Dark/Light Mode

Identitas Kebangsaan dan Indonesia Emas

Kamis, 27 Juni 2024 13:31 WIB
Ilustrasi: siMonalis.com
Ilustrasi: siMonalis.com

Menarik untuk ditelaah secara mendalam tulisan Mohammed Ali Berawi (Kompas, 6/4/2024) berjudul "IKN Nusantara dan Indonesia Emas 2045". 

IKN Nusantara dirancang sebagai kota global yang layak huni dan dicintai, IKN Nusantara dibangun dengan visi menjadi kota modern masa depan yang hijau, berketahanan, berkelanjutan, cerdas dan inklusif sebagai simbol transformasi dan kemajuan peradaban Indonesia. 

Uraian di atas disinyalir sebagai peradaban berkarakter, salah satunya melalui produksi (ruang) arsitektur. Pembacaan ini melihat perspektif (politik) identitas (kebangsaan) dan persilangannya dengan (ruang) arsitektur dan waktu (sejarah) juga aspek sosial-politik pada gugusan arsitektur di dalamnya. Kemudian, mengapa representasi konsep (politik) beridentitas sebegitu penting?. 

Akan hal ini, secara diakronik, mengenangkan kebiijakan politik era demokrasi terpimpin 1959-1966. Bung Karno, menginginkan Indonesia menjadi mercusuar kekuatan baru yang muncul (identitas Indonesia baru). Bung Karno, pada dasarnya ingin harga diri bangsa kembali bangkit, terangkat setelah hancur di era kolonialisme. 

Lipatan Komoditas

Kota adalah artefak terbesar dari percampuran aspirasi budaya manusia. Struktur dan rupa kota yang bercerita tentang kompleksitas persilangan identitas masyarakatnya. Yang tidak terasa adalah, bagaimana kapitalisme mendeformasi kota berdasarkan strata sosialnya. Kaum miskin tinggal di lokasi kumuh, sementara kaum berpunya tinggal di lokasi mahal, berdensitas rendah.

Teori lokasi ini, biasanya sebangun dengan jenjang sistem produksi ekonomi kapitalis yang dianutnya. Akibatnya, konsep social mixed income dan mixed density di Bijlmermerr, Belanda (1992) atau kota-kota di Skandinavia lainnya menjadi terasa asing. Melipat ruang kota sebagai komoditas, gejala gated-community dan suburbanisasi adalah jejak lazim kapitalisme dalam wajah kota.

Rancangan memproduksi identitas kolektif melalui produksi (ruang) arsitektur (kota) seperti Soekarno juga terjadi di Mesir era Anwar Sadat. Dia terobsesi menampilkan identitas Kairo baru ke hadapan dunia. Dengan slogannya open door policy (infitah), mengatasnamakan modernisasi dan dolar turisme internasional, "mengusir" belasan ribuan jiwa penduduknya dari jantung kota Kairo.

Identitas kelompok berdasarkan ras dan etnis masih banyak ditemui dalam struktur kota yang seharusnya bersifat kosmopolitan. 

Dalam arsitektur kota, penggambaran seperti Chinatown adalah contoh identitas ras "kuning" yang hadir di banyak kota-kota besar dunia. Litte India, Arab Street di Singapura dan Little Italy bagi imigran Italy di Manhattan adalah contoh segregasi kota berdasarkan ras. 

Lapisan identitas masyarakat berdasarkan gaya hidup juga terekam seperti di Eropa bahkan Amerika, kelompok identitas masyarakat ini, dapat ditemukan pada Distrik Soho di London dan Distrik Castro di San Francisco.

Dolores Hayden, memotori gerakan moral mendefinisikan kota-kota di Amerika yang cenderung berorientasi patriarkis. Jarangnya fasilitas penitipan anak, transportasi urban tak nyaman bagi kaum perempuan, desain perkotaan tak defensible menyebabkan kaum perempuan kesulitan beraktivitas produktif seperti halnya kaum laki-laki. 

Suburbanisasi berhasil "membuang" perempuan hanya mengurus rumah tangga. Gerakan ini sempat menghentikan program urban renewal, mempertanyakan ulang konsep suburbanisasi dengan mengangkat isu-isu feminisme dalam melimpahnya akar pembangunan kapitalisme konteks kota Amerika.

Konteks Indonesia, menghadapi "muntahan" perkembangan kapitalisme. Sebab iklim globalisasi dapat hadir dan bebas mengalir. Mungkin, kota Yogya yang mempunyai "budaya tanding", mengungkapkan banyak orang berimajinasi tentang kemungkinan model gaya hidup Yogya sebagai purwarupa tandingan gaya hidup yang semakin global. Kesederhanaan gaya hidup masyarakat Yogya, bukanlah indikasi kota ini tidak bergerak maju. 

Pengembangan kawasan pendidikan dan pariwisatanya telah membawa kuantitas persoalan sebagai dampak tidak langsung urbanisasi. Bersama lajunya perkembangan kawasan pendidikan dan pariwisata terus tumbuh. Tetapi, perkampungan tradisionalnya tetap kental (bestari) pada kawasan sekitar pusat-pusat kesibukan kota. Kuncinya, pada kesederhanaan yang menunjukkan identitas budaya yang signifikan.

