Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Indonesia Wajib Siap Hadapi Potensi Perang Modern Dan Multikrisis
Kamis, 12 September 2024 09:49 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pengamat Pertahanan Dina Hidayana mengingatkan Pemerintah dan para elit turut melakukan pendalaman persoalan pertahanan Indonesia menghadapi perang modern.
Jangan sampai, gelaran kontestasi pesta demokrasi yang digelar secara maraton, mulai dari Pileg, Pilpres, dan kini menuju Pilkada 2024, mengabaikan substansi masalah bangsa.
"Sehingga mengabaikan kepekaan dalam menghadapi ketidakpastian global dan resiko turbulensi yang semakin curam dan berpotensi membahayakan bangsa dalam jangka panjang," kata Dina, dalam keterangannya, Kamis (12/9/2024).
Alumnus Doktoral Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan (Unhan) ini berharap, pesta demokrasi bisa menghasilkan ide dan gagasan calon pemimpin untuk memitigasi wilayah di Indonesia menghadapi persoalan pertahanan seperti ancaman perang terbuka dan asimetris.
Baca juga : Indonesia Vs Australia, Tim Garuda Siap Jegal Kanguru
Dijelaskannya, saat ini terjadi pergeseran era VUCA yang merupakan kependekan dari volatility (volatilitas), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas), dan ambiguity (ambiguitas). Menuju TUNA atau turbulency (turbulensi), uncertainty (ketidakpastian), novelty (kebaruan), ambiguity (ambiguitas).
"Perlu diwaspadai dan diantisipasi secara detil dan cermat agar Indonesia tidak terjebak dalam multikrisis dan efek perang modern," katanya.
Menurutnya, tanpa upaya pencegahan yang serius melalui reformulasi rancang bangun sistem strategi perencanaan, proyeksi ancaman dan pengawasan memadai, maka ancaman kekacauan di depan mata.
Putri (Alm) Mardani Akabri ‘74 ini memetakan, sebuah Negara yang lemah dalam kepemimpinan dan pengelolaan sumber daya nasional akan sulit menghadapi masalah keamanan dunia.
Baca juga : Hong Kong Open, Jorji Langsung Hadapi Perang Saudara
Saat ini, dinamika global terjadi. Dari konflik Rusia-Ukraina, penguatan Blok Barat dan Blok Timur, pertarungan hegemoni Amerika dan Tiongkok, hingga serangan siber ke berbagai institusi Pemerintah.
"Pemimpin visioner yang mampu mengolaborasikan kekuatan dalam menghadapi masa damai dan masa perang adalah jawabannya," tegas Dina.
Menurutnya, menghadapi multikrisis seperti krisis pangan, air, energi ataupun finansial serta masifnya dampak perubahan iklim dan ketidakpastian global di era VUCA dan TUNA, tidak bisa lagi dihadapi dengan cara biasa.
Perlu ide-ide revolusioner yang bertumpu pada pemanfaatan sumber daya nasional secara efektif efisien yang dipadukan dengan kepentingan nasional dan tujuan bernegara.
Baca juga : Presiden Nonton Meski Ngantuk
"Skenario apa yang telah disiapkan para pemimpin di semua tingkatan, baik nasional maupun level daerah dalam memitigasi resiko ancaman global dan domestik? Masyarakat menantikan solusi kongkrit para pemimpin ketimbang polemik politik yang menguras energi dan dominan mudharat," sebutnya.
Dina memandang, adagium “si vis pacem, para bellum”, yang artinya jika menginginkan damai maka bersiaplah perang masih relevan dengan strategi pertahanan kontemporer.
Asumsinya, kondisi masa damai justru lebih rumit dibandingkan masa perang, mengingat “war time” hanya berfokus pada pelaksanaan dan kemenangan perang tanpa mengindahkan efisiensi.
Sementara, “peace time” analisanya, menuntut efisiensi dan efektivitas pemanfaatan sumber daya nasional yang terbatas, baik itu SDM maupun SDA untuk eksistensi berkesinambungan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya