Dark/Light Mode

Banjir Sulsel Tewaskan 9 Orang, 3 Ribu Ngungsi

Kamis, 24 Januari 2019 10:26 WIB
Pantauan udara banjir yang melanda Kabupaten Gowa, Sulsel. (Foto: Humas BNPB)
Pantauan udara banjir yang melanda Kabupaten Gowa, Sulsel. (Foto: Humas BNPB)

RM.id  Rakyat Merdeka - Gara-gara hujan besar yang terjadi sejak Selasa (22/1), Sulawesi Selatan digulung banjir besar. Sebanyak 53 kecamatan di 9 kabupaten terendam. Hingga kemarin sore, 9 orang dinyatakan tewas, sementara 3 ribu warga mengungsi.

Sembilan kabupaten yang terdampak itu adalah Jeneponto, Gowa, Maros, Soppeng, Barru, Wajo, Bantaeng, Pangkep dan Kota Makassar. Ribuan rumah terendam banjir.
Juga, 10.021 hektare sawah.

Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Sulsel, hingga kemarin sore, 9 orang tewas akibat bencana itu. Sementara 7 orang dinyatakan hilang. Banjir juga membuat 3.321 jiwa mengungsi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebut, ketinggian air mencapai 2 hingga 3 meter. Di Jeneponto, banjir melanda 21 desa di 10 kecamatan.

Berita Terkait : Banjir Sulsel Tewaskan 8 Orang, 4 Hilang, Dan Ribuan Mengungsi

“Banjir akibat hujan deras sehingga sungai-sungai meluap, di antaranya Sungai Topa, Allu, Bululoe, Tamanroya, Kanawaya, dan Tarowang,” ujar Sutopo, kemarin.

Berdasarkan catatan Kementerian PUPR dan BMKG, tambah Sutopo, banjir terjadi karena kondisi permukaan tanah yang tak mampu menampung intensitas hujan yang tinggi yang mencapai 329 milimeter per hari di Pos 1 Bawangkareaeng. “Sungai juga tidak mampu mengatuskan aliran permukaannya, akibatnya banjir,” ungkap Sutopo.

Selain karena hujan deras, banjir juga disebabkan dibukanya pintu Waduk Bili-Bili karena terus meningkatnya volume air. Sehingga untuk mengamankan waduk maka debit aliran keluar dari Waduk Bili-Bili ditingkatkan.

Selain banjir, sebanyak 5 rumah tertimbun longsor di dua lokasi di Kabupaten Gowa. “Hujan deras juga memicu longsor di beberapa tempat nsehingga menutup jalan dan merusak beberapa rumah,” beber Sutopo.

Berita Terkait : Longsor Sukabumi Tewaskan 31 Orang, 2 Hilang

Banjir juga menyebabkan 2 jembatan rusak berat sehingga tak dapat digunakan, yaitu jembatan Jenelata di Desa Moncong Loe, Kecamatan Manuju dan jembatan di Dusun Limoa, Desa Patalikang, Kecamatan Manuju.

Selain dua jembatan itu, masih ada 5 jembatan lain yang rusak. Banjir juga menyebabkan 1.423 rumah warga terendam banjir, 32 rumah warga hanyut, 4 tempat ibadah terendam, 1 fasilitas pemerintah, 2 pasar rusak, dan 4.750 meter jalan rusak.

Tim SAR gabungan dan BPBD kabupaten/kota serta aparat kepolisian hingga kini masih membantu evakuasi warga yang terkepung banjir. Sutopo menyebut, pemerintah daerah dan masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan menghadapi banjir dan tanah longsor. BMKG telah menyebarkan peringatan dini hujan lebat selama 23 hingga 30 Januari 2019.

Terkait hal ini, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah telah mengeluarkan sejumlah instruksi untuk menangani bencana ini. Salah satunya, mengimbau masyarakat yang terdampak
bencana agar mau dievakuasi.

Berita Terkait : Badai Yunani Tewaskan 1 Orang, 2 Hilang

Pemprov juga meminta Basarnas tetap melakukan evakuasi bagi warga yang membutuhkan. Selain itu, Pemprov juga meminta kepala Balai Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk tetap menjaga pintu-pintu air. “Alhamdulillah air terus turun, mulai tadi malam kita pantau dari jam ke jam,” ucap Nurdin usai membuka perayaan hari perlawanan rakyat Luwu di kota Palopo, kemarin.

Seorang warga Blok VIII Perumnas Antang Makassar Jihadul Arifin menceritakan, Banjir di kawasan itu mulai terjadi Selasa (22/1), sekitar pukul 16.00 WITA.

Air yang datang tidak bertahap. Tetapi, langsung merendam rumahnya. Karena itu warga tidak bisa menyelamatkan barang-barang berharga.
“Air langsung tinggi. Kalau tanda- tandanya setinggi mata kaki kemudian meninggi, kita masih bisa menyelamatkan barang-barang berharga,” ujar Arifin seperti dikutip dari Antara. [OKT]