Dark/Light Mode

Meskipun Positivity Rate Di Bawah 1%

DKI Belum Bebas Ancaman Gelombang Ketiga Corona

Rabu, 13 Oktober 2021 07:00 WIB
Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman. (Footo: Dok. Pribadi)
Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman. (Footo: Dok. Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Warga Ibu Kota tetap harus waspada meskipun kasus Covid-19 mengalami penurunan tajam. Sebab, gelombang ketiga penularan Corona masih berpotensi terjadi di Jakarta.

Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menerangkan, kasus nol kematian tidak mencerminkan penularan virus Corona sudah terkendali. Hal itu baru indikator baiknya penanganan Covid-19 dari hulu ke hilir. Menurutnya, batas aman keberhasilan pengendalian penularan virus baru terlihat jika selama 28 hari berturut-turut tidak ada lagi kasus penularan dan kematian.

Berita Terkait : IDI Harap, Tak Ada Gelombang Ketiga Covid-19 Di Indonesia

“Kalau sudah 28 hari kondisi sama. Nol kasus dan nol kematian. Itu baru memberi kepercayaan diri. Kita yakin bahwa sudah ada perbaikan yang signifikan dan menetap. Kalau masih seminggu, apalagi kurang dari dua minggu, belum bisa kita pastikan. Potensi naik-turun masih ada,” papar Dicky dalam keterangannya, kemarin.

Berdasarkan data Senin (11/10), kasus positif Covid-19 terus menunjukkan penurunan. Kasus positif Covid-19 bertambah 620 kasus. Angka tersebut turun dibandingkan satu hari sebelumnya sebanyak 894 pasien. Jawa Tengah merupakan daerah penyumbang kasus Covid-19 tertinggi, sebanyak 97 pasien positif. Disusul oleh Jawa Barat dengan penambahan sebanyak 69 kasus. Sementara, posisi DKI Jakarta urutan ke-4, yakni dengan penambahan 41 kasus.

Berita Terkait : Pandemi Tak Usai Jika Kita Cuek, Lebih Baik Lebay Daripada Abai

Meski sudah di bawah 100 kasus per hari, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI diminta tetap mewaspadai potensi ledakan kasus di gelombang ketiga. Sebab, Jakarta merupakan pusat kegiatan masyarakat, baik sosial, ekonomi, dan politik. Meski paling baik progresnya, DKI justru paling rawan terjadi ledakan gelombang ketiga.

“Jakarta merupakan ibu kota negara. Di sini, orang keluar masuk dari berbagai daerah sehingga rawan terjadi penularan,” ingat Dicky.

Baca Juga : Jabar Sabet Emas Medali Voli Indoor Putra Dan Putri

Selain penambahan kasus Covid-19 harian di Ibu Kota yang rendah, persentase hasil tes positif atau positivity rate di bawah 1 persen. Teranyar, Senin (11/10), Dinas Kesehatan DKI mencatat ada penambahan harian sebanyak 41 kasus konfirmasi positif Covid-19 dari tes PCR terhadap 12.260 orang. Untuk kasus aktif di Ibu Kota tercatat sebanyak 1.464 orang. Jika dibandingkan satu hari sebelumnya, jumlah tersebut turun sebanyak 259 kasus.

Dengan angka itu, positivity rate di Jakarta selama sepekan terakhir tercatat hanya sebesar 0,7 persen. Angka itu sudah di bawah standar yang ditetapkan oleh WHO, yaitu positivity rate suatu daerah tak boleh lebih dari 5 persen.
 Selanjutnya