Dark/Light Mode

Diprediksi Tumbuh 5,1 Persen

Ekonomi RI Dipuji IMF

Jumat, 23 Januari 2026 08:28 WIB
Ilustrasi IMF prediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen di 2026. (Tabel dibuat dengan ChatGPT)
Ilustrasi IMF prediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen di 2026. (Tabel dibuat dengan ChatGPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi, ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 5,1 persen di 2026. IMF juga memuji ekonomi Indonesia, yang tangguh menghadapi ketidakpastian global.

Dalam World Economic Outlook (WEO) Update edisi Januari 2026, IMF memprediksi ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan tumbuh di level 5,1 persen. Prediksi ini lebih besar dibanding WEO edisi Oktober 2025. Sebelumnya, IMF meramal ekonomi Indonesia tumbuh 4,9 persen di 2026 dan 5 persen di 2027.

Revisi ke level yang lebih baik ini sejalan dengan prospek ekonomi global tahun 2026 yang naik dari 3,1 persen menjadi 3,3 persen. Selain itu, juga karena ketahanan ekonomi Indonesia dengan masifnya stimulus fiskal dan moneter tahun ini yang mampu meredam risiko tekanan akibat konflik geopolitik hingga pelemahan aktivitas perdagangan global.

"Ketahanan yang ditunjukkan sejauh ini sebagian besar didorong oleh beberapa sektor dan sering kali didukung oleh akomodasi moneter dan fiskal," tulis IMF, dalam laporan terbarunya itu.

IMF menyebut, prospek laju pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih cepat dibanding 30 negara yang termuat dalam WEO edisi Januari 2026. Prediksi ekonomi Indonesia 5,1 persen pada 2026 dan 2027 hanya kalah dari Filipina dan India. Pertumbuhan ekonomi Filipina diprediksi mencapai 5,6 persen pada 2026 dan 5,8 persen pada 2027, sedangkan India 6,4 persen pada 2026 dan 2027.

Dengan laju 5,1 persen, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih dari China yang justru merosot dari 5 persen estimasi 2025, menjadi 4,5 persen pada 2026 dan 4 persen pada 2027. Sedangkan Malaysia, laju ekonominya diprediksi hanya 4,3 persen pada 2026 dan 2027.

Baca juga : Cerita Beratnya Pulihkan Listrik di Sumatera, Bos PLN Nangis di DPR

Juru bicara Kementerian Koordinator Perekonomian Haryo Limanseto menyambut baik proyeksi IMF yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. Proyeksi 5,1 persen pada 2026 mencerminkan ketangguhan fundamental ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global.

Meski proyeksi tersebut masih di bawah target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026, Haryo tetap optimis strategi yang dilakukan Pemerintah akan berhasil. Di antaranya sinergi kebijakan fiskal dan moneter, termasuk percepatan belanja dan peningkatan investasi.

"Ini akan membantu mencapai atau bahkan melampaui target tersebut sesuai asumsi makro APBN," ujar Haryo, saat dihubungi Rakyat Merdeka, Kamis (22/1/2026) malam.

Dengan dukungan program prioritas dan momentum pemulihan ekonomi berkelanjutan, dia pede ekonomi sepanjang 2026 akan tembus 5,4 persen. "Beberapa asumsi juga menunjukkan peluang yang sedikit lebih tinggi apabila realisasi investasi dan konsumsi tumbuh lebih kuat," terang Haryo.

Meski begitu, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi Indonesia. Meliputi ketidakpastian ekonomi global, volatilitas pasar keuangan internasional, serta kebutuhan untuk mempercepat realisasi investasi dan konsumsi domestik agar sejalan dengan target pertumbuhan.

Untuk menghadapinya, Pemerintah terus memperkuat koordinasi kebijakan, meningkatkan produktivitas, membuka pasar, serta menjaga stabilitas makroekonomi. “Hal ini untuk mengatasi risiko tersebut dan demi pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan," ungkap Haryo.

Baca juga : Calonkan Keponakan Jadi Deputi Gubernur BI, Presiden Tidak Intervensi

Bank Indonesia (BI) juga menyambut baik pujian IMF yang menyebut perekonomian Indonesia lebih kuat menghadapi ketidakpastian global. Pertumbuhan ini didukung inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran serta sektor keuangan yang berdaya tahan.

"Bank Indonesia menyambut baik hasil asesmen IMF atas perekonomian Indonesia tersebut sebagaimana tercantum dalam laporan Article IV Consultation 2025 yang dirilis 21 Januari 2026 di situs IMF," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Menurut Ramdan, proyeksi positif IMF sejalan dengan asesmen BI yang juga memprediksi ekonomi Indonesia akan tumbuh baik sepanjang 2026. "Didukung akselerasi reformasi struktural," tuturnya.

BI bersama Pemerintah dan otoritas terkait akan terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter, menjaga stabilitas makroekonomi dan sektor keuangan, mempercepat reformasi struktural strategis, serta mempererat koordinasi kebijakan sebagai landasan bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan akseleratif.

Pada konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (21/1/2026), Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan, ekonomi Indonesia pada 2026 tumbuh dalam kisaran 4,9-5,7 persen. Pertumbuhan ini ditopang kenaikan permintaan domestik yang sejalan dengan berbagai kebijakan Pemerintah dan berlanjutnya dampak positif bauran kebijakan BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. 

"Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan makin perlu ditingkatkan agar sesuai dengan kapasitas perekonomian. Ditopang kenaikan permintaan domestik sejalan dengan membaiknya keyakinan pelaku ekonomi dan peningkatan stimulus Pemeirntah," urai Perry.

Baca juga : Prabowo Ajak Pengusaha Inggris Tanam Modal Di RI

Sementara, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimis ekonomi Indonesia bisa tumbuh 6 persen tahun ini. Dengan penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter serta perbaikan iklim investasi, dia yakin target tersebut tercapai.

"APBN target 5,4 persen, 2026 saya ingin dorong ke 6 persen," ujar Purbaya, usai melantik Pejabat Pegawai Direktorat Jenderal Pajak, di Kantor Pelayanan Pajak Jakarta Utara, Kamis (22/1/2026).

Menurutnya, untuk mencapai target tersebut, dibutuhkan sinkronisasi kebijakan antara pemerintah dan BI. Khususnya, dalam menjaga stabilitas makroekonomi serta mendorong masuknya investasi.

Dengan kebijakan yang semakin sinkron, arus investasi asing diyakini akan meningkat. Purbaya menilai, masuknya modal asing akan memperkuat pertumbuhan ekonomi, pasar keuangan, serta nilai tukar rupiah.

"Dengan sinkronisasi Bank Sentral, perbaikan iklim investasi, dan menutup kebocoran termasuk barang ilegal, harusnya bisa," ucap mantan Ketua Dewan Komisioner LPS ini.

Purbaya juga menegaskan, Pemerintah akan terus memperbaiki fundamental ekonomi nasional melalui penguatan penerimaan negara dan pengawasan terhadap kebocoran fiskal. Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dan berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.