Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kinerja Dinas Kebersihan DKI Perlu Dievaluasi
Warga Ngeluh, Sampah Numpuk Pasca Lebaran
Selasa, 7 April 2026 06:25 WIB
Sebelumnya
Dengan sistem tersebut, waktu tunggu truk dijaga tidak lebih dari tiga jam, sekaligus memastikan keselamatan para pengemudi truk sampah. Sebagai informasi, dua pengemudi truk sampah Pemprov DKI menjadi korban jiwa dalam peristiwa longsor gunung sampah sebelum Lebaran 2026.
Selain itu, jelas Asep, Dinas LH juga melakukan penanganan intensif di sejumlah titik. Yakni, Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Kali Anyar telah dibersihkan, TPS liar Rawadas ditutup permanen, dan TPS Kencana di bawah Tol Tanjung Priok akan ditutup permanen.
Dinas LH menargetkan, dalam pekan ini operasional pengangkutan sampah dapat kembali normal. Sisa sampah pasca arus balik Lebaran juga diupayakan segera tertangani.
“Kami berkomitmen mempercepat penanganan, agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga. Seluruh jajaran terus bekerja maksimal,” kata Asep.
Ubah Sampah Jadi Pupuk
Baca juga : Real Madrid Vs Bayern Munchen, Mimpi Buruk Die Roten
Dalam situasi ini, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Khoirudin mengajak warga ikut mengelola sampah berbasis masyarakat, khususnya sampah organik (bisa terurai secara alami oleh bakteri pengurai).
“Sampah organik sebetulnya bermanfaat bagi kita, tidak harus semuanya dibuang ke Bantar Gebang,” kata kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.
Khoirudin menjelaskan, pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga bisa mendukung ketahanan pangan, misalnya dengan cara diolah menjadi pupuk. “Pupuk itu bisa dipakai untuk pertanian kota atau urban farming,” tandasnya.
Untuk itu, Khoirudin menyarankan Pemprov DKI memberikan pelatihan, agar masyarakat mampu membuat pupuk dari sampah organik, kemudian memanfaatkannya untuk pertanian perkotaan. “Memang butuh waktu dan pendampingan kepada masyarakat,” ujarnya.
Baca juga : Perebutan Takhta Tenis Dunia, Sinner Fokus Trofi
Menurut Khoirudin, keterlibatan warga menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah. “Tanpa peran masyarakat, ini berat. Sampah harus ditangani bersama-sama dengan seluruh elemen masyarakat sejak awal,” tuturnya.
Sebelumnya, salah seorang reporter Rakyat Merdeka yang gemar bertani, sudah mencoba mengurangi sampah dari rumahnya. Dengan cara membuat pupuk organik dalam skala kecil, tidak terlalu ilmiah, untuk mendukung hobinya itu.
Misalnya, dengan cara mengumpulkan sampah dedaunan dan ranting pepohonan di titik-titik tertentu pekarangan rumahnya yang masih berupa tanah, atau belum disemen.
Kemudian, sampah pepohonan itu ditimbun dengan sedikit tanah agar lebih cepat terurai. Karena, tanah mengandung bakteri pengurai alami.
Baca juga : China-Rusia Turun Gunung Redakan Perang Di Timteng
Sampah organik yang telah terurai menjadi tanah, lalu dimanfaatkan sebagai pupuk untuk menyuburkan atau untuk menanam pohon. Seperti, pohon talas Bogor yang kini tumbuh lumayan subur di samping rumah reporter RM ini.
Pohon talas itu, kini berusia sekitar tiga bulan. Diperkirakan, pohon talas hasil urban farming ini, bisa dipanen dalam usia sekitar sembilan bulan. [DRS/DAF]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya