Dark/Light Mode

Gara-gara Macet, Penghasilan Berkurang

Sopir JakLingko Tuntut Pengupahan Lebih Baik

Rabu, 31 Juli 2024 07:25 WIB
Ratusan angkutan umum bus kecil bekas Mikrolet, APB, dan JakLingko Mikrotrans terparkir saat aksi para sopir di Balai Kota, Jakarta, Senin (30/7/2024). (Foto: NG Putu Wahyu Rama/RM)
Ratusan angkutan umum bus kecil bekas Mikrolet, APB, dan JakLingko Mikrotrans terparkir saat aksi para sopir di Balai Kota, Jakarta, Senin (30/7/2024). (Foto: NG Putu Wahyu Rama/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ratusan sopir angkutan umum JakLingko, yang tergabung dalam Laskar Biru, melakukan aksi protes di depan Gedung Balai Kota, Jakarta, Selasa (30/7/2024). Mereka menuntut Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta meningkatkan kesejahteraan para sopir dan mengatasi persoalan kemacetan.

Dalam aksinya, mereka mengeluhkan pendapatan yang masih di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta. Para pengemudi juga memprotes tar­get 200 kilometer per hari yang sulit dicapai lantaran kondisi jalan yang sering macet.

“Kontrak yang kami tanda tangani menetapkan target 200 kilometer per hari. Satu mobil memiliki dua shift, sopir pagi dan sopir siang. Ternyata, ban­yak yang belum mencapai target dan berdampak pada upah yang kami terima,” kata perwakilan sopir JakLingko, Jhon Kenedy.

Dia mengatakan, ada tiga tuntutan yang disuarakan para pengemudi dalam aksi tersebut. Pertama, soal nasib angkutan regular berusia di atas 10 tahun, yang habis masa beroperasinya. Kedua, kuota untuk menjadi mitra dari JakLingko. Ketiga, sistem pengupahan JakLingko yang berdasarkan rupiah per kilometer.

Menurut John, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Syafrin Liputo sudah memberikan solusi atas tuntutan yang pertama, yakni memberi­kan waktu toleransi beroperasi selama 1 tahun untuk angkutan yang berusia diatas 10 tahun. Namun, pada tuntutan kedua dan ketiga, Pemprov baru bisa menjanjikan memberi sistem pembagian kuota dan upah yang proporsioal.

Khusus upah, Jhon me­nyatakan, kemacetan yang ter­jadi di Jakarta menjadi salah satu akar permasalahan kesejahteraan pengemudi. Sebagai gambaran, satu pengemudi JakLingko yang bekerja pada shift pagi, bisa terkena macet di jam-jam sibuk.

Saat pergantian shift ke pege­mudi siang, si shift pagi tidak mendapat kilometer yang maksi­mal sebagai satuan penghasilan­nya.

Baca juga : Di Kepulauan Seribu Bakal Dibangun Pulau Sampah

“Waktunya habis kena macet, banyak yang belum mencapai, serta berdampak pada upah yang kita terima,” keluhnya.

Jhon juga menyoroti keter­lambatan pembayaran gaji yang sering terjadi. “Soal upah, saat ini sangat jauh di bawah layak, sering terlambat, sementara kebutuhan (sehari-hari) sangat mendesak,” katanya.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengakui ada sejumlah tuntutan yang disuarakan para pramudi JakLingko, mulai dari masa beroperasi angkot regular hingga soal sistem pengupahan.

Menurutnya, Pemprov DKI telah menyetujui salah satu aspirasi yang disuarakan, yakni memberi toleransi operasi se­lama 1 tahun.

“Rekan-rekan minta itu direlaksasi, satu tahun ke depan. Tapi, dengan tetap memenuhi seluruh persyaratan administrasi dan kelaikan jalan,” ujarnya.

Soal kuota mitra JakLingko dan sistem pengupahan pramudi JakLingko, Syafrin memastikan, pihaknya akan menjalankan kedua hal secara proporsional.

“Penetapan jumlah alokasi terhadap seluruh operator akan dilaksanakan proporsional oleh teman-teman TransJakarta. Termasuk di dalamnya juga perhitungan rupiah per kilome­ternya,” jelasnya.

Baca juga : Duel Reuni Dan Cek Ombak

Di media sosial X, demon­strasi yang dilakukan ratusan pramudi JakLingko mendapat beragam komentar dari netizen.

Akun @SoundOfYogi ber­pendapat, angkot JakLingko sebaiknya diperbolehkan berop­erasi di daerah-daerah satelit Jakarta, semisal Bekasi, Depok dan Tangerang Selatan agar target per kilometer para penge­mudi terpenuhi.

Dia juga meyakini, kehadiran JakLingko di wilayah-wiayah penyangga akan disambut antu­sias oleh warga Debotabek.

“Harusnya, JakLingko bisa beroperasi sampai Depok dan Bekasi. Akses itu akan mem­bantu banyak orang dan para pengemudi. Kalau begitu, mung­kin gue nggak pakai jasa Ojol atau Taxol untuk masuk wilayah Jakarta,” usulnya.

Akun @denidandeni ber­harap, ada win-win solution dari aksi yang dilakukan oleh pramu­di JakLingko.

Sebab, angkot Jak Linko menawarkan kenyamanan dan kemudahan membayar kepada penumpang.

“Semoga ada solusi yang baik utnuk kedua belah pihak. Bagus kok ini programnya. Buat gue, ini sudah ngebantu banget. Sudah banyak yang naik angkot JakLingko, karena bersih dan bagus,” cuitnya.

Baca juga : Djoker Hantam King Of Clay

Akun @Berang_tulan me­nyatakan, tuntutan dalam demo yang dilakukan para pengemudi JakLingko, ada kaitannya den­gan prilaku pengemudi. Sebab, dia kerap mendapat pengemudi JakLingko yang mengendarai kendaraannya dengan emosional.

“Oh ada demo toh. Soal upah. Pantesan belakangan ini pramu­di mikrotrans ini rada emosian, ternyata ada yang nggak beres. Kalau sudah urusan soal dapur, siapa aja bakal emosi juga kay­aknya,” tulisnya.

“Sayang banget kalau JakLingko sampai hilang setelah demo. Semoga segera ada solusi yang baik bagi semua pihak dan masyarakat Jakarta,” timpal akun @WangKaget.

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Rabu, 31 Juli 2024 dengan judul Gara-gara Macet, Penghasilan Berkurang, Sopir JakLingko Tuntut Pengupahan Lebih Baik

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.