Dark/Light Mode

Gelar Siloam Oncology Summit 2026

MRCCC Siloam Semanggi Tegaskan sebagai RS Rujukan Kanker RI dan Asia Tenggara

Senin, 25 Mei 2026 08:18 WIB
The 6th Siloam Oncology Summit 2026 (Foto: Dok. Siloam)
The 6th Siloam Oncology Summit 2026 (Foto: Dok. Siloam)

RM.id  Rakyat Merdeka - MRCCC Siloam Semanggi menyelenggarakan The 6th Siloam Oncology Summit 2026 di Jakarta, pada 22–24 Mei 2026. Kegiatan ini menegaskan komitmen MRCCC Siloam Semanggi sebagai rumah sakit rujukan kanker di Indonesia dan Asia Tenggara dalam menghadirkan layanan onkologi berstandar global, sekaligus memperkuat kolaborasi internasional melalui kehadiran pembicara dari berbagai negara dan kemitraan strategis dengan institusi dunia, termasuk The University of Texas MD Anderson Cancer Center (UT MD Anderson).

Chief Executive Officer Siloam International Hospitals, Caroline Riady, menyampaikan bahwa Siloam Oncology Summit merupakan bagian dari komitmen Siloam International Hospitals dalam memperkuat kualitas layanan kanker di Indonesia. Siloam International Hospitals percaya bahwa kualitas layanan kanker tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan fasilitas, tetapi juga oleh kesiapan dan kompetensi tenaga kesehatannya.

"Karena itu, kami berkomitmen untuk memperkuat kapabilitas klinis melalui pembelajaran berkelanjutan, kolaborasi lintas disiplin, dan koneksi dengan komunitas medis global. Melalui Siloam Oncology Summit 2026, kami ingin berkontribusi dalam mendorong standar penanganan kanker yang lebih maju agar pasien di Indonesia dan Asia Tenggara dapat memperoleh layanan kanker berstandar internasional,” ujar Caroline Riady, dalam keterangan resmi, Senin (25/5/2026).

Executive Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Edy Gunawan, menambahkan bahwa perkembangan ilmu onkologi, termasuk precision oncology, menuntut kesiapan tenaga kesehatan dalam memahami pendekatan terapi yang semakin personal, berbasis biomarker, dan didukung teknologi diagnostik yang terus berkembang.

“MRCCC Siloam Semanggi percaya bahwa pengembangan layanan kanker yang berkualitas membutuhkan pembelajaran berkelanjutan, adopsi teknologi, dan sinergi berbagai disiplin ilmu agar penanganan kanker di Indonesia dapat terus berkembang. Perkembangan terapi kanker modern tidak hanya berfokus pada peningkatan survival pasien, tetapi juga pada kualitas hidup melalui pendekatan terapi yang lebih personal dan minim efek samping,” ujarnya.

Selain menjadi wadah pertukaran ilmiah, The 6th Siloam Oncology Summit 2026 mempertegas komitmen MRCCC Siloam Semanggi dalam mendukung implementasi Rencana Kanker Nasional melalui penguatan kapabilitas tenaga kesehatan, pengembangan riset dan evidence klinis, serta kolaborasi multidisiplin lintas sektor. Melalui inisiatif ini, MRCCC Siloam Semanggi terus mendorong transformasi layanan onkologi melalui inovasi teknologi, peningkatan kompetensi medis, dan kolaborasi strategis, sekaligus memperkuat kesiapan ekosistem onkologi nasional dalam menghadirkan layanan kanker yang lebih terintegrasi, berkualitas, dan berpusat pada pasien di masa depan.

Salah satu sesi workshop di Siloam Oncology Summit 2026, yang berlangsung pada Jumat, 22 Mei 2026, mengambil tema Lung Cryoablation.

Menurut Assoc. Prof. Gurmeet Singh, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Subspesialis Pulmonologi dan Medik Kritis di MRCCC Siloam Semanggi, kanker paru merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker di dunia, dan masih banyak pasien yang baru datang ke dokter dalam stadium lanjut.

