Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Novo Nordisk Tekankan Pentingnya Pahami Dampak Obesitas Pada Reproduksi Wanita
Jumat, 31 Juli 2026 14:55 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Novo Nordisk Indonesia mengingatkan, bahwa obesitas merupakan penyakit metabolik kronis yang dapat memengaruhi kesehatan perempuan secara menyeluruh, termasuk kesehatan metabolik, kardiovaskular, mental dan reproduksi.
Associate Director, Medical and Regulatory Novo Nordisk Indonesia dr. Riyanny Meisha Tarliman mengatakan, obesitas bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas hidup perempuan di berbagai fase kehidupan.
Termasuk, kaitannya dengan kondisi hormonal dan metabolik seperti Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS).
Berdasarkan survei Kesehatan Indonesia 2023, mencatat 47,2 juta dewasa di Indonesia mengalami obesitas, dengan prevalensi pada perempuan jauh lebih tinggi dibanding laki-laki.
Adapun, perubahan hormonal, perjalanan fungsi reproduksi, hingga kondisi baru bernama PMOS (sebelumnya PCOS) menjadikan berat badan bukan sekadar isu estetika, melainkan biologi tubuh yang kompleks.
Untuk itu, perempuan perlu memiliki informasi yang tepat agar dapat mengenali risikonya, mencari bantuan medis saat diperlukan dan memperoleh penanganan yang sesuai bersama tenaga kesehatan.
“Di Indonesia, sekitar satu dari empat orang dewasa hidup dengan obesitas, dengan prevalensi pada perempuan yang tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki, yakni 36,4 persen berbanding 24,4 persen,” ujar Riyanny, dalam diskusi bertajuk ‘The Missing Conversation: Weight and Women’s Health’, di Jakarta, Kamis (30/7/2026) malam.
Riyyanny menilai, pengelolaan obesitas yang komprehensif, dipersonalisasi dan berbasis sains yaitu mulai dari perubahan gaya hidup hingga pilihan terapi medis sesuai evaluasi tenaga kesehatan, menjadi sangat penting untuk dilakukan.
Baca juga : PBNU Dorong Penguatan Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri
Menurutnya, hal ini juga menjadi sangat relevan bagi banyak orang mengingat dampaknya terhadap kualitas hidup perempuan dapat meluas sejak masa remaja hingga pascamenopause.
Namun, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, pendekatan pengelolaan obesitas juga terus berkembang.
Kini, penanganan obesitas dilakukan melalui pendekatan multidisiplin yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu, mencakup perubahan gaya hidup, dukungan psikologis, terapi farmakologis sesuai indikasi medis, hingga tindakan bedah bariatrik pada pasien tertentu.
Riyanny menambahkan, dalam pendekatan ini, perubahan gaya hidup dan terapi medis dipandang sebagai bagian yang saling melengkapi untuk membantu pasien mencapai pengelolaan berat badan yang berkelanjutan.
“Salah satu perkembangan dalam tata laksana obesitas adalah hadirnya terapi GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA), yang bekerja pada mekanisme biologis pengatur rasa lapar dan kenyang di otak,” ujarnya..
Ia menambahkan, sesuai evaluasi dokter dan indikasi medis, terapi ini dapat menjadi salah satu pilihan atau inovasi untuk membantu pengelolaan berat badan, sebagai pelengkap perubahan gaya hidup.
Bahkan, lebih dari sekadar menurunkan angka di timbangan, terapi ini juga mendukung quality weight loss, yaitu penurunan massa lemak dengan tetap mempertahankan massa otot.
“Serta, berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 20%^3,4,5, serta memperbaiki parameter kesehatan metabolik lainnya,” ucapnya.
Baca juga : Pendidikan Kesehatan Reproduksi Cegah Kekerasan-Angka Kematian Ibu dan Anak
Namun ia menekankan, pilihan terapi obesitas perlu ditentukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan individual pasien oleh dokter.
“Artinya, untuk menjalakan terapi GLP ini harus dengan resep dokter. Tapi, pengelolaan obesitas dapat menjadi bagian dari pendekatan kesehatan yang menyeluruh bagi perempuan, termasuk bagi mereka yang hidup dengan PMOS,” katanya..
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, pihaknya juga menghadirkan situs NovoCare.id, platform edukasi yang menyediakan informasi berbasis sains mengenai obesitas, mulai dari kalkulator BMI untuk skrining awal obesitas, fakta tentang obesitas sebagai penyakit kronis, dampaknya terhadap kesehatan, hingga pentingnya konsultasi dengan dokter dan mencari pilihan pengelolaan bersama tenaga kesehatan.
“Selain menyediakan informasi medis yang akurat, NovoCare.id juga membantu masyarakat untuk menemukan bantuan profesional dengan mencari dokter untuk memulai langkah pengelolaan berat badan yang tepatau," ujarnya..
Di kesempatan yang sama, dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr. Cynthia Agnes Susanto, BMedSc, Sp.OG, mengungkapkan, obesitas bisa memengaruhi berbagai aspek kesehatan dan menurunkan kualitas hidup.
“Bahkan pada perempuan, obesitas bukan hanya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, tapi juga berisiko memengaruhi kesehatan reproduksi,” tuturnya.
Hal ini, kata Chyntya, dapat dilihat mulai dari gangguan siklus menstruasi dan ovulasi, meningkatnya risiko infertilitas dan komplikasi pada kehamilan.
“Jadi, kalau ada anak kecil gemuk dibilang lucu, itu sekarang harus hati-hati. Mulai direm pola makannya, supaya tidak berujung pada obesitas,” katanya.
Baca juga : Pil Wegovy Novo Nordisk Perkuat Dominasi di Pasar Terapi Obesitas
Begitu juga, bagi pasangan suami istri yang belum memiliki keturunan. Menurutnya, hal ini juga bisa salah satu faktornya dikarenakan obesitas.
“Kalau kondisinya sudah obesitas, coba turunkan dulu berat badan atau masa lemaknya. Biasanya, kalau pasien yang saya tangani, itu dulu. Coba deh, benerin dulu pola makan atau gaya hidupnya agar lebih sehat. Karena obesitas ini juga mempengaruhi kesehatan reproduksi kita sebagai perempuan,” kata Chynthia.
Karena itu, obesitas perlu dipandang sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu, sesuai evaluasi dokter.
Ia pun mencontohkan, salah satu kasus keterkaitan obesitas dengan kesehatan reproduksi adalah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS), yang sebelumnya dikenal sebagai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS).
Ia menilai, perubahan nomenklatur ini mencerminkan pemahaman ilmiah bahwa kondisi tersebut bukan hanya berkaitan dengan ovarium, tetapi merupakan gangguan endokrin dan metabolik yang kompleks.
Ia mengingatkan, PMOS merupakan penyebab tersering gangguan ovulasi dan sekitar 35–50 persen perempuan dengan kondisi ini juga mengalami obesitas, yang dapat memperburuk gejala, serta meningkatkan risiko komplikasi reproduksi maupun metabolik.
“Obesitas dan PMOS pun bisa menyebabkan kondisi yang kompleks. Pada sebagian perempuan, obesitas bisa memperburuk gejala dan dampak metabolik PMOS. Sementara perubahan hormonal dan metabolik yang berkaitan dengan PMOS juga bisa membuat pengelolaan berat badan menjadi lebih menantang,” ujar Cynthia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya