Dark/Light Mode

Tinjau Biodigester Rusun Rorotan

Ade Suherman Dorong CSR Untuk Solusi Sampah Dan Ketahanan Pangan

Selasa, 6 Oktober 2026 08:43 WIB
Anggota Komisi B DPRD Provinsi DKI Jakarta, H. Ade Suherman saat berkunjung ke Rusun Rorotan. Foto: Dok Ade Suherman
Anggota Komisi B DPRD Provinsi DKI Jakarta, H. Ade Suherman saat berkunjung ke Rusun Rorotan. Foto: Dok Ade Suherman

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota Komisi B DPRD Provinsi DKI Jakarta, H. Ade Suherman, mendorong perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) untuk memperkuat pengelolaan sampah mandiri dan ketahanan pangan masyarakat.

Dorongan tersebut disampaikan saat meninjau pengoperasian teknologi biodigester pengolah sampah organik komunal di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara.

Biodigester di Rusunawa Rorotan merupakan salah satu bentuk kolaborasi pendanaan CSR/TJSL dari badan usaha milik daerah (BUMD) dan pihak swasta untuk mendukung pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Dalam kunjungan tersebut, Ade mengapresiasi penerapan teknologi biodigester yang dinilai dapat menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah di kawasan permukiman padat penduduk.

Instalasi tersebut disebut mampu mengolah sekitar 250–500 kilogram sampah organik setiap hari.

Baca juga : Undana Perkuat Kemandirian Pakan dan Budidaya Ikan Karper di Desa Ekateta

“Sampah organik di masyarakat sebenarnya merupakan sumber daya yang bernilai jika dikelola secara terintegrasi. Sampah dapur rusun bisa diolah melalui biodigester menjadi biogas untuk kebutuhan warga dan menghasilkan pupuk. Pupuknya kemudian bisa dimanfaatkan untuk urban farming dan tanaman hidroponik warga,” ujar Ade dalam keterangan resminya, Senin (5/10/2026).

Karena itu, ia mendorong agar pendanaan CSR/TJSL perusahaan lebih diarahkan pada kebutuhan lingkungan yang memiliki dampak jangka panjang, termasuk pengolahan sampah organik dan penguatan ketahanan pangan warga.

“CSR jangan hanya diarahkan untuk kegiatan yang sifatnya sesaat atau karitatif. Kalau ada kebutuhan masyarakat yang jelas dan manfaatnya berkelanjutan, pengelolaan sampah dan ketahanan pangan seperti ini harus menjadi salah satu prioritas,” tegasnya.

Selain mendorong dukungan perusahaan, Ade meminta penguatan koordinasi antarorganisasi perangkat daerah (OPD), terutama antara pihak yang menangani pengelolaan sampah dan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta.

Ia menilai, hasil pengolahan biodigester berupa pupuk organik perlu terhubung dengan program urban farming dan penghijauan di lingkungan masyarakat. Dengan begitu, produk yang dihasilkan dari pengolahan sampah dapat dimanfaatkan secara optimal.

Baca juga : Komisi IV Minta Kementan Perkuat Irigasi Untuk Petani

“Harus ada konektivitas. Jangan sampai warga sudah mampu mengolah sampah dan menghasilkan kompos, tetapi tidak ada ekosistem yang menyerap hasilnya. Dinas KPKP bisa masuk melalui program urban farming, penyediaan bibit, sarana, pelatihan, sekaligus pemanfaatan kompos yang dihasilkan masyarakat,” kata Ade.

Ade juga menyoroti potensi pengolahan sampah organik langsung dari sumbernya untuk mengurangi volume sampah yang harus diangkut menuju TPST Bantargebang.

Menurutnya, semakin banyak sampah yang dapat diselesaikan di lingkungan masyarakat, semakin besar pula peluang untuk mengurangi beban pengangkutan dan pengolahan sampah di tingkat kota.

“Kalau sampah organik bisa selesai di sumbernya, kita mengurangi beban pengangkutan sekaligus mengurangi volume sampah yang dikirim ke Bantargebang. Ini harus menjadi bagian dari strategi besar pengelolaan sampah Jakarta,” ujarnya.

Ade menambahkan, berdasarkan kalkulasi teknis yang menjadi dasar program tersebut, biodigester yang mengolah hingga 500 kilogram sampah organik per hari berpotensi menghasilkan sekitar 37,5 meter kubik biogas per hari.

Baca juga : Panen Padi 15 Hektare, SRH Perkuat Ketahanan Pangan Di Giri Agung

Angka tersebut menggambarkan potensi pemanfaatan sampah organik sebagai sumber energi alternatif. Namun, hasil produksi biogas dan besarnya pengurangan emisi dalam pelaksanaan sehari-hari dapat bergantung pada karakteristik sampah, kondisi operasional biodigester, serta metode penghitungan yang digunakan.

“Indikator keberhasilan pengelolaan lingkungan Jakarta juga harus terlihat di tingkat RT, RW, dan rusun. Kalau masyarakat bisa mandiri mengolah sampahnya, kita bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi dan mengurangi beban anggaran daerah,” imbuhnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.