Kanker paru dibagi menjadi dua klasifikasi utama: NSCLC (Non-Small Cell Lung Cancer atau kanker paru bukan sel kecil), dan SCLC (Small Cell Lung Cancer atau kanker paru sel kecil). “Sebagian besar kanker paru termasuk NSCLC (85 persen), dan hanya sekitar 10 persen SCLC,” ujar Prof. Gurmeet.

Baca juga : Siloam Oncology Summit 2026 Hadirkan Pakar Dunia

Ditekankan oleh Prof. Gurmeet, penting untuk menentukan jenis dan histologi kanker paru, karena akan memengaruhi strategi pengobatan. “NSCLC adalah indikasi utama untuk operasi, SBRT (Stereotactic Body Radiotherapy) dan ablasi,” ujarnya.

Operasi atau pembedahan masih menjadi standar emas untuk terapi lokal kanker paru. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, modalitas terapi pun terus berkembang. SBRT menjadi standar untuk pasien yang tidak memungkinkan menjalani operasi. Kini, juga telah dikembangkan ablasi dengan panduan pencitraan, misalnya cryoablation yang invasif minimal.

“Untuk menentukan apakah pasien merupakan kandidat yang sesuai untuk cryoablation, tim dokter akan berdiskusi dengan mempertimbangkan kondisi kanker dan kondisi pasien berdasarkan berbagai hasil pemeriksaan,” terang Prof. Gurmeet. Sejauh ini, telah dilakukan 7-8 tindakan cryoablation di MRCCC Siloam.

Cryoablation

Ablasi terbagi menjadi dua jenis, yaitu ablasi panas dan ablasi dingin. Pada cryoablation, jaringan kanker dipaparkan pada suhu dingin ekstrem untuk menghancurkan sel tumor. Prosedur ini melibatkan siklus freezethaw (pembekuan dan pencairan) yang biasanya dilakukan sebanyak tiga kali.

Dijelaskan dr. Rio Hermawan, Dokter Spesialis Radiologi di MRCCC Siloam Semanggi, cryoablation dilakukan dengan panduan CT scan untuk melihat posisi tumor dengan presisi. Selanjutnya, dimasukkan jarum khusus yang disebut cryoprobe, ke dalam lesi kanker. Setelah itu, dialirkan gas argon yang sangat dingin, hingga terbentuk bola es (ice ball) di dalam lesi kanker.

“Dengan suhu yang sangat dingin, kita harapkan tumor akan mati. Pusat bola es adalah zona yang paling menghancurkan tumor. Kita harus memastikan bahwa ice ball menutupi seluruh bagian kanker,” tutur dr. Rio. Secara sederhana, cryoablation membunuh tumor dengan cara membekukannya.

Ia menjelaskan, kristalisasi yang terbentuk dari pembekuan dengan cryo membekukan membran sel kanker. Tak hanya itu, pembekuan juga merusak vaskular (pembuluh darah) di sekitar kanker, sehingga terjadi trombosis (sumbatan pembuluh darah), iskemia (pecahnya pembuluh darah), dan nekrosis (kematian) jaringan kanker. Tak berhenti di situ, proses pematian kanker terus berjalan.

“Terjadi berbagai respons imun yang memicu reaksi lebih lanjut dari imunologi. Proses pematian kanker dengan cryoablation akan terus berjalan hingga berbulan-bulan kemudian, bisa sampai 3–6 bulan,” imbuh dr. Rio.

Cryoablation memiliki beberapa keunggulan. Prosedur ini bersifat invasif minimal. Artinya, tidak melibatkan operasi terbuka; hanya memerlukan sayatan kecil untuk memasukkan jarum cryoprobe. Nyeri yang ditimbulkan lebih sedikit, pemulihan lebih cepat, sehingga lebih nyaman bagi pasien.

Baca juga : Gema Sadhana Ajak Lintas Agama Doakan Kedamaian Dunia

Apakah cryoablation bisa menggantikan operasi terbuka? “Bukan menggantikan. Masing-masing ada indikasinya,” ujar dr. Rio.

Untuk saat ini, operasi masih menjadi gold standard untuk kanker paru jenis NSCLC. “Namun, kadang usia pasien kanker paru sudah lanjut dan memiliki berbagai komorbid, seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, atau diabetes, yang akan menyulitkan bila dilakukan operasi terbuka. Pada pasien dengan kondisi demikian, cryoablation bisa menjadi alternatif,” tuturnya.

