Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kondisinya Masih Trauma

Istri Sambo Sering Tidur Selimutan

Minggu, 31 Juli 2022 08:03 WIB
Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi Pasaribu. (Foto: Antara)
Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi Pasaribu. (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Istri mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi menjadi salah satu saksi kunci dalam kasus penembakan Brigadir J. Namun, sudah sampai tiga pekan, dia belum juga nongol ke publik. Spekulasi pun bermacam-macam. Ada yang bilang, dia babak belur. Namun, spekulasi itu dipatahkan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Kata mereka, Putri masih trauma. Saking traumanya, sampai saat ini istri Sambo masih sering tidur selimutan. 

Hal tersebut dikatakan Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi Pasaribu kepada wartawan, Jumat (29/7).

Edwin mengatakan, LPSK berkepentingan mewawancari Putri karena istri Sambo itu, mengajukan permohonan untuk dilindungi, atas dugaan kasus pelecehan seksual yang dialaminya. Dalam laporannya, dugaan pelecehan seksual tersebut yang memicu terjadi baku tembak yang menewaskan Brigadir J di rumah dinas Sambo, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (8/7). 

Namun sayangnya LPSK kesulitan mewawancarai Putri lantaran kondisinya masih terguncang. "Masih suka nangis. Jadi, masih tidur di ranjang dengan selimut, tidak pakai make up," kata Edwin.

Berita Terkait : Mba Puan, Alon-alon Semoga Kelakon…

Dia juga menyebutkan, pihaknya tidak menemukan luka fisik di tubuh Putri. "Tidak ada, secara fisik tidak nampak luka-luka," lanjutnya.

Apakah akan ada pemeriksaan ulang? Edwin mengaku sudah dijadwalkan. Tapi dirinya enggan membeberkan waktu pemeriksaan tersebut. "Kami panggil ke kantor. Untuk hari, ya, masih rahasia karena menjaga privasi dari pemohon," ujar pria berlatarbelakang pengacara itu. 

Hal senada dikatakan Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo. Kata dia, belum ada perkembangan signifikan terkait permohonan perlindungan Putri. Seharusnya Rabu (27/7) lalu, LPSK melakukan pendalaman permohonan perlindungan istri Sambo. Ternyata pengacara mengatakan belum bisa.

“Ibu Putri masih syok. Kemudian Bharada E sekarang ditarik ke Brimob, di Mako. Jadi, kalau ada apa-apa harus lewat Brimob," urai Hasto. 

Berita Terkait : Moeldoko: Masyarakat Masih Ragu Pakai Kendaraan Listrik Karena Kurang Edukasi

Dia berujar, pihaknya telah meminta bantuan Brimob untuk bertemu dengan Bharada E. "Kemudian kami sampaikan tolong kami dibantu untuk bisa berkomunikasi dengan Bharada E agar kami bisa melakukan pendalaman atas permohonan dia," imbuh dia. 

Sementara Kuasa Hukum Putri, Patra M Zen meminta publik tak berasumsi negatif dan terus-menerus menghakimi kliennya. "Tanyakan kepada korban perempuan yang pernah mengalami kekerasan seksual, betapa ia mengalami penderitaan karena dihakimi oleh komentar negatif masyarakat. Ini yang sekarang dialami oleh klien saya," ucap Patra. 

Saking traumanya, hingga kini Putri masih membutuhkan pendampingan tim psikolog yang ditunjuk Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (Apsifor). Selain melakukan pendampingan, tim psikolog juga melakukan stabilisasi emosi, konseling hingga psikoterapi. 

"Perempuan korban kekerasan itu tidak mengenal latar belakang suku, ras, jabatan atau kondisi ekonomi," tandas dia. 

Berita Terkait : Prof Didik: Pemerintah Kudu Perkuat Ketahanan Ekonomi

Kondisi Putri berbanding terbalik dengan Sambo. Diakui Komisioner Kompolnas, Yusuf Warsyim, kondisi jenderal bintang dua termuda itu, saat ini baik-baik saja dan sedang bersiap diri. Sambo juga terus memantau perkembangan kasus ini. "Kondisinya dia memantau, dia melihat, memantau perkembangannya, dan bersiap diri barangkali untuk terus dimintai konfirmasi, kondisinya kan seperti itu," tutur Yusuf. 

Di sisi lain, Komnas HAM akan segera memeriksa Aide De Camp (ADC) alias ajudan Sambo yang sebelumnya berhalangan hadir untuk memberikan keterangan terkait kematian Brigadir J. "Kemarin itu kan masih ada yang di luar kota," sebut Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam, kemarin. 

Enam ajudan Sambo termasuk Bharada E sebelumnya telah diperiksa Komnas HAM, Selasa, 26 Juli lalu. Namun, satu orang ajudan pada hari tersebut tidak memenuhi pemeriksaan oleh lembaga HAM tersebut. Tidak hanya ajudan, Komnas HAM juga akan memeriksa orang-orang yang berada di sekitar lingkup Sambo dan Putri. Tujuannya untuk mengumpulkan sejumlah informasi atau keterangan yang dibutuhkan.

Setelah memeriksa ajudan dan orang-orang yang terkait dengan Sambo termasuk Putri Candrawathi, Komnas HAM mengagendakan pemeriksaan uji balistik dan hal lainnya. "Supaya dapat mendukung proses penyelidikan kematian Brigadir J," cetusnya.