Identitas adalah cara merawat "karakter" dan "sifat beda" kita dari gaya hidup, strata sosial, agama, usia, etnis, panji-panji kelompok, orientasi seksual, umumnya jadi referensi penting sebagai eksistensi identitasnya. Memahaminya, perlu cermin pembanding. Kehadiran "mereka" sebagai pembanding berbeda, menjadi penting memahami siapakah adanya "kita".

Max Weber dalam The City (1921), merumuskan identitas masyarakat urban dunia dalam dikotomi "Occidential vs Oriental". Baginya, identitas "occidential" (Barat) merupakan kebalikan dari yang menjadi ciri "oriental". Daripada memahami "Timur" sebagai gugusan sistem hidup saling melengkapi. "Barat" justru mengukuhkan identitasnya dengan menengarai "Timur" dengan segala keburukannya.

Hal itu, persis kesimpulan psikiater Belanda P.H. Travaglino (1920), bahwa identitas orang Jawa dewasa umumnya masih bersifat kinderlijk niveau. Hasil kajian ilmiah ini digunakan Belanda sebagai "alat pembenaran" untuk memperpanjang kolonialismenya di bumi Nusantara. Sebuah paradigma filosofis yang terus digedor dalam diskursus postcolonial.

Kota Manusiawi

Pembacaan lapisan karakter identitas yang hadir haruslah dibaca sebagai keanekaragaman guna memperkaya budaya, memperunik gugusan arsitektur di IKN Nusantara secara global. Rapoport dalam Tata Ruang Perkotaan (Prof. Ir. Eko Budihardjo M.Sc. 1997), mengistilahkannya sebagai "Cultural Landscape" dengan keragaman karakteristik, sifat, kekhasan, keunikan, kepribadian. 

Penekanannya adalah budaya dari berbagai kelompok masyarakat dan mempengaruh dari tata nilai, norma-norma, gaya hidup, kegiatan dan simbol yang dianut terhadap penataan dan bentuk pembangunan IKN yang merupakan "melting pot" pluralisme budaya Nusantara, sebagai dasar identitas bangsa serta respons ragam keunikan untuk mewujudkan kota berskala manusiawi. Diperlukan regulasi perkotaan, yang tak hanya memacu pertumbuhan ekonomi dan mewadahi aspirasi masyarakat, sehingga tak menimbulkan kompleksitas dan kontradiksi.

Sebab, homogenitas kaku seragam dan heterogenitas kenyal beragam, merupakan bentuk yang mudah pemberiannya, tetapi sulit pengejawantahannya. Mengatasi persoalan itu, disarankan suatu bentuk perencanaan "open ended" yang menentukan bagian-bagian tertentu dari sistem kota agar memberikan peluang bagian-bagian lainnya (termasuk yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya) bergerak secara spontan.

Strategi perencanaan yang luwes, terintegrasi menyeluruh dan berkelanjutan, memungkinkan penjabaran nilai, kebutuhan dan gaya hidup yang berbeda-beda dalam sebuah lingkungan yang dinamik. Sehingga, kelompok penghuni barunya yang berdatangan, dapat dengan mudah  menyesuaikan diri membentuk kembali kreatif ruang, waktu, makna dan komunikasinya.

Berbeda bukan berarti ancaman. Berbeda merupakan pluralitas keunikan Nusantara. Kita, dapat hidup lebih baik dengan mengencangkan toleransi dan tepo seliro, bahkan menggunakan IKN Nusantara menjadi sebuah laboratorium hidup jangka panjang. Anggapan ekspansi individual atau kelompok, jika dibiarkan akan menciptakan kekacauan, ketidakteraturan, pada realitasnya perencana dan pelaksana yang "down to the last detail" tidak hanya mungkin, sebab banyak hal muncul tiba-tiba di luar perkiraan sebelumnya. 

Kejadian dan perubahan, ekspresi juga improvisasi adalah faktor, yang justru memanusiawikan lingkungan, layak diintegrasikan dalam perencanaan, pelaksanaan pembangunan, pengelolaan kotanya menyeluruh, sebagai praktik pembangunan bersifat inklusif dan berkelanjutan secara multi-sektoral, sebagai respons  permasalahan, ketimpangan sosial ekonomi dan ancaman krisis lingkungan agar menghasilkan kreativitas peradaban, adil, setara, dalam peningkatan kopetensi berdaya saing global menuju Indonesia Emas. (*)
































Baca juga : Southgate Ditimpuk Gelas























































Baca juga : Rangkaian HUT Ke-78, BNI Bantu Pencapaian Target NZE Indonesia























































Baca juga : Dorong Partisipasi Pemuda, Uni Eropa Resmikan Youth Sounding Board Indonesia






















































noufal riri hananta
noufal riri hananta
Arsitek Profesional, Penulis, Pemerhati Sosial-Politik-Budaya dan Perkotaan

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.