Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Tidak Kena Pangkas, Anggaran Pengendali Banjir Jakarta Justru Melonjak
Kamis, 6 Februari 2025 21:43 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Komisi D DPRD Jakarta Yuke Yurike menegaskan masalah banjir di Jakarta sudah berlangsung lama dan perlu upaya mitigasi yang lebih maksimal.
Menurut Yuke, anggaran penanganan banjir cukup besar di APBD 2025. Karena itu, Dinas Sumber Daya Air (SDA) diharapkan dapat memprioritaskan langkah-langkah yang sudah direncanakan tanpa terganggu oleh kemungkinan refocusing anggaran. Komisi D memastikan bahwa anggaran yang ada harus difokuskan pada hal-hal yang menjadi prioritas untuk penanggulangan banjir.
Anggaran untuk penanggulangan banjir pada APBD 2025 di Jakarta mengalami peningkatan. Meskipun tidak disebutkan angka pastinya, Yuke mengungkapkan adanya penambahan anggaran terutama untuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur, termasuk saluran-saluran kecil yang berada di lingkungan kampung.
"Kami sudah menggarisbawahi agar anggaran tidak hanya digunakan untuk proyek-proyek besar, tetapi juga untuk memperbaiki saluran-saluran kecil yang sering kali luput dari perhatian," ujar Yuke saat dikonfirmasi, Rabu (5/2/2025).
Peningkatan anggaran ini juga mencakup upaya pembebasan lahan yang belum tuntas serta perbaikan rumah pompa dan saluran-saluran besar.
Terkait dengan pembangunan 38 folder yang belum memadai, Yuke menjelaskan bahwa penyebabnya adalah kondisi lapangan yang tidak sesuai dengan perencanaan. Meskipun folder telah dibangun, saluran drainase di sekitar kawasan tersebut masih ada yang mampet atau belum berfungsi dengan baik.
Baca juga : Kementerian PU Selesaikan Pembangunan Pasar Banjarsari Pekalongan
"Pembangunan folder perlu diimbangi dengan perbaikan drainase yang memadai, dan kami berharap agar hal ini bisa segera dibenahi agar tidak menghambat proses penanggulangan banjir," katanya.
Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa proyek folder harus dilengkapi dengan waduk dan sistem pengelolaan air yang lebih baik untuk meningkatkan efektivitasnya.
Masalah lain yang turut disoroti adalah kapasitas drainase yang sudah tidak mencukupi untuk menampung intensitas hujan yang semakin tinggi. Yuke mengatakan bahwa perbaikan dan peningkatan kapasitas drainase harus menjadi prioritas utama.
"Kita harus meminimalisir dampak banjir dengan membenahi saluran-saluran yang ada. Banyak saluran yang masih kecil dan perlu diganti dengan model drainase yang lebih modern," ungkapnya.
Selain itu, masalah penyumbatan dan masalah elevasi saluran yang salah juga menjadi perhatian. Yuke menyebutkan bahwa beberapa saluran yang harusnya rendah malah terangkat, menyebabkan air kembali mengalir ke tempat yang tidak semestinya. Untuk itu, perbaikan saluran secara menyeluruh menjadi langkah penting dalam penanggulangan banjir di Jakarta.
Terkait dengan kemungkinan refocusing anggaran, Yuke menyatakan bahwa Komisi D belum menerima informasi resmi mengenai apakah anggaran untuk penanggulangan banjir akan terpengaruh atau tidak.
Baca juga : Komisi A DPRD DKI Yakin Pansus Aset Bikin PAD Jakarta Melonjak 50 Persen
"Kami masih menunggu keputusan resmi mengenai refocusing anggaran, dan harapannya anggaran untuk perbaikan drainase dan infrastruktur lainnya tidak terganggu," tambahnya.
Yuke mengungkapkan bahwa komisi D akan terus mengawasi perkembangan anggaran dan proyek-proyek terkait agar upaya penanggulangan banjir di Jakarta dapat berjalan efektif.
"Kami ingin memastikan bahwa segala perencanaan yang ada, baik untuk saluran besar maupun kecil, dapat terlaksana dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat," tambahnya.
Sekretaris Dinas Sumber Daya Air (SDA), Hendri menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas drainase menjadi salah satu prioritas utama. Menurut Hendri, meskipun SDA sudah melakukan pengerukan dan perbaikan sarana prasarana untuk mengatasi banjir, sistem drainase Jakarta masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam menghadapi hujan ekstrem.
"Dalam cuaca ekstrem, drainase kita dengan kapasitas 100-150 mm per jam tidak mampu menampung hujan yang bisa mencapai 368 mm, seperti yang terjadi baru-baru ini," jelas Hendri.
Ia menyebutkan bahwa salah satu solusi yang sedang dikembangkan adalah peningkatan kapasitas drainase di berbagai titik yang rawan banjir, termasuk perbaikan pada saluran yang tersumbat dan penyesuaian elevasi saluran agar air dapat mengalir dengan baik.
Baca juga : Ditabur Puluhan Ton Garam, Hujan Di Jakarta Menjinak
Hendri juga menambahkan bahwa pembangunan polder, normalisasi kali, dan pembangunan tanggul laut menjadi fokus utama dalam upaya penanggulangan banjir. Pembangunan tanggul laut, yang semula direncanakan selesai pada 2027, kini menghadapi berbagai kendala di lapangan, seperti pembebasan lahan dan relokasi warga.
"Kendala utama kami adalah pembebasan lahan dan masalah sosial terkait dengan pemukiman di sekitar area pembangunan," ujar Hendri.
Selain permasalahan drainase, sampah juga menjadi salah satu penyebab banjir di Jakarta. Meskipun pengelolaan sampah menjadi kewenangan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas SDA tetap berkoordinasi dengan DLH untuk mengatasi masalah ini, terutama saat hujan deras.
"Pada saat hujan, sampah yang tidak tertangani dengan baik akan menyumbat saluran air, memperburuk kondisi banjir," kata Hendri.
Ia mengimbau masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, sebagai upaya untuk mencegah terjadinya genangan air yang lebih parah.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya