Dark/Light Mode

Teater Njonja Ati Soetji Angkat Perjuangan Perempuan Melawan Perdagangan Manusia

Rabu, 4 November 2026 07:04 WIB
Pementasan teater sejarah Njonja Ati Soetji yang digelar Regina Art bersama Yayasan Hati Suci di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Jumat-Sabtu (30-31 Oktober 2026). Foto: Dok Regina Art
Pementasan teater sejarah Njonja Ati Soetji yang digelar Regina Art bersama Yayasan Hati Suci di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Jumat-Sabtu (30-31 Oktober 2026). Foto: Dok Regina Art

RM.id  Rakyat Merdeka - Pementasan teater sejarah Njonja Ati Soetji yang digelar Regina Art bersama Yayasan Hati Suci di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Jumat-Sabtu (30-31 Oktober 2026), mendapat sambutan positif dari penonton.

Selama dua hari pementasan, kisah perjuangan Auw Tjoei Lan atau Nyonya Lie Tjian Tjoen berhasil dihadirkan melalui pertunjukan yang memadukan sejarah, seni peran, dan pesan kemanusiaan.

Teater ini mengangkat keberanian seorang perempuan keturunan Tionghoa dalam menyelamatkan perempuan dan anak-anak korban perdagangan manusia pada era Hindia Belanda.

Eksekutif Produser sekaligus pemeran utama Njonja Ati Soetji, Joane Win, mengaku bersyukur atas sambutan penonton. Ia berharap pesan perjuangan dan kemanusiaan yang disampaikan melalui pertunjukan tersebut dapat menginspirasi masyarakat, terutama generasi muda.

“Rasanya senang sekali, pesan-pesan yang kita sampaikan juga bisa sampai kepada penonton. Semoga ini bisa menginspirasi, terutama bagi anak-anak muda zaman sekarang,” ujar Joane seusai pementasan, Sabtu (31/10/2026).

Baca juga : Menyebarkan Paham Misogini

Joane mengatakan, menghadirkan sosok Auw Tjoei Lan ke panggung teater membutuhkan persiapan panjang. Riset sejarah telah dilakukan sekitar satu tahun sebelum pementasan, sementara proses latihan para pemain berlangsung selama kurang lebih enam bulan.

Salah satu tantangan terbesarnya adalah memahami karakter Auw Tjoei Lan secara mendalam. Untuk itu, Joane tidak hanya mempelajari catatan sejarah, tetapi juga menggali informasi langsung dari keluarga tokoh tersebut, termasuk Oma Stella, cucu Auw Tjoei Lan.

“Kesulitannya mungkin berbeda-beda bagi setiap orang. Kalau saya, awalnya bagaimana mengetahui pribadi Auw Tjoei Lan. Karena itu, saya mencari keluarga beliau dan bertemu dengan Stella. Saya bertanya bagaimana Auw Tjoei Lan berbicara, bagaimana ketika marah, maupun bagaimana komunikasi beliau dengan anak-anaknya,” jelasnya.

Menurut Joane, perjuangan Auw Tjoei Lan memiliki relevansi kuat dengan kehidupan saat ini. Keberaniannya turun langsung menyelamatkan korban perdagangan manusia menjadi contoh bahwa kepedulian tidak cukup hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

“Banyak sekali anak-anak muda yang bertindak lebih kepada ditulis dengan jempolnya dibandingkan bertindak dengan tindakan nyata. Yang kita lihat dari Nyonya Auw Tjoei Lan adalah tindakan nyata. Beliau langsung turun ke pelabuhan untuk menyelamatkan anak-anak dan menghadapi para mucikari,” tuturnya.

Baca juga : KOWANI Sambut SK Menkum, Perkuat Agenda Pemberdayaan Perempuan

Ia juga menyoroti latar belakang Auw Tjoei Lan yang berasal dari keluarga terpandang. Namun, status sosial tersebut justru dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan perlindungan.

“Kalau zaman sekarang mungkin bisa disebut sosialita. Suaminya berasal dari kalangan atas, tetapi beliau mau terjun langsung. Biasanya kalau sudah berada di atas, orang hanya menyuruh orang lain. Namun, Auw Tjoei Lan justru memanfaatkan posisi dan pengaruhnya untuk memberantas perdagangan manusia,” ungkap Joane.

Melalui pementasan ini, ia berharap generasi muda tidak hanya mengagumi keberanian Auw Tjoei Lan, tetapi juga meneladani kepeduliannya terhadap perempuan dan anak-anak.

Joane mengakui, perjuangan yang dilakukannya bersama Regina Art belum sebanding dengan pengabdian tokoh yang diperankannya. Meski demikian, ia menegaskan komitmennya untuk terus menyuarakan kepentingan perempuan dan anak-anak.

“Kita sama-sama ingin memperjuangkan suara perempuan dan suara anak-anak, tetapi kalau perjuangannya, saya masih jauh. Regina Art akan selalu menyuarakan suara perempuan dan suara anak-anak,” tegasnya.

Baca juga : Solidaridad Minta Petani Perempuan Diakui dalam Sertifikasi Sawit

Apresiasi juga disampaikan Oma Stella, cucu langsung Auw Tjoei Lan, yang hadir menyaksikan pementasan. Ia mengaku terharu melihat perjuangan sang nenek dihadirkan kembali melalui pertunjukan teater dengan alur cerita yang jelas dan mudah dipahami.

Menurutnya, pementasan tersebut menjadi kebanggaan keluarga sekaligus kesempatan untuk memperkenalkan sejarah perjuangan Auw Tjoei Lan kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.

Ia berharap Njonja Ati Soetji dapat kembali dipentaskan di berbagai daerah agar semakin banyak masyarakat mengenal sosok dan nilai perjuangannya. Oma Stella menilai, isu yang diangkat dalam pertunjukan tersebut masih relevan hingga saat ini.

Perdagangan manusia, eksploitasi, dan kekerasan terhadap perempuan masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius. “Kalau ada yang bilang tidak ada mucikari dan segala macam, itu bohong. Masih ada,” tegasnya.

Dia berpesan agar para pekerja sosial masa kini meneladani ketulusan Auw Tjoei Lan dalam membantu sesama. Menurutnya, perjuangan kemanusiaan harus dilandasi kepedulian tanpa mengharapkan imbalan atau pamrih.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.