Dewan Pers

Dark/Light Mode

Perlu, Desain Perlindungan Anak dari Virus Intoleransi dan Radikalisme

Jumat, 22 Juli 2022 15:56 WIB
Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Prof Seto Mulyadi (Foto: Istimewa)
Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Prof Seto Mulyadi (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Radikalisme kerap ditanamkan sejak dini kepada anak-anak, baik di lingkungan sekolah, pertemanan, maupun keluarga. Proses radikalisasi di usia dini sengaja dilakukan pihak-pihak tertentu karena anak memiliki daya reseptif kuat dalam menerima berbagai hal baru. Untuk itu, diperlukan desain perlindungan yang massif bagi anak agar terhindar dari virus intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Prof Seto Mulyadi atau akrab dipanggil Kak Seto mengatakan, desain perlindungan yang terbaik bagi anak dari virus tersebut adalah dengan menanamkan nilai-nilai toleransi dan keberagaman sejak dini kepada anak.

“Dengan menanamkan pada anak-anak bahwa setiap anak itu berbeda, unik, otentik dan tak terbandingkan. Sehingga anak-anak itu dari kecil belajar dan diajarkan untuk saling menghargai perbedaan,” ujar Kak Seto, di Jakarta, Jumat (22/7).

Menurutnya, dengan cara demikian maka setelah dewasa, anak tidak akan memaksakan kehendaknya atau keinginannya sendiri. Anak akan bisa menghargai pandangan dan perbedaan-perbedaan yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Berita Terkait : Ketua DPRD Sambut Baik Peluang Investasi Korea di Jakarta

Ia menambahkan, ketika virus radikalisme dan intoleransi ini ditanamkan pada anak sejak usia dini, mereka akan menerima pandangan-padangan yang keliru mengenai persatuan bangsa. Hal ini sangat berbahaya.

Kak Seto melanjutkan, saat ini, kelompok radikal kerap menarget anak-anak untuk dicekoki. “Para radikalis itu memang menuju ke anak-anak. Anak-anak ini sangat mudah untuk dipengaruhi, dibohongi, diputarbalikkan dan sebagainya yang seolah-olah sebagai suatu yang penuh dengan kasih sayang,” jelas Kak Seto.

Yang membuat miris, hal tersebut terjadi di semua lapisan. Baik pendidikan formal, pendidikan informal dalam keluarga, maupun pendidikan non-formal yang ada di lingkungan. "Tentunya ini yang harus diwaspadai dalam memilih sekolah atau lembaga pendidikan agar para orang tua tidak salah pilih dalam menyekolahkan anak-anak kita,” ujar Guru Besar bidang Ilmu Psikologi Universitas Gunadarma ini.

Untuk memaksimalkan perlindungan anak, sambungnya, perlu juga ditanamkan rasa percaya diri, bersyukur, dan menghargai diri sendiri serta orang lain agar tidak mudah terbawa pengaruh virus radikalisme. Untuk itu, di dalam keluarga, orang tua disarankan tidak memaksakan suatu prestasi tertentu pada anak. Orang tua harus paham dan menghargai bahwa setiap anak cerdas pada bidangnya masing-masing.

Berita Terkait : Parsindo Ajak Partai Mahasiswa Indonesia Kawal Agenda Reformasi

Kak Seto melanjutkan, LPAI telah melakukan upaya nyata guna melindungi anak dari paham radikalisme. Yaitu dengan memberikan penyuluhan bagi para orang tua, guru, dan remaja mengenai pentingnya membangun karakter anak sejak dini, yaitu karakter profil pelajar Pancasila.

“Pertama, akhlak mulia, kemudian kebhinekaan global. Anak-anak dituntun untuk dapat mempertahankan budaya luhur, lokalitas, dan identitas. Namun tetap berpikiran terbuka ketika berinteraksi dengan budaya lain,” ucapnya,

Kemudian, lanjut Kak Seto, gotong royong, mandiri, dab kritis. Anak-anak diharapkan akan dapat mengasah kreativitas dengan menerapkan pemikiran kritis, kemudian diolah menjadi inovasi baru yang bermanfaat bagi banyak orang, dan terakhir kreatif.

Selain itu, LPAI juga aktif mengadakan seminar, webinar, dan talkshow. Hal itu dilakukan dengan bekerja sama dengan beberapa Kementerian dan Lembaga, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Juga dengan lembaga-lembaga pendidikan negeri maupun swasta serta bersama LPAI yang ada di daerah.

Berita Terkait : Waah, Perdagangan Indonesia- Swiss Perdana Naik 55 Persen

Guna memaksimalkan upaya LPAI dalam perlindungan anak dari virus radikalisme, pihaknya juga akan bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai stakeholder dalam penaggulangan paham radikal, terorisme dan intoleransi di Indonesia. “Bagaimana pun juga kita semua wajib untuk melindungi anak-anak kita dari paham berbahaya tersebut demi mewujudkan anak-anak yang nantinya dapat memajukan dan membangun negeri ini,” pungkas Kak Seto.■