Dark/Light Mode

Datangi DPRD Kota Tangerang

DKI Bangun Sinergitas Hadang Penularan TBC

Selasa, 11 Maret 2025 06:50 WIB
Sek­retaris Komisi E DPRD DKI Jakarta Justin Adrian. (Foto: Instagram/justin.untayana)
Sek­retaris Komisi E DPRD DKI Jakarta Justin Adrian. (Foto: Instagram/justin.untayana)

 Sebelumnya 
Sinergi Dengan Tangsel

Anggota Komisi E DPRD DKI lainnya, Yudha Permana mengatakan, penanggulangan penyakit menular seperti TBC memerlukan sinergitas lintas wilayah. Pemprov DKI Jakarta bersama wilayah penyangga harus berkolaborasi menekan laju penyebaran penyakit TBC.

“Penyakit TBC ini tidak bisa ditangani oleh satu wilayah dae­rah saja. Nggak bisa hanya DKI sendiri atau Tangsel saja. Tetapi harus diatasi lintas wilayah,” ujar Yudha.

Baca juga : Liverpool Vs PSG, Keangkeran Anfield Diuji

Untuk mewujudkan sistem kesehatan yang tangguh, Dinkes DKI Jakarta juga harus terus memperkuat kemitraan dengan stakeholder terkait.

Wakil Kepala Dinkes DKI Ja­karta Dwi Oktavia mengatakan, Jakarta sebagai salah satu pengusung kota global, menghadapi berbagai tantangan kesehatan yang kompleks.

“Permasalahan kesehatan tim­bul baik dari kelompok penyakit menular, penyakit tidak menular, masalah malnutrisi, maupun tan­tangan dalam sistem kesehatan lainnya” ujarnya.

Baca juga : Laga Lanjutan NBA, Thunder Permalukan Nuggets

Berdasarkan data hingga tahun 2024, Jakarta telah menemukan 46.208 kasus baru HIV, namun hanya 37.581 Orang Dengan HIV (ODHIV) yang tercatat ma­sih dalam pengobatan, dengan angka lost to follow up (LTFU) mencapai 8.627 kasus.

Berbagai upaya telah dilaku­kan dalam tiga tahun terakhir un­tuk meningkatkan retensi pengobatan. Termasuk penelusuran pasien LTFU, penerapan multi-month dispensing (MMD) 2-3 bulan, dan penerapan home-based delivery service.

Berdasarkan Global Tubercu­losis Report Tahun 2024, dalam penanganan TBC Indonesia kembali menduduki peringkat kedua setelah India dengan perkiraan 1.090.000 kasus. DKI Jakarta menargetkan menemu­kan 70.387 kasus pada tahun 2025. Salah satu inovasi terbaru, membentuk 274 Kampung Siaga Tuberkulosis pada tahun 2024. Dan akan dikembangkan hingga 500 Kampung pada 2025.

Baca juga : Jengkel Dituduh Ogah Punya Anak

Dalam penanggulangan ma­laria, meskipun sejak 2014 se­luruh wilayah Kota Kabupaten Administrasi di DKI Jakarta telah mendapatkan sertifikasi eliminasi malaria, masih ter­dapat tantangan berupa kasus malaria impor. Dan kasus itu ditemukan di Kepulauan Seribu dan Jakarta Utara yang dapat menjadi faktor risiko KLB kasus malaria indigenous. [DRS]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.