Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Agar Program Pemprov Sukses & Bukan Cuma Wacana
Pengurus RT & RW Perlu Dilatih Cara Olah Sampah
Jumat, 29 Mei 2026 06:25 WIB
Sebelumnya
Hal itu disampaikan seorang Ketua RT di Kota Administrasi Jakarta Selatan yang tidak bersedia ditulis identitasnya, saat ngobrol dengan reporter Rakyat Merdeka, Minggu (17/5/2026).
Dengan demikian, menurut sang Ketua RT, hingga hari itu, sampah masih diurus petugas sampah mandiri yang digaji per bulan oleh warga. “Masih seperti biasa,” katanya.
Berdasarkan pengamatan reporter Rakyat Merdeka, petugas sampah mandiri ini, sejatinya sudah melakukan pemilihan sampah organik (terurai) seperti sisa makanan, dan sampah nonorganik (tidak terurai).
Sampah non-organik antara lain botol plastik, gelas plastik, kaleng kue, kaleng minuman, besi keropos dan patahan batang aluminium, dijual ke lapak rongsokan. Selanjutnya, sampah non-organik itu dijual bos-bos lapak rongsokan ke berbagai pabrik. Oleh pabrik, sampah non-organik itu didaur ulang.
Baca juga : Crystal Palace Jawara Liga Konferensi, Kado Perpisahan Glasner
Namun, karena ketiadaan tempat, petugas sampah mandiri ini, tidak mengolah sampah organik (bisa terurai) menjadi pupuk. Melainkan, membawanya ke pool truk sampah berwarna oranye.
Selanjutnya, truk itu membawa sampah tersebut ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Untuk mengurangi sampah yang dibuang ke TPST Bantargebang, Pemprov DKI sudah mencanangkan Gerakan Pilah Sampah dari Rumah.
Gerakan ini bukan hanya memilah sampah non-organik yang bisa cepat dijual. Tapi juga mengolah sampah organik yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menjadi pupuk (kompos).
Baca juga : Gagal Di Singapore Open, Jonatan Alihkan Fokus Ke Istora
Suara masyarakat mengenai kendala gerakan ini pun sudah muncul. Namun, Ketua RT yang ngobrol dengan reporter Rakyat Merdeka, belum memastikan, apa saja kendala Gerakan Pilah Sampah dari Rumah. Karena, gerakan ini belum berjalan. “Baru sekadar potensi kendala,” katanya.
Potensi kendala itu, antara lain, banyak rumah warga Jakarta yang sangat kecil, saling berhimpitan di lingkungan padat penduduk, dan tidak memiliki pekarangan sama sekali.
Teras rumah yang kecil pun sudah dipakai untuk menjemur pakaian, memarkir motor atau sepeda dan barang-barang lainnya, sekaligus tempat menerima tamu. Mengingat, ruang tamu telah difungsikan sebagai kamar, karena saking kecilnya rumah petak seperti ini.
Sehingga, warga yang rumahnya kecil seperti itu, akan kesulitan tempat untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk. Atau, kesulitan tempat untuk mengumpulkan sampah non-organik, seperti botol plastik untuk dijual.
Baca juga : Perang Lawan Iran Bikin Stok Amunisi AS Menipis
“Kalau sudah ada pelatihan dari Kelurahan, saya mungkin bisa menjawab, bagaimana cara mengatasinya,” kata sang Ketua RT. [DRS/DAF/RAA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya