Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Meski Portal Sudah Ditutup & Dijaga
Banyak Pengendara Nekat Terobos Perlintasan Kereta
Senin, 4 Mei 2026 06:25 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Jumlah pengendara motor tidak disiplin saat melintasi perlintasan sebidang kereta api (KA) masih banyak banget. Mereka nekat menerobos perlintasan meskipun jalan sudah ditutup portal. Potret ini terlihat di perlintasan sebidang tak resmi di kawasan Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Penjaga sering menyindir pemotor yang nekat terobos perlintasan. “Sayang motornya, bukan orang nya,” teriak pria penjaga perlintasan sebidang tak resmi antara kereta dan kendaraan lain, kepada seorang pengendara motor yang nekat menerobos.
Padahal, suara klakson Kereta Rel Listrik (KRL) yang melaju dari Stasiun Palmerah, Jakarta Pusat, menuju Stasiun Kebayoran Lama, Jakarta Selatan itu, sudah jelas terdengar. Kereta pun sudah tampak. Membelah angin.
Kalimat yang keluar dari mulut pria penjaga perlintasan sebidang tak resmi di kawasan Permata Hijau, Kebayoran Lama itu, merupakan kemarahan yang tak lagi sanggup dibendungnya.
Karena, dia sudah terlalu sering menghadapi pengendara yang nekat menerobos, saat portal atau palang diturunkan. Padahal, ia mengkhawatirkan keselamatan semua yang melintas di perlintasan sebidang ini.
Baca juga : Everton Vs Manchester City, Penentu Arah Gelar
Namun, pengendara motor tak berhelm yang diomelin penjaga perlintasan sebidang itu, cuek saja. Malah cengar-cengir sambil melintasi rel. Singkat cerita, pengendara motor itu selamat.
Tak berapa lama setelah motor itu berlalu, KRL meluncur di atas perlintasan sebidang. Angin terhempas laju KRL, menerpa para pengendara motor yang menunggu palang dibuka. Sang masinis KRL dan penjaga perlintasan sebidang, saling melambaikan tangan.
Hal seperti itu, bukan sekali dua kali dilihat reporter Rakyat Merdeka di kawasan Kebayoran Lama. Tapi, sudah berulang kali. Termasuk di perlintasan sebidang resmi, di Pasar Kebayoran Lama. Sangat dekat dengan Stasiun Kebayoran Lama.
Bedanya, perlintasan sebidang resmi dilengkapi sejumlah perangkat, seperti persinyalan kereta dan dijaga petugas berseragam KAI. Dengan perangkat persinyalan, perkiraan waktu kereta melintas, lebih tepat.
Tapi, tetap saja, banyak yang nekat menerobos saat portal sudah bergerak turun di perlintasan sebidang resmi. Baik itu pengendara motor, mobil, atau pejalan kaki.
Baca juga : Madrid Open 2026, Kostyuk Ukir Sejarah Juara
Tak pelak, perlintasan sebidang resmi maupun tidak resmi, berdasarkan kenyataan di lapangan, sangat berbahaya. Berpotensi menimbulkan kecelakaan yang merenggut korban jiwa. Ibaratnya, perlintasan sebidang adalah maut. Terutama yang liar.
Salah satu indikasinya adalah, peristiwa temperan antara sebuah mobil taksi dan KRL yang mengarah ke Jakarta, di dekat Stasiun Bekasi Timur, pada Senin (27/4/2026) malam.
Diduga, akibat peristiwa itu, sebuah KRL dari Jakarta yang menuju Cikarang, jadi tertahan di Stasiun Bekasi Timur. Pada saat yang bersamaan, sebuah kereta jarak jauh, melintas di Stasiun Bekasi Timur. Menabrak KRL yang tertahan itu, sekitar pukul 20.55 WIB.
Kereta jarak jauh itu adalah KA Argo Bromo Anggrek (relasi Jakarta Gambir-Surabaya Pasar Turi). Bahkan, lokomotif Argo Bromo Anggrek, sampai menembus ke dalam gerbong belakang KRL. Sebanyak 16 penumpang KRL meninggal dunia.
Dalam konferensi pers bersama Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi di Stasiun Bekasi Timur, Rabu pagi (29/4/2026), Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin juga bersuara mengenai perlintasan sebidang.
Baca juga : Buntut Perang, Pengusaha Stres Dan Dilanda Ketakutan
Bobby mengingatkan, masyarakat agar tidak lagi membuat perlintasan liar di jalur kereta. Mengingat, keberadaan perlintasan itu membahayakan keselamatan perjalanan kereta maupun pengguna jalan.
Bobby menegaskan, perlintasan liar dapat mengganggu pandangan masinis saat mengoperasikan kereta. Kondisi ini berpotensi memicu kecelakaan, terutama di titik-titik yang tidak memiliki sistem pengamanan memadai.
“Ketika masyarakat membuat perlintasan liar, itu menghalangi visibility masinis. Ini sangat berbahaya,” tegas Bobby, dalam video yang diterima awak media sosial Rakyat Merdeka, dari Kementerian Perhubungan.
Bobby menjelaskan, perlintasan resmi yang dibangun Pemerintah atau PT KAI, tidak sekadar dilengkapi portal. Di dalamnya terdapat berbagai perangkat pendukung keselamatan, termasuk sensor yang terintegrasi dengan sistem perjalanan kereta. [DAF/DRS]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya