Dewan Pers

Dark/Light Mode

Dosen Brawijaya Sebut Ganjar-Erick Potensial Didukung Parpol Pada 2024

Sabtu, 14 Mei 2022 21:06 WIB
Ganjar Pranowo dan Erick Thohir. (Foto: Istimewa)
Ganjar Pranowo dan Erick Thohir. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Duet Ganjar Prabowo-Erick Thohir dinilai masih berpotensi diusung oleh partai politik di Pilpres 2024 mendatang. Namun, untuk memantapkan langkah sebagai pasangan capres dan cawapres, keduanya harus bisa meningkatkan elektabilitas.

Dosen Ilmu Politik Universitas Brawijaya, Wawan Sobari mengungkapkan, partai politik tetap akan menggunakan elektabilitas sebagai salah satu acuan untuk mengusung capres dan cawapres. Contohnya seperti Joko Widodo saat akan diusung oleh PDI Perjuangan di Pilpres 2014 silam.

“Menurut saya, elektabilitas itu jadi hal yang penting. Elektebilitas jadi daya tarik dari parpol untuk mencalonkan kandidat, kita belajar dari 2014, Pak Jokowi belum punya partai, bahkan PDIP mau mencalonkan Megawati. Tapi elektablitas Jokowi tinggi, kan mau tidak mau akhirnya mendukung Jokowi,” katanya saat dihubungi, Sabtu (14/5).

Berkaca pada pengalaman tersebut, dia menyakini, peluang Ganjar untuk diusung oleh PDIP masih sangat terbuka. Mengingat, Gubernur Jawa Tengah itu terus masuk dalam tiga besar sejumlah survei.

Berita Terkait : Erick: Nggak Bisa Distop!

Mengenai kemungkinan Erick sebagai pendamping Ganjar, Wawan menerangkan, hal tersebut bisa saja teralisasi. Dia mengungkapkan, pada Pilpres 2019, Sandiaga Uno saat itu bukan merupakan kader partai namun mendapatkan dukungan mendampingi Prabowo.

Melihat fakta tersebut, dia menjelaskan, Erick Thohir masih akan menjadi pertimbangan partai politik untuk diusung.

“Erick tidak kesulitan untuk mencari kendaraan politik. Sekarang itu kekurangan cuman elektabilitas aja belum bagus. Tetapi dia punya modal kapital materi. Itu yang tidak dimiliki calon lainnya,” jelasnya.

Namun, dia mengingatkan, Erick Thohir masih memiliki pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam waktu dekat. Jangan sampai nantinya elektabilitas menjadi kendala untuk mengusung Menteri BUMN tersebut.

Berita Terkait : Jokowi Dan Megawati King Maker, Pengamat Sebut Prabowo-Puan Potensial Di Pilpres 2024

“Erick Thohir perlu kerja keras untuk meningkatkan elektabilitas dan membangun kemistri dengan Ganjar. Kalau Ganjar dan Erick Thohir di elite tidak susah, kalau di masyarakat harus diperhitungkan karena lebih banyak kedekatan emosional,” tutup Wawan.

Untuk diketahui, nama Ganjar dan Erick Thohir masuk dalam daftar calon nama presiden yang akan diusulkan Partai NasDem kepada Surya Paloh dalam rapat kerja nasional (Rakernas). Selain itu, keduanya juga masuk dalam bursa Rembuk Rakyat yang dilakukan PSI.

Sebelumnya, nama Erick Thohir yang dipasangkan sebagai pendamping calon presiden terbilang mendongkrak persentase elektabilitas Capres. Hal itu terlihat dalam hasil survei simulasi tiga pasangan Pilpres yang dilakukan Lembaga Indikator Politik Indonesia.

Misalnya, Anies-AHY 27,4 persen Vs Ganjar-Erick 32,2 persen versus Prabowo-Puan 28,7 persen. Kemudian Anies-AHY 27,1 persen Vs Ganjar-Airlangga Hartarto 29, 7 persen versus Prabowo-Erick 31 persen. Selanjutnya, Anies-AHY 29,2 persen Vs Ganjar-Puan 26,9 persen Vs Prabowo-Erick 31,8 persen.

Berita Terkait : Usai Lebaran, Sahabat Ganjar Banjir Dukungan Menangkan GP Di Pilpres 2024

Tidak ketinggalan simulasi Anies-Erick 26,2 persen Vs Ganjar-Airlangga 31,2 persen Vs Prabowo-Puan 29,4 persen.

"Untuk simulasi dua pasangan, nama Anies-Erick 41,1 persen Vs Prabowo-Puan 38,9 persen. Ganjar-Erick 41,8 persen Vs Prabowo-Puan 39 persen. Ganjar-Puan 33,1 persen Vs Prabowo-Erick 47,5 persen. Ganjar-Anies 44,1 persen Vs Prabowo-Erick 39,7 persen," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi.

Untuk diketahui Indikator Politik Indonesia melakukan survei secara tatap muka pada 11 Februari - 21 Februari 2022. Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

Penarikan sampel menggunakan metode multistage random sampling. Dalam survei ini jumlah sampel basis sebanyak 1.200 orang. Sampel berasal dari seluruh Provinsi yang terdistribusi secara proporsional. Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel basis 1.200 responden memiliki toleransi kesalahan (margin of error--MoE) sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. (MRA)