Dark/Light Mode

Penuh Fitur Ekstrem, JPO Dewi Sartika Ditutup Diganti Pelican Cross

Rabu, 9 September 2026 11:04 WIB
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. (Foto: Zahra/RM)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. (Foto: Zahra/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Fasilitas penyeberangan jalan di Jalan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur, mendadak viral di media sosial. Bukan karena kemegahannya, Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) ini justru disindir warganet sebagai salah satu destinasi "olahraga ekstrem" dan "uji nyali" paling menegangkan di ibu kota secara gratis.

Keluhan bermunculan setelah berbagai foto dan video kondisi JPO tersebut diunggah ke media sosial. Netizen dengan gaya satire khasnya menyoroti desain fasilitas publik tersebut yang terbilang unik sekaligus memicu adrenalin.

Salah satu fitur paling disindir warganet adalah posisi ujung tangga penyeberangan yang tidak berujung di trotoar, melainkan mendarat di tengah jalan raya.

Baca juga : Sebar Puluhan Ton Garam Di Langit, Pramono Pede Jakarta Diguyur Hujan Malam Ini

"Luar biasa inovasinya. Begitu turun tangga, bukannya selamat di trotoar, kita malah diajak main survival game berhadapan langsung sama bemper bus dan motor," tulis salah satu warganet di kolom komentar.

Selain desain akses turun yang melatih refleks pejalan kaki, kondisi fisik JPO juga tidak luput dari sorotan. Pagar pembatas yang hilang di beberapa titik, anak tangga berlubang, hingga untaian kabel utilitas yang menjuntai di sekitar jembatan dinilai menambah kesan estetika ala post-apocalyptic.

Beberapa pengguna medsos bahkan menyebut JPO Dewi Sartika sebagai tempat latihan parkour gratis bagi warga Jakarta Timur. Tak hanya itu, keberadaan fasilitas lift di dekat area PGC turut disindir warganet. Lift tersebut dianggap lebih mirip "monumen pajangan" ketimbang fasilitas disabilitas, lantaran lebih sering tidak berfungsi.

Baca juga : Pramono Rapikan Kabel Gatsu, Netizen Syok Takut Kena Macet Dan Jadi Tua di Jalan

Uniknya, di tengah keterbatasan fisik bangunan, JPO ini rupanya memiliki fungsi ganda bagi warga sekitar. Pembatas besi yang tersisa kerap dimanfaatkan sebagai area menjemur pakaian, membuat netizen menjulukinya sebagai "JPO paling ramah jemuran" di Jakarta.

Lantaran menyeberang lewat JPO terasa seperti melakoni simulasi benteng takeshi, mayoritas pejalan kaki kini lebih memilih nekat menyeberang langsung di bawah jembatan saat lampu lalu lintas berwarna merah.

Menanggapi keriuhan warganet, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung akhirnya angkat bicara. Pramono menagih komitmen pihak pengembang (KSO Fortuna Indonesia) yang pengerjaan fisiknya dianggap belum tuntas hingga memicu bahaya bagi warga.

Baca juga : PJJ Jakarta Resmi Berakhir, Emak-Emak Sujud Syukur Sekolah Normal Lagi Besok

"Tetapi sampai hari ini ternyata belum diselesaikan," ujar Pramono.
Guna menanggulangi jebakan wahana "uji nyali" tersebut secara mendesak, Pramono menginstruksikan Dinas Bina Marga DKI Jakarta untuk memasang pagar pengaman serta fasilitas pelican crossing. Langkah ini dilakukan agar warga tidak perlu lagi melakukan aksi nekat atau simulasi survival game saat hendak menyeberang ke trotoar.

Warganet pun berharap janji penataan dari Pemprov DKI dan pengembang segera terealisasi penuh, agar JPO Dewi Sartika kembali ke fungsi asalnya: menyeberangkan orang dengan aman, bukan sekadar menguji ketebalan mental pejalan kaki.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.