Dewan Pers

Dark/Light Mode

Peneliti: Kolaborasi Industri Dan Vokasi Masih Perlu Ditingkatkan

Jumat, 28 Januari 2022 20:02 WIB
Ilustrasi vokasi industri. (IST)
Ilustrasi vokasi industri. (IST)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kolaborasi antara industri dengan pendidikan vokasi masih perlu ditingkatkan. Lulusan pendidikan vokasi yang berdaya saing dan skillful dapat memenuhi kebutuhan industri akan pekerja yang kompeten dan mampu meningkatkan produktivitas industri.

Head of Education Unit Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Latasha Safira mengatakan, pendidikan vokasi seringkali terlupakan dan kurang mendapatkan perhatian.

Padahal lulusan pendidikan vokasi memiliki skill dan keterampilan yang memadai di bidang tertentu. Hal ini bisa menjadi nilai jual bagi para lulusannya.

"Dengan dukungan dari sektor industri, para lulusan pendidikan vokasi bisa menjadi pekerja terampil yang siap terjun di industri yang sesuai dengan keahliannya,” jelasnya.

Berita Terkait : Mahfud: Negara Lindungi Pembela HAM, Kalau Perlu Diberikan Fasilitas

Langkah Pemerintah dengan perumusan MoU antar kementerian (Kementerian Perindustrian, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dan Penididikan, Kementerian Tenaga Kerja dan Kementerian BUMN) sudah tepat tapi masih perlu ditingkatkan.

Misalnya pelibatan industri sebagai user dan penyedia lapangan kerja terkait kurikulum pendidikan vokasi. Pembukaan akses kepada industri, lanjutnya, juga penting supaya para lulusan pendidikan vokasi terserap oleh industri yang tepat.

Dalam Fokus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh CIPS, beberapa guru juga menyoroti pentingnya keterlibatan industri dalam pendidikan siswa.

Mereka berharap agar para pelaku industri dapat menyelenggarakan sesi informasi untuk mendemonstrasikan dan menguraikan keterampilan yang dibutuhkan siswa SMK untuk mendapatkan pekerjaan di industrinya masing-masing.

Berita Terkait : Kemenko PMK Ajak Masyarakat Perangi Stunting

Ini dapat membantu siswa menentukan cara yang tepat untuk meningkatkan kemampuan kerja mereka serta meningkatkan motivasi mereka untuk belajar.

“Dibutuhkan juga perubahan paradigma oleh para pemberi kerja dalam melihat kompetensi para lulusan. Perubahan paradigma sangat dibutuhkan untuk membuka akses mereka kepada industri yang memang membutuhkan keahliannya,” tambah Latasha.

Pendidikan akademik yang memberikan gelar S1 atau S2 dan seterusnya masih menjadi pilihan sebagian besar masyarakat. Hal ini berkontribusi pada sulitnya lulusan pendidikan vokasi mencari pekerjaan.

Persyaratan perekrutan karyawan baru yang ditetapkan oleh perusahaan atau institusi lebih mengutamakan lulusan yang mengantongi ijazah akademik ketimbang ijazah pendidikan vokasi.

Berita Terkait : Indeks Persepsi Korupsi 2021, Indonesia Peringkat 96 Dari 180 Negara

Menurut Latasha, Pemerintah perlu melibatkan Pemerintah Daerah lebih banyak lagi dalam penyusunan kurikulum karena dapat diarahkan untuk mengikuti dan mengangkat potensi industri di daerah masing-masing.

Pendidikan vokasi adalah pendidikan diploma yang memiliki fokus untuk memberikan ketrampilan dan keahlian sehingga para peserta pendidikan ini mampu menjadi tenaga professional yang ahli di bidangnya.

Para lulusan pendidikan vokasi akan mendapatkan gelar Diploma 1 (D1), Diploma 2 (D2), Diploma 3 (D3) dan Diploma 4 (D4).

Ilmu yang diberikan pada tingkatan pendidikan ini bersifat aplikatif, maka para lulusan pendidikan vokasi memang dirancang untuk siap bekerja. [FAZ]