalam mendukung implementasi Rencana Kanker Nasional melalui penguatan kapabilitas tenaga kesehatan, pengembangan riset dan evidence klinis, serta kolaborasi multidisiplin lintas sektor.

Melalui inisiatif ini, MRCCC Siloam Semanggi terus mendorong transformasi layanan onkologi melalui inovasi teknologi, peningkatan kompetensi medis, dan kolaborasi strategis, sekaligus memperkuat kesiapan ekosistem onkologi nasional dalam menghadirkan layanan kanker yang lebih terintegrasi, berkualitas, dan berpusat pada pasien di masa depan.

Baca juga : Siloam Oncology Summit 2026 Hadirkan Pakar Dunia

Sebelumnya di sesi Breakfast Symposium, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi, dr. Santi Christiani Gultom, SpPD-KHOM, memaparkan tentang risiko kanker gastrointestinal dan kaitannya dengan obesitas.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), obesitas adalah penyakit kronis yang timbul akibat interaksi kompleks antara faktor genetika, neurobiologi, perilaku makan, akses terhadap diet sehat, hingga faktor lingkungan.

Diagnosis kelebihan berat badan atau obesitas dilakukan dengan mengukur berat dan tinggi badan seseorang serta menghitung indeks massa tubuh (BMI): berat (kg)/tinggi² (m²). Berdasarkan kriteria Asia Pasifik, obesitas tingkat 1 ditetapkan jika nilai BMI berada pada rentang 25–29,9 kg/m², sedangkan obesitas tingkat 2 ditetapkan jika nilai BMI ≥ 30 kg/m².

“Data menunjukkan bahwa terdapat 13 jenis kanker yang berhubungan erat dengan obesitas, yaitu di antaranya kanker kolorektal, payudara, endometrium, pankreas, hati, dan ginjal," kata Santi.

Menurutnya, lebih dari 90 persen pasien kanker berusia 50 tahun atau lebih mengalami obesitas. Fakta lain menunjukkan bahwa overweight atau obesitas juga berkaitan dengan peningkatan risiko kanker usus hingga hampir 60 persen,”  ujar Santi.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Subspesialis Nutrisi pada Kelainan Metabolisme Gizi MRCCC Siloam Semanggi, Dr. dr. Samuel Oetoro, MS, Sp.GK (K) menekankan pentingnya perubahan gaya hidup untuk mempertahankan berat badan ideal dan mencegah obesitas.

Baca juga : Indonesia Economic Summit 2026 Akselerasi Transformasi Ekonomi Nasional

“Setiap penurunan berat badan sebesar 10 persen dapat menurunkan risiko kanker yang terkait dengan obesitas. Semakin besar penurunan berat badan, semakin rendah pula risiko kanker,” ujarnya.

Menurutnya penurunan obesitas dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup, seperti membatasi asupan kalori, meningkatkan konsumsi makanan bergizi, mengurangi lemak tubuh, serta meningkatkan massa otot.

Obesitas juga dapat ditangani dengan pendekatan farmakologis, misalnya pemberian agonis reseptor GLP-1 (seperti semaglutide), serta tindakan bedah bariatrik pada kasus obesitas berat.

Hubungan antara obesitas dan kanker menunjukkan bahwa kelebihan berat badan bukan sekadar persoalan penampilan, tetapi juga merupakan faktor risiko serius bagi kesehatan jangka panjang.

Santi menambahkan, berbagai perubahan biologis akibat obesitas, seperti peradangan kronis, gangguan hormonal, dan resistensi insulin,

"Dengan demikian, menjaga berat badan ideal melalui pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, dan gaya hidup seimbang merupakan langkah penting untuk mencegah kanker serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan," pungkas Santi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.