Kondisi tumor juga menentukan apakah cryoablation bisa dilakukan. “Masing-masing prosedur ada indikasinya. Untuk cryoablation, indikasinya yaitu untuk tumor berukuran kecil di bawah 3 atau 4 cm, dan lokasi tumor di pinggir,” terang dr. Rio.

Bukan berarti tumor yang lokasinya di tengah, dekat pembuluh darah, atau dekat jantung tidak bisa. “Hanya saja, agak lebih sulit,” tambahnya.

Prosedur ini bisa dikerjakan pada kanker paru primer maupun kanker paru sekunder (metastasis/penyebaran dari kanker di tempat lain). “Misalnya kanker payudara atau kanker ovarium yang sudah menyebar ke paru. Dengan catatan, jumlah penyebarannya masih sedikit (oligometastasis), yaitu kurang dari tiga atau lima titik,” tandas dr. Rio.

Cryoablation bisa dikerjakan melalui dua mekanisme: bronkoskopi dan perkutan. Pada bronkoskopi, cryoprobe dimasukkan melalui saluran napas (bronkus) dari mulut dengan alat bronkoskop, sedangkan pada perkutan, cryoprobe dimasukkan langsung melalui sayatan pada kulit. “Bronkoskopi dikerjakan pada tumor yang letaknya dekat saluran napas. Namun bila letak tumor di pinggir, perkutan jadi pilihan yang lebih baik,” jelasnya.

Dr. Daksh Chandra, Senior Consultant, Dept. of Interventional Radiology di MAX Nanavati Hospital, Mumbai, menjelaskan lebih lanjut soal cryoablation. Menurutnya, prosedur ini bisa ditawarkan sebagai pengobatan ablatif definitif.

“Baik sebagai terapi salvasi (salvage therapy) untuk pasien dengan kekambuhan lokal-regional setelah menjalani operasi atau radioterapi, dan pada pasien dengan kanker oligometastatik, oligoprogresif, dan oligoresistan,” tuturnya.

Cryoablation dilakukan dengan panduan CT scan. Pada tumor yang ukurannya lebih besar, bisa digunakan lebih dari satu cryoprobe, dengan jarak antara probe minimal 10–20 mm.

Baca juga : Kolaborasi UT MD Anderson dan MRCCC Siloam Semanggi Perkuat Layanan Kanker

“Ini untuk mencapai efek sinergistik dan memfasilitasi pembentukan bola es yang kohesif. Maksimal kita bisa menggunakan enam cryoprobe dalam sekali tindakan, sesuai dengan kemampuan alat,” terang Dr. Daksh.

Ia menjelaskan, probe tidak harus selalu dimasukkan langsung ke lesi kanker; opsi lain bisa ditempatkan secara strategis di sekitarnya (teknik bracketing).

“Jadi kita menggunakan dua cryoprobe dan ditempatkan di sisi-sisi tumor, untuk menghancurkannya dari dua sisi. Pemilihan untuk menggunakan teknik bracketing atau memasukkan cryoprobe ke dalam lesi, tergantung dari preferensi dokter yang mengerjakan, dan seberapa besar ukuran lesi kanker,” jelasnya.

Selama tindakan, dilakukan monitoring dengan CT tiap 3–5 menit untuk melihat pembentukan bola es, lalu dilakukan pemeriksaan CT pasca prosedur untuk memonitor komplikasi.

Satu jam pascaoperasi, juga dilakukan pemeriksaan dengan sinar X. Selanjutnya, pasien akan dirawat di ruang intensif selama beberapa saat, atau kembali ke ruang perawatan, tergantung kondisinya. Sehari setelah tindakan, pasien diperbolehkan pulang.

Dr. Daksh menambahkan, di masa depan, cryoablation berpotensi untuk dikombinasi dengan berbagai imunoterapi sistemik. Beberapa studi skala kecil menemukan, cryoablation mengaktivasi sel-sel imun dengan lebih baik, dan menunjukkan respons yang lebih baik terhadap beberapa obat imunoterapi. “Ini membuka kemungkinan untuk pengobatan kanker paru stadium lanjut,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.