Dark/Light Mode

53 Kecamatan Di 9 Kabupaten/Kota Di Sulsel Diterjang Banjir

Banjir Sulsel Tewaskan 8 Orang, 4 Hilang, Dan Ribuan Mengungsi

Rabu, 23 Januari 2019 16:21 WIB
Pantauan udara banjir yang melanda 9 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. (Foto: Humas BNPB)
Pantauan udara banjir yang melanda 9 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. (Foto: Humas BNPB)

RM.id  Rakyat Merdeka - Hujan berintensitas tinggi disertai angin kencang dan gelombang pasang telah menyebabkan sungai-sungai meluap sehingga banjir di wilayah Sulawesi Selatan, pada Selasa (22/1). 

Tercatat 53 kecamatan di 9 kabupaten/kota di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan yang mengalami banjir yaitu di Kabupaten Jeneponto, Gowa, Maros, Soppeng, Barru, Wajo, Bantaeng, Pangkep dan Kota Makassar.

Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat musibah tersebut mengakibatkan 
8 orang meninggal dunia, 4 orang hilang, ribuan rumah terendam banjir, ribuan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman, dan 10.021 hektar sawah terendam banjir.

“Korban meninggal dunia ditemukan di Jeneponto 5 orang, dan Gowa 3 orang. Sedangkan korban hilang terdapat di Jeneponto 3 orang, dan Pangkep 1 orang. Hingga Rabu (23/1) pukul 14.00 WIB, banjir masih banyak melanda di daerah. Penanganan darurat dan pendataan masih terus dilakukan, sehingga update data akan berubah,” jelas Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (23/1).

Di Kabupaten Jeneponto, banjir melanda 21 desa di 10 kecamatan. Yaitu di Kecamatan Arung Keke, Bangkala, Bangkala Barat, Batang, Binamu, Tamalatea, Tarowang, Kelara, dan Turatea dengan tinggi banjir 50 – 200 cm. 

Baca Juga : Lumajang Digoyang Gempa Kecil

“Akibat hujan deras, sejumlah sungai meluap. Di antaranya Sungai Topa, Allu, Bululoe, Tamanroya, Kanawaya, dan Tarowang. Dampak yang ditimbulkan adalah 5 orang meninggal dunia, 3 orang hilang, 5 rumah hanyut, 51 rumah rusak berat, ribuan warga mengungsi dan ribuan rumah terendam banjir,” tutur Sutopo.

Evakuasi, pencarian, penyelamatan dan distribusi bantuan masih terus dilakukan. Banyak warga yang mengungsi sementara di atap rumah sambil menunggu dievakuasi. Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan dan lainnya melakukan penanganan darurat.

Di Kota Makassar, banjir melanda 14 kecamatan yaitu Kecamatan Biringkanaya, Bontoloa, Kampung Sangkarang, Makassar, Mamajang, Manggala, Mariso, Pankkukang, Rampocini, Tallo, Tamalanrea, Tamalate, Ujung Pandang, dan Ujung Tanah. Sekitar 1.000 jiwa warga mengungsi. Banjir juga disebabkan hujan deras kemudian sungai-sungai yang bermuara di Kota Makassar meluap.

Di Kabupaten Gowa, banjir melalanda 7 kecamatan yaitu Somba Opu, Bontomanannu, Pattalasang, Parangloe, Palangga, Tombolonggo, dan Manuju. Sekain hujan deras, banjir juga disebabkan dibukanya pintu Waduk Bili-Bili karena terus meningkat volume air di waduk sehingga untuk mengamankan waduk maka debit aliran keluar dari Waduk Bili-Bili ditingkatkan.

Tercatat 3 orang meninggal dunia, 45 orang luka-luka, 2.121 orang mengungsi yang tersebar di 13 titik pengungsian, lebih dari 500 unit rumah terendam banjir setinggi 50 – 200 centimeter ddari dampak banjir di Gowa. Banjir juga menyebabkan 2 jembatan rusak berat sehingga tidak dapat digunakan yaitu jembatan Jenelata di Desa Moncong Loe Kecamatan Manuju dan jembatan di Dusun Limoa Desa Patalikang Kecamatan Manuju. Hujan deras juga memicu longsor di beberapa tempat sehingga menutup jalan dan merusak beberapa rumah.

Baca Juga : Kantor PSSI Rawan Kebanjiran, Pagar Gerbangnya Tak Dikunci

Sementara itu banjir di Kabupaten Marros melanda 11 kecamatan. Lebih dari 1.400 orang mengungsi. Pendataan masih dilakukan. Listrik padam sehingga komunikasi juga putus. Posko BNPB terus berkoordinasi dengan Pusdalops BPBD. Tim Reaksi Cepat BNPB mendampingi BPBD. Penanganan darurat masih terus dilakukan oleh tim gabungan. BPBD bersama , TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan dan lainnya melakukan penanganan darurat.

“Perahu karet dan bantuan makanan untuk pengungsi masih diperlukan. Korban hilang masih dilakukan pencarian. Kondisi hujan yang masih berlangsung dan luasnya wilayah yang terkena banjir, cukup menyulitkan dalam penanganan,” kata Sutopo.

Hujan ekstrem yang turun di beberapa wilayah Sulawesi Selatan sejak Selasa (22/1), menyebabkan banjir. Tercatat di beberapa stasiun penakar hujan milik Kementerian PU Pera dan BMKG mencatat di Pos 1 Bawangkaraeng 308 milimeter per hari, Lengkese 329 milimeter per hari, KD-1 234 milimeter per hari, Limbungan 328 milimeter per hari, dan Bili-Bili 88 milimeter per hari. 

“Intensitas curah hujan setebal ini tergolong ekstrem, sehingga kondisi permukaan tanah tidak mampu menampung semuanya. Sungai juga tidak mampu mengatuskan aliran permukaan, akibatnya banjir,” papar Sutopo.

Ia menjelaskan, saat ini debit dan volume Waduk Bili-Bili terus menurun. Hingga Rabu (23/1)pukul 14.00 WIB, tinggi muka air Waduk Bili-Bili mengalami penurunan menjadi 100,64 meter, volume waduk 277,55 juta meter kubik, dan inflow sekitar 927,77 meter kubik per detik. Meskipun masih dalam batas siaga, namun kondisinya terus mengalami penurunan.

Baca Juga : Anies: Pemerintah Butuh Tekanan Pers

Pemerintah daerah dan masyarakat dihimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi banjir dan tanah longsor. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyebarkan peringatan dini hujan lebat selama 23 – 30 Januari 2019. 

Sebagian besar wilayah Indonesia, mengalami puncak hujan pada Januari hingga Februari 2019. Secara statistik, data kejadian bencana selama 20 tahun terakhir menunjukkan bahwa selama bulan Januari dan Februari adalah puncak dari kejadian bencana hidrometeorologi. Yaitu banjir, longsor dan puting beliung. Polanya mengikuti pola curah hujan. [